Stop Isu Konspirasi Corona

foto ilustrasi

Mengamati situasi virus Covid-19 di Indonesia saat ini bisa terbilang masih jauh dari kata selesai. Artinya, pandemi dan penyebaran covid-19 belum menunjukkan penurunan yang cukup signifikan. Kasus positif virus corona (Covid-19) di Indonesia per Senin (20/7), bertambah sebanyak 1.693 orang sehingga total menjadi 88.214 orang terinfeksi Covid-19. Dari total jumlah tersebut 46.977 orang dinyatakan sembuh dan 4.239 orang meninggal dunia.

Melihat realitas tersebut, tidak sedikit masyarakat dunia dan Indonesia khususnya, sudah mulai jenuh, bosan bahkan capek karena sudah banyak derita yang harus bangsa dan negeri pikul karena dampak pandemi covid-19 ini. Di tengah situasi bosan, capek dan derita karena dampak corona ini, tidak sedikit dari sebagian masyarakat mulai mencari sarana untuk menyalahkan wabah virus corona. Bahkan, atas situasi pandemi covid-19 yang tidak berujung usai saat ini berbuah pada isu konspirasi corona. Isu ini menjadi laris manis di berbagai belahan dunia, termasuk di negara Indonesia karena bentuk psikologis manusia yang tidak bisa menerima keadaan.

Banyak teori konsiprasi terkait virus corona ini. Sehingga, tidak sedikit orang yang mempercayai bahwa virus corona hanyalah buatan untuk mengambil suatu keuntungan tertentu. Bahkan, deretan teori konspirasi terkait Covid-19 inipun bermunculan kepermukaan publik. Deretan teori konspirasi terkait Covid-19 yang paling menyita perhatian publik saat ini adalah virus corona tersebut dikatakan sebagai buatan elit global yang tidak perlu ditakuti. Penganut teori tersebut menyakini Covid-19 merupakan salah satu alat kontrol elit global agar tetap berada di puncak piramida ekonomi dan politik dunia. Jerink menjadi salah satu orang yang menyuarakan konspirasi ini di Indonesia.

Bagi masyarakat yang teredukasi tentu hadirnya isu teori konspirasi corona ini tidak serta merta mudah diterima. Sebab, sebagai masyarakat yang teredukasi jauh lebih mengedepankan hasil pemikirannya berdasarkan data dan fakta.

Masyud
Pengajar FKIP Universitas Muhammadiyah Malang

Rate this article!
Tags: