SMKN 2 Buduran Uri-uri Seni Budaya Jawa

Maria Ernawati Kasek SMKN 2 Buduran bersama para siswinya. [achmad suprayogi]

>Sidoarjo, Bhirawa
Semakin lunturnya seni tradisional, khususnya Seni Budaya Jawa di mata remaja produktif sungguh sangat memprihatinkan. Dunia remaja sekarang, asyik dengan dunia Gadget untuk melihat budaya – budaya dari luar negeri. Mereka tak mau mempelajari Seni Budaya Jawa, padahal di setiap acara resmi, tari seni budaya masih ditampilkan sebagai acara pembuka.
Melihat kondisi ini, Guru Seni Budaya SMKN 2 Buduran Sidoarjo, Yekti Nurmaningrum SSn MM bersemangat untuk melestarikan tari seni budaya, khususnya Tari Seni Budaya Jawa. ”Kita harus tetap menguri – uri seni Budaya Jawi, sebab kalau bukan kita yang melestarikan, siapa lagi. Walaupun sulit tetap harus dilakukan, agar seni budaya kita ini tidak punah,” tegas Yekti Nurmaningrum, di temui Rabu (16/12) kemarin.
Dahulu menari tradisional sangat sulit untuk ditirukan, sekarang tarian – tarian itu harus dikemas lebih modern lagi. Caranya bagaimana? Ya harus dikolaborasikan antara musik dengn tariannya. Sehingga para siswa bisa tertarik dan berminat untuk belajar, setelah berjalan dengan baik hasilnya bisa dituangkan dalam Pensi (Pentas Seni) yang ada di sekolah.
“Jadi tidak perlu mengundang dari orang luar sekolah, ternyata potensi yang ada di sekolah memiliki jiwa seni yang jauh lebih baik. Selain itu, para siswa yang sibuk dengn Gadgetnya bisa tahu, inilah tradisi kita,” ungkap Bu Yekti-sapaan akrabnya.
Bu Yekti menambahkan, kalau uri – uri budaya di masa sekarang ini memang sangat sulit sekali, remaja sekarang selain senang bermain gadget, ditambah lagi kondisi pandemi virus Covid 19. Mereka asyik di dunianya sendiri tanpa berfikir nanti saya ini mau jadi apa. Termasuk budaya saya ini mau jadi apa, yang dilihat sekarang ini dunia yang ada di luar sana. Padahal seni budaya yang ada di Indonesia ini jauh lebih baik dibandingkan dengan Negara – negara yang maju.
“Caba lihat, bila ada turis datang ke Indonesia, ternyata mereka mau belajar seni budaya kita, diantara seni budaya di Bali, Yogya, Banyuwangi atau pun daerah – daerah lain yang memiliki ciri yang berbeda, dan para turis itu mau belajar. Mengapa kita malah menghindar untuk mempelajarinya,” ungkapnya.
Melihat kondisi sekarang ini, kita tetap bergerak untuk melestarikan seni budaya kita, agar para generasi muda ini mau dan bangkit untuk belajar, caranya harus memasukkan seni budaya ini ke dunia pendidikan. Karena ada beberapa materi yang harus dituangkan sepaya para siswa tertarik dengan tradisi luhur Bangsa Indonesia.
“Dengan ketelatenan dan rajin mengajak siswa untuk menari, ternyata banyak siswa laki – laki yang mengikutinya. Jadi bukan hanya para perempuan, para lelaki juga banyak yang tertarik untuk belajar,” tandas Bu Yekti. [ach]

Tags: