Sosialisasikan Manfaat NIB Bagi Pelaku UMKM

Saat ini, memiliki nomor induk berusaha (NIB) bagi pelaku Usaha mikro kecil menengah (UMKM) merupakan syarat mutlak dan penting untuk termiliki, pasalnya NIB

sebagai identitas pelaku usaha dapat menjadi langkah awal untuk mempercepat proses perizinan usaha. Dan, setelah memiliki NIB, maka pelaku usaha bisa mengajukan Izin Usaha dan Izin Komersial atau Operasional sesuai dengan bidang usahanya. Selain itu, NIB bisa digunakan sebagai Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Angka Pengenal Importir (API), dan hak akses kepabeanan.

Itu artinya, NIB punya peran penting menaikkan kelas pelaku UMKM. Dan, wajar jika NIB wajib dimiliki oleh seluruh pelaku usaha di Indonesia jika ingin bergerak dan berkembang secara legal. Karena dengan memiliki NIB, para pelaku UMKM bisa membuktikan legalitas Penanaman Modal atau Berusaha. Salah satu peraturan dari pemerintah yang bisa digunakan rujukan pelaku UMKM adalah melalui Online Single Submission(OSS), tepatnya dengan payung hukum PP No. 24/2018. Dengan begitu, pemilik usaha dapat mengurus seluruh perizinan secara online.

Namun sayang, fasilitas mengenai nilai manfaat NIB pelaku UMKM hingga kini masih terbilang minim terpahami dan terelasikan oleh pelaku UMKM di negeri ini. Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, sampai dengan 12 Juli 2022 tercatat sebanyak 1.507.235 NIB telah diterbitkan melalui sistem OSS. Dari angka tersebut, 98 persen merupakan NIB pelaku UMK dan 2 persen pelaku usaha menengah dan besar dengan target penerbitan NIB hingga 100.000 per hari dari saat ini yang hanya 7.000 NIB sehari, (Kontan, 1/8/2022).

Data tersebut, idealnya bisa terkomunikasikan, tersosialisasikan dan terupayakan secara terus menerus pada para pelaku UMKM. Sekaligus perlu terus menghadirkan dukungan dari Menteri Koperasi dan UKM (MenkopUKM) dan pemerintah daerah. Karena semua itu, demi meningkatkan geliat investasi bisnis di tanah air. Untuk itu, pemerintah perlu terus giat menggodok sejumlah kebijakan untuk memangkas proses perizinan lama yang dinilai terlalu rumit. Mengingat pula, jumlah UMKM di Indonesia sangat berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di negeri ini.

Asri Kusuma Dewanti
Dosen FKIP Universitas Muhammadiyah Malang.

Tags: