SMK Harus Punya Produk Berkualitas

Ketua FBKK SMK Sidoarjo saat memberikan dorongan kepada sekolah kejuruan punya produk berkualitas. [achmad suprayogi]

Sidoarjo, Bhirawa
Meningkatnya jumlah pengangguran di wilayah Sidoarjo, salah satunya adalah setiap tahun, jumlah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Sidoarjo mencapai 14.000 siswa. Sebagian besar mereka memilih untuk langsung terjun di dunia kerja. Mereka yang tertampung di dunia kerja juga tidak banyak, karena pelaku industri juga sangat selektif untuk merekrut mereka.
Kondisi tersebut membuat Pemkab Sidoarjo bersama Forum Bursa Kerja Khusus (FBKK) Sidoarjo harus berkreasi, berinovasi agar tenaga kerja lulusan SMK ini dapat terserap di perusahaan-perusahaan.
“Diantaranya harus mendorong SMK-SMK di Sidoarjo mempunyai produk unggulan, termasuk harus melakukan kerjasama dengan pihak Dudi (Dunia Usaha dan Dunia Industri),” ungkap Ketua Forum BKK (Bursa Kerja Khusus) Sidoarjo Heru Sasmita, Selasa (27/7).
Lanjutnya, bila tidak, mereka akan menjadi pengangguran yang membuat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Sidoarjo semakin tinggi. Padahal saat ini Sidoarjo berada diangka 10,98 merupakan tertinggi se-Jatim.
“Makanya, kami mendorong SMK-SMK di Sidoarjo ini memiliki produk berkualitas dan berdaya saing. Sehingga nanti bisa membuka lapangan pekerjaan dan menyerap tenaga kerja dari lulusannya. Dengan demikian tidak hanya mengandalkan industri atau perusahaan,” ujar Heru Sasmita.
Heru menambahkan, program ini bisa dikerjakan bersama-sama. Dalam arti SMK yang maju bisa menjadi mentor bagi SMK lainnya. Pihaknya juga telah mengkomunikasikan ke Pemkab Sidoarjo terkait hal ini. Ia berharap SMK yang memiliki produk bisa mendapat dukungan dari Pemkab Sidoarjo.
Sejauh ini, memang belum ada SMK di Sidoarjo yang memiliki produk menonjol. Produk-produk yang dihasilkan hanya sebatas untuk keperluan lomba, bukan dikembangkan menjadi suatu lapangan pekerjaan. “Saya berharap, SMK-SMK di Sidoarjo mampu merealisasikan, karena akan membantu menurunkan angka pengangguran,” harap Ketua BKK yang juga guru BK SMK PGRI 2 Sidoarjo.
Perlu diketahui juga dalam program mengurangi angka pengangguran yang cukup tinggi. Pemkab Sidoarjo tidak hanya menghimbau sekolah kejuruan untuk membentuk BKK (Bursa Kerja Khusus) SMK saja. Tetapi juga menggelontorkan anggaran dari APBD 2021 sebesar Rp 2,1 M untuk biaya kegiatan BKK SMK tersebut.
Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja Sidoarjo Dr Fenny Apridawati M Kes anggaran tersebut untuk pelaksanaan program Job Matching dan kegiatan BKK. “Dari pembicaraan kami dengan BKK SMK, bisa sekitar 50 hingga 60 persen mereka bisa tertampung di Iduka melalui pogram seperti ini,” tegasnya. [ach]

Rate this article!
Tags: