Spirit Mental Ramadhan

Ramadhan telah sepekan berlalu. Yang mudik sudah kembali, seluruh keluarga telah kembali beraktifitas normal. Namun suasana (kebatinan) puasa Ramadhan masih kental terasa. Mempertahankan kejujuran, dan takut bicara kebohongan. Telah terbangun mental (dan moralitas) mulia. Serta selama sebulan Ramadhan, terbukti berhasil menjaga hubungan sosial lebih baik. Walau sebagian masih terbawa kebiasaan politik ghibah (membicarakan aib seseorang), dan meng-gunjing.

Sebagian umat Islam, tidak berhasil “menjaga puasa” dengan perilaku yang mengiringi kewajiban agama. Masih terdapat muslim yang suka memfitnah. Bahkan pada pergaulan media sosial (medsos) sangat banyak posting (dan share) ujaran kebencian. Terutama berkait isu kecurangan Pemilu (2024) secara sistemik terstruktur dan masif. Juga isu tentang jabatan Presiden (dan Wakil Presiden) “5 periode.” Lupa sedang berpuasa.

Bahkan banyak tokoh muslim harus berhadapan dengan proses penegakan hukum. Mempertanggungjawabkan pernyataan di depan publik, maupun posting di medsos. Juga tindakan kriminal murni, berbuat menuruti hawa nafsu rendahan. Ada pula yang menebar teror tawur saat sahur, menyebabkan kegaduhan sosial secara masif. Sebagian yang lain menjadi tersangka, berkait Tipikor (tindak pidana korupsi), bersekongkol menyuap hakim, dan menyuap auditor berkait pemeriksa keuangan.

Idul Fitri tahun 1445 Hijriyah, juga diliputi cuaca ekstrem. Hujan dengan intensitas tinggi turun deras di seantero pulau Jawa. Menyababkan banyak permukiman, dan ladang terendam banjir. Banyak warga muslim hidup di tenda. Terpaksa pula mengumandankan takbir 1 Syawal di pengungsian. Sebagian lagi (terutama kalangan remaja dan pemuda) tidak dapat merayakan Idul Fitri bersama keluarga di rumah. Karena berstatus tahanan Kepolisian, menjadi tersangka pembakaran mercon. Diancam pasal 187 KUHP. Karena membakar mercon besar.

Namun tidak jarang pula yang sukses besar sebulan berpuasa. Hasil gemilang puasa Ramadhan, niscaya tercermin setelah Idul Fitri. Sehingga hampir seluruh paradigma dan kinerja terlaksana dengan “standar” Ramadhan. Disiplin, jujur, serta berucap dengan kata-kata yang baik menyejukkan. Selama sebulan puasa, terasa lebih ramah dengan inner quotient (kecerdasan dari dalam diri). Sukses mengendalikan diri bukan takut terhadap anacaman hukuman. Melainkan tumbuhnya kecerdasan spiritual.

Setiap maksiat merupakan tindakan kriminal yang tumbuh dari kerendahan mental. Sehingga maksiat dan pekat (penyakit masyarakat) juga turut susut, karena situasi sosial yang baik. Tetapi masih banyak warga muslim tidak memperoleh THR (Tunjangan Hari Raya) sesuai ketentuan pemerintah. Ironis, banyak Perusahaan benar-benar tidak rela mengeluarkan THR kepada buruh. Seperti perusahaan zaman kolonial yang benci terhadap buruh pribumi, karena beda etnis dan agama. Ada!

Secara umum kedermawanan di ujung bulan Ramadhan tergambar pada makin meningkatnya sedekah, dan zakat. Sedekah diberikan kepada sanak keluarga saat mudik lebaran. Berkunjung sambal membagikan uang, terutama kepada anak-anak, dan famili yang masih hidup sengsara. Bank Indonesia (BI) mencatat pada Ramadhan tahun (2024) ini terjadi pergerakan ekonomi senilai Rp 388 trilyun. Peredaran uang di masyarakat meningkat tajam.

Dengan PDB per-kapita sebesar Rp 75 juta, mayoritas rakyat Indonesia tergolong muzakki (wajib zakat). Total PDB nasional sebesar Rp 20.775 trilyun. Tetapi potensi zakat nasional tahun 2024 hanya ditaksir mencapai Rp 327 trilyun. Belum optimal. Dana zakat terutama dari perhitungan zakat penghasilan dan jasa, pertanian, peternakan, kelautan, dan sektor lainnya. Belum termasuk zakat fitrah yang biasa dibayarkan pada setiap menjelang Idul Fitri, bagai “habis pakai.”

Setelah pulang balik (dari mudik) patut mempertahankan suasana ke-saleh-an, dan ke-dermawanan sosial. Spirit mental Ramadhan wajib dijaga bersama.

——— 000 ———

Rate this article!
Spirit Mental Ramadhan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: