Stok Beras Bulog Kabupaten Cukup Enam Bulan

Foto: ilustrasi

Foto: ilustrasi

Kab Malang, Bhirawa
Kepala Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) Divisi Regional (Divre) VII Malang Arsyad menyatakan, jika Kesediaan beras di wilayah Kabupaten Malang dan sekitarnya, cukup hingga enam bulan kedepan. Sehingga masyarakat jangan mengkhawatirkan akan terjadi kelangkaan beras.
“Sebab Perum Bulog Divre VII Malang ini masih menyimpan beras di gudang, yakni seberat 45.256 ton beras, dari target 70 ton beras. Sehingga dengan ketersediaan beras tersebut, maka masyarakat di wilayah Kabupaten Malang dalam enam kedepan tidak akan terjadi kekurangan beras,” kata Arsyad, Kamis (27/11), saat dikonfirmasi di ruang kerjanya.
Dia menegaskan, meski ada kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), hal itu masih belum mempengaruhi harga beras. Sehingga harga beras jenis premium masih pada kisaran Rp 9 ribu per kilogram (kg). Sedangkan untuk harga beras Operasi Pasar (OP) dikisaran Rp 6.600 per kg. Dan untuk beras raskin masih tetap pada harga dikisaran Rp 1.600 per kg. Sementara, kenaikan harga bukan pada beras, tapi kenaikan pada biaya transportasi, karena dampak dari kenaikan BBM.
Diakui Arsyad, saat ini pihaknya masih belum melakukan OP, karena pihaknya masih akan melakukan koordinasi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pasar  (Disperindagsar) Kabupaten Malang. Meskipun, pihaknya belum melakukan OP, namun Bulog sudah menjual beras melalui gerai Bulog Mart, dengan harga lebih murah jika dibanding yang dijual dipasaran. “Yakni selisih harga dipasaran Rp 200-Rp 300 per kg,” paparnya.
Begitu juga, lanjut dia, Bulog juga menjual gula lebih murah, jika dipasaran harganya Rp 9.300-Rp 9.500 per kg, tapi Bulog hanya menjualnya Rp 9.100-Rp 9.200 per kg. Dengan selisih harga tersebut, maka masyaraka telah terbantu meski selisihnya hanya sedikit. Dan saat ini stok gula yang ada di gudang Bulog seberat 2.200 ton. Sedangkan gula yang kita siapkan untuk OP nantinya seberat 200 ton. Sehingga masyarakat diharapkan jangan mengkhawatirkan terkait ketersediaan beras dan gula.
Menurut Arsyad, selisih harga beras dan gula dengan yang dijual dipasaran, hal itu untuk meredam gejolak kenaikan harga, atau untuk menstabilkan harga beras dan gula. Sebab, beras dan gula merupakan kebutuhan pokok masyarakat, dan bila harga kedua bahan pokok itu tidak stabil, maka akan terjadi keresahan di masyarakat. “Untuk itu, Bulog sebagai lembaga milik pemerintah yang membidangi nasalah pangan, salah satunya ya harus bisa meredam gejolak masyarakat terkait kebutuhan beras dan gula,” ujarnya. [cyn]

Tags: