Smamda Ajak Siswi Australia Tanam 100 Pohon di Mangrov

Para siswa Australia didamping guru pendampingnya Ruci Utami Dewi dan siswa SMA Muhammadiyah 2 Surabaya didamping para gurunya, menanam 100 pohon di Mangrov Wonorejo, Surabaya. [trie diana]

Tanamkan Kepedulian pada Lingkungan
Surabaya, Bhirawa
SMA Muhammadiyah 2 (Smamda) Surabaya menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, dengan mengajak siswanya dan tiga siswi asal Australia yang mengikuti Program Pertukaran Pelajar, untuk menanam 100 pohon di Mangrov, Wonorojo, Surabaya.
Ketiga siswi peserta Program Pertukaran pelajar ini dari Goulburn Valley Grammar School Shepparton, Vicoria, Australia yakni Djembe Archibald (kelas X), Ayla Jackson dan Zoe De Paola (kelas XI). Secara simbolis diajak Kepala Smamda, Ustadz Astajab, untuk menanam Pohon Tubebuya di halaman sekolah.
Menurut Ustadz Astajab, siswa Smamda bersama tiga siswa Goulburn Valley Grammar School Shepparton, Victoria, Australia yang belajar di Smamda dalam rangka pertukaran pelajar ini diberikan kepedulian terhadap lingkungan. Mereka diajak menanam pohon Tubebuya di halaman sekolah dan diajak menanam 100 pohon di Mangrov Wonorejo, Surabaya.
“Agar para siswa Smamda dan siswi asal Australia ini mempunyai kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, maka kami mengajak mereka menanam pohon. Secara simbolis menanam pohon Tubebuya di halaman sekolah dan secara umum menanam 100 pohon di Mangrov Wonorejo, Surabaya,” kata Ustadz Astajab.
Ustadz Astajab menjelaskan, selain diajak untuk menanam pohon di sekolah dan di Mangrov, tiga siswa Australia ini juga dikenalkan dengan tradisi – tradisi yang ada di Indonesia secara umum dan Kebudayaan Jawa pada khususnya. Diantaranya, di sekolah yang telah memiliki galeri membatik mereka diajari cara dan tehnik membatik, sebab batik sebagai kesenian asli Indonesia telah diakui Unesco. Selain itu, mereka juga diajari Pencak Silat Tapak Suci sebagai Beladiri Khas Muhammadiyah.
Ustadz Astajab menegaskan, kegiatan menanam pohon ini juga sebagai bentuk aksi simpatik siswa Smamda terhadap Negara Australia dan siswa Australia yang saat ini hutannya terbakar hebat karena musim panas di Negara Kanguru itu. ”Kami membudayakan untuk cinta dan peduli pada lingkungan dan saat ini ada kebakaran hutan di Australia. Maka kami mengajak para siswa agar memiliki kepedulian, salah satunya dengan menanam pohon ini baik di lingkungan sekolah maupun di Mangrov,” tandasnya.
Ketiga siswi Australia itu akan mengikuti Program Pertukaran Pelajar selama sepekan yakni sejak 11 Junuari hingga 17 Januari kedepan. Selama di Surabaya mereka tinggal di rumah para siswa Smamda. Dengan harapan mereka mengetahui tradisi dan budaya hidup sehari – hari di Kota Surabaya, serta bisa belajar Bahasa Indonesia kepada para siswa Smamda dan keluarganya. Selain itu, juga diajak melihat House of Sampurna, Jembatan Suramadu, Kenjeran Park dan keliling Kota Surabaya. Yang paling seru dan menyenangkan para siswa diajak membuat rujak yakni makanan khas Kota Surabaya.

Masalah Lingkungan Menjadi Topik Bahasan
Guru Pendamping yang juga guru Bahasa Indonesia Ruci Utami Dewi yang mendampingi siswanya menjelaskan, Program Pertukaran Pelajar ini menjadi agenda rutin Goulburn Valley Grammar School, Shepparton dan Smamda. Setiap tahun siswa Smamda berkunjung di Australia, begitu sebaliknya siswa Australia juga belajar di Smamda seperti saat ini.
Menurut Ruci-sapaan akrab guru yang juga Warga Negara Indonesia ini, masalah lingkungan menjadi masalah besar bagi dunia saat ini dan di Australia ada kebakaran hutan yang hebat. Sehingga di Smamda oleh Kepala Sekolah dan para guru para siswa diajarkan untuk mempunyai kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya.
Ruci juga menjelaskan, agar para siswa kedua sekolah ini bisa mendalami masalah lingkungan yang menjadi isu dunia. Maka setelah menanam 100 pohon di Mangrov Wonorejo, para siswa akan menggelar diskusi dengan tema bagaimana cara mencegah dan menanggulangi masalah banjir yang seringkali terjadi di Indonesia dan Kebakaran Hutan, seperti yang saat ini terjadi di Australia.
“Harapan kami, semoga kesadaran para siswa tentang lingkungan semakin meningkat. Dan dengan ditanamkannya kepedulian terhadap lingkungan maka kesadaran untuk cinta lingkungan semakin tumbuh. Memang kebakaran hutan di Australia karena faktor alam yakni musim panas, tetapi juga ada karena faktor manusia. Sebenarnya di Australia para siswa kesadarannya terhadap lingkungan sudah tinggi sebab sudah ditanamkan sejak dini. Diantaranya disiplin membuang sampah pada tempatnya,” papar Ruci disela – sela mendampingi para siswanya.
Salah satu siswa asal Australia, Djembe Archibald mengaku terkesan dengan kegiatan di Smamda. Misalnya saat menanam 100 pohon Tabebuya di Mangrove. ”Saya senang sekali dengan kegiatan peduli lingkungan yang diantaranya menanam pohon ini,” katanya yang masih terbata – bata berbahasa Indonesia. [fen]

Tags: