Sosialisasi EJSC, Bakorwil V Gelar Talkshow Media Literasi Era 4.0

Kegiatan Talkshow ” Media Literasi Era 4.0″ yang digelar oleh Bakorwil V Jember, Selasa (12/11)

Jember, Bhirawa
Jelang lounching East Java Super Corridor (EJSC), Bakorwil V Jember terus melakukan sosialisasi. Sosialisasi EJSC kali ini dikemas dalam talkshow dengan tajuk “Media literasi era 4.0”. Hadir sebagai pembicara Ahyari Hananto dari Good News From Indonesia (GNFI), Slamet dari Info Warga Jember (IWJ) dan Mikki Pheresia jurnalis CNN, Senin (12/11).
Tim EJSC Jatim Choirul Bachtiar mengakau sengaja menggandeng media sebagai narasumber karena literasi media saat ini kecenderungannya tidak menjadikan media konvensional, tapi sudah berbasis digital 4.0. “Karena percepatan informasi saat ini sangat ditunggu oleh masyarakat. Sehingga kecepatan informasi ini, dapat direspon secara optimal pula,” ujar Choirul kemarin.
Oleh karena itu, kata Choirul keberadaan EJSC diharapkan sebagai pemicu pekerjaan berbasis digital. Karena diera sekarang ini, milenial cenderung tidak mau menjadi pekerja yang terikat waktu dan tempat serta memakai seragam otoritas tertentu.
“Sekarang melineal banyak melakukan perkerjaan freelance. Dengan adanya EJSC melalui milenial job centre kedepan, mereka terwadahi dan menjadi ekosistim baru, embrio baru dan memunculkan pekerjaan baru diera digital,” tandasnya.
Sementara, Kepala Bakorwil V Jember yang diwakili Sekretaris Juhaeri mengatakan, EJSC ini merupakan salah satu cara mewadahi melinial dalam mengasah kemampunnya (talent).
“Ini merupakan salah satu program prioritas Ibu Gubernur dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis digital. Dengan EJSC melalui Milenial Job Centre, para anak muda difasilitasi, diwadahi untuk mengasah kemampuannya yang akan dilatih oleh mentor profesional,” tandasnya pula.
Talkshow yang rencananya dilaksanakan selama tiga hari ini, mendapat respon positif dari kalangan milenial. Seperti yang disampaikan oleh Refrida Novianti mahasiswi Politeknik Jember.
Menurut Refrida pemahaman literasi digital 4.0 sebagai internet of king saat ini perlu ditingkatkan. Karena menurut Refrida, lapangan kerja kedepan akan lebih dominan dikuasai oleh tehnologi ketimbang tenaga konvensional (manusia).” Kami berharap kegiatan ini lebih disebarluaskan lagi dikalangan kampus. Sehingga anak muda seperti saya ini, bisa melek teknologi,” ujarnya.
Senada juga disampaikan oleh Diana Aprilia mahasiswi Universitas Jember. Menurutnya, banyak potensi-potensi lokal yang perlu digarap secara optimal. Namun karena keterbatasan sumberdaya manusia, potensi-potensi yang ada tidak pernah tersentuh.”Sentuhan tehnologi berbasis kearifan lokal, perlu dioptimalkan. Karena masih banyak masyarakat desa yang buta terhadap tehnologi,” pungkasnya.(efi)

Tags: