SMKN 12 Memberi Terapi Emosional

Dosen Psikologi Klinis Universitas Surabaya (Ubaya), Dr Dra Elly Yuliandari Msi

Psikolog Sarankan Identifikasi Tingkat Traumatis
Surabaya, Bhirawa
Kasus gantung diri yang dilakukan RH, pelajar SMKN 12 Surabaya (RH), Senin (13/1) siang di rumahnya memantik perhatian sekolah. Pasalnya, kejadian itu juga disaksikan teman sekelas melalui video call whatsapp. Hal itulah yang membuat Kepala SMKN 12 Surabaya, Biwara Sakti Pracihara akan melakukan pembinaan secara umum kepada para siswa kelas X di jurusan teater.
Menurut Praci-sapaan akrab Biwara Sakti Pracihara ini, pihak sekolah mendengar kematian siswanya sejak Senin siang. Tepatnya pasca ada pelaporan teman sekelasnya yang melihat melalui video call. Praci juga menyebut sudah beberapa hari terakhir RH izin tidak masuk sekolah karena ada masalah keluarga.
“Setelah pulang dari outbond untuk pembekalan mental dia pulang. Kemudiam masuk seperti biasa. Namun esoknya izin tidak masuk sekolah. Dari takjiah saya mendapat info kalau RH ini ada masalah keluarga,” tutur Praci.
Ketua Jurusan Teater, Harwi Mardianto menambahkan guru Teater di kelas X tempat RH menempuh pendidikan enam bulan terakhir sudah memberikan terapi emosi pada teman sekelas RH. Pasalnya proses bunuh diri RH telah dilihat hampir seluruh teman di kelasnya.
“Saat ini guru teater sedang mengarahkan siswa agar mengekspresikan dirinya di sekolah. Apalagi anak Teater. Saat di rumah ada masalah harus bisa ekspresikan di sekolah. Jangan dipendam sendiri,” urainya ditemui Bhirawa, Selasa (14/1).
Upaya pihak sekolah mengajak siswa untuk mngekspresikan diri di sekolah berkaca dari RH yang diketahui memendam masalah yang ada di rumah. Ia juga dikenal mempunyai pribadi yang introvert. Namun selama di sekolah RH dikenal supel bahkan saat mengikuti kegiatan sekolah masih aktif bersama teman lainnya.
“Saat kejadian, pagi anaknya sudah update status yang mengarah mempersiapkan dirinya untuk membuat pertunjukan, tulisannya silahkan duduk tenang dan saksikan. Makanya kami sempat tidak percaya itu bunuh diri sungguhan,” ujarnya.
Harwi menjelaskan, dirinya sempat mengira RH melakukan prank dan meminta teman – temannya mengecek kondisi RH di rumahnya. Harwi mengingat, meskipun ada masalah keluarga, RH tidak menunjukkan perubahan perilaku. Ia masih sama seperti biasanya yang tidak berkenan memakai barang sama dengan teman lainnya.
“Dia nggak mau dikembari, mesti pakai beda. Sepeda motornya saja paling gede dibandingkan teman – teman lainnya,” urainya.
Sementara itu, dosen Psikologi Klinis Universitas Surabaya (Ubaya), Dr Dra Elly Yuliandari Msi memberikan tanggapannya terkait video call aksi bunuh diri yang dilakukan RH. Ia menuturkan hal tersebut bisa menimbulkan trauma bagi orang – orang yang melihatnya. Apalagi jika para siswa mempunyai hubungan dekat dengan RH.
“Ini akan menimbulkan kondisi yang mempengaruhi perspektif dia ketika menjalin hubungan dengan orang. Kalau mereka dihadapkan pada masalah yang cukup berat dan putus asa aksi itu dianggap semacam pembenaran,” ujar dia.
Karena itu, untuk melakukan pendampingan khusus, Elly menyarankan agar sekolah melakukan proses identifikasi siswa yang telah melihat video. Sebab, kejadian itu akan berdampak pada psikis siswa.
“Tidak semua teori psikoligi bisa diterapkan. Seberapa kuat dia menerima itu dengan seberapa resahnya pasca melihat kejadian itu harus disikapi dengan cara yang berbeda. Dari hasil identifikasi itu sekolah bisa melakukan semacam emosional fokus terapi, jika dampak psikologis nya memang terkena. Dengan adanya terapi itu siswa yang merasa resah atau terkejut karena menonton video itu bisa terlampiaskan,” jelas dia.
Menurut Elly, sifat introvert yang dimiliki RH harusnya membuat keluarga lebih peka akan pola – pola dan perilakunya sehari – hari. Apalagi RH juga masih dalam masa pertumbuhan dan berusia remaja.
“Mereka yang introvert ini cenderung mengingat hal – hal yang sifatnya negatif. Kalau dia pernah berdebat dengan orang tuanya kita lihat, apakah dia masih memendam amarah selama satu hari itu (waktu panjang). Kalau selama berminggu minggu dia belum selesai atau masih memendam amarah. Orang tua harus mempunyai andil disini,” tuturnya.
Lebih lanjut, Elly juga menilai orang dengan pribadi introvert sulit untuk merecovery (memperbaiki) gejolak emosinya. Terlebih lingkungannya kurang mendeteksi hal ini.
“Orang dengan pribadi introvert ini lebih sensitif. Dan kita harus mengamati pola – pola perilakunya. Sedangkan orang tua harus mempunyai akses kontrol kepada anak. Akses kontrol ini sifatnya bukan otoriter melainkan anak mau mendengar perkataan orang tua,” tandasnya. [ina]

Rate this article!
Tags: