Skrening Masuk RI

foto ilustrasi

Pemerintah meningkatkan kewaspadaan dengan membatasi pintu masuk ke Indonesia. Pembatasan dilakukan pada perjalanan lintas negara melalui udara, laut, dan darat. Terutama waspada terhadap varian CoViD-19 baru (SARS-2 Mu, dan Lambda) dari Kolombia yang telah menyebar ke 39 negara. Termasuk di Malaysia, tetapi belum ditemukan di Indonesia. Perlu waspada di pintu masuk perjalanan internasional, mencegah pandemi “gelombang ketiga.”

Pembatasan kedatangan dilakukan secara sistemik, masih menutup seluruh bandara (internasional) yang ada di Indonesia. Tak terkecuali bandara internasional yang sibuk, Ngurah Rai, Bali. Pintu kedatangan internasional hanya dibuka di bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, dan bandara Sam Ratulangi, Manado. Terdapat 6 checkpoint yang harus dilalui setiap penumpang dari luar negeri. Berlaku terhadap WNI (Warga Negara Indonesia) yang pulang dari luar negeri. Serta WNA yang berkunjung.

Beberapa tahapan checkpoint penting, adalah menunjukkan hasil (negatif) uji swab Antigen, dan PCR dari negara asal, maksimal 3 hari sebelum keberangkatan. Berlanjut menjalani uji swab ulang di bilik area kedatangan bandara Indonesia (bandara Soetta atau Sam Ratulangi). Selanjutnya diantar petugas bandara dengan bus menuju lokasi karantina. Yang dikarantina bukan hanya penumpang, melainkan juga awak penerbangan.

Dengan persyaratan 6 checkpoint plus karantina selama 8 hari, niscaya memberatkan maskapai penerbangan asing. Sehingga WNI yang ingin pulang ke Indonesia akan mengalami kesulitan. Harus menunggu maskapai dari Indonesia yang pulang balik. Hampir seluruh negara di dunia telah membuka diri untuk kedatangan pesawat dari Indonesia. Termasuk ke Arab Saudi untuk perjalanan umroh. Sehingga akan terdapat maskapai Indonesia melayani penerbangan ke luar negeri.

Pembatasan kedatangan orang dari luar negeri diinstruksikan presiden Joko Widodo, dituangkan dalam Surat Edaran Kementerian Perhubungan. Sebagai antisipasi pencegahan masuknya varian baru CoViD-19, dikenal denagn identifikasi B.1.621. Konon masih bisa menyusup walau sudah menjalani vaksinasi. Pada awal pewabahan CoViD-19 (Maret 2020). Korps Perhubungan terlambat mengantisipasi. Lalulintas penerbangan internasional belum ditutup.

Saat ini sebanyak 32 bandara yang dibawahkan PT Angkasa Pura (AP) I, dan AP II, masih tidak melayani penerbangan umum komersial (penumpang). Begitu pula lalulintas laut hanya melalui pelabuhan Sri Bintan, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Seluruh Syahbandar (sampai pelabuhan rakyat) diwajibkan mengendalikan operasional kapal yang datang (dengan bendera asing) Sedangkan pintu masuk di darat hanya melalui kota Nunukan.

Waspada varian baru perlu dilakukan mencegah keparahan pandemi berulang (gelombang ketiga). Varian baru dideteksi WHO sejak akhir Agustus 2021, masuk dalam Variant of Interest (VoI). Konon pula, Mu B.1.621 yang dijejaki di Inggris, “lebih menyukai” kalangan milenial yang berusia di bawah 30 tahun. Namun epidemiolog seluruh dunia masih meyakini vaksinasi bisa mencegah keparahan dampak yang diakibatkan varian baru.

Pembatasan di pintu masuk negara menjadi wewenang pemerintah, berdasar UU Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Pada pasal 11 ayat (1) dinyatakan, “Penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan pada Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dilaksanakan oleh Pemerintah Pusat secara cepat dan tepat berdasarkan besarnya ancaman, efektivitas, dukungan sumber daya, dan teknik operasional … .”

Pada masa pandemi setiap nakhoda moda transportasi laut di seluruh dunia telah mengenal isyarat tanda khusus. Wajib dipasang bendera pada tiang tertinggi kapal, manakala terdapat penumpang yang terindikasi terkena wabah. Informasi yang sama juga berlaku pada moda transportasi udara. Pilot wajib memberitahu petugas di bandara tujuan landing, manakala terdapat penumpang yang tiba-tiba menunjukkan gejala penyakit menular.

——— 000 ———

Rate this article!
Skrening Masuk RI,5 / 5 ( 1votes )
Tags: