Stop Ketergantungan Impor Kedelai

Oleh :
Harun Rasyid
Dosen FPP Universitas Muhmammadiyah Malang

Permintaan kedelai untuk kebutuhan dalam negeri hingga saat ini jauh melampaui produksi nasional. Konsekuensinya adalah volume impor kedelai yang relatif tinggi dari waktu ke waktu yang terus meningkat atau secara relatif mencapai hampir 70 persen dari kebutuhan nasional. Berbagai program untuk meningkatkan produsi kedelelai sudah dilauncurkan oleh pemerintah. Bahkan sasaran pencapaian swasembada kedelai sudah ditetapkan, tetapi karena berbagai hambatan maka sasaran tersebut belum tercapai.

Membaca Data Impor Kedelai
Kenaikan harga bahan baku kedelai impor saat ini terbilang menyulitkan produsen tahu dan tempe di Tanah Air. Fakta itupun, membuat para perajin tahu dan tempe melakukan aksi mogok nasional menuntut pemerintah menyelesaikan permasalahan melambungnya harga kedelai impor. Data Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), harga kedelai impor melonjak dari kisaran Rp 6.000 per kg menjadi sekitar Rp 9.500 per kg, (Kontan, 5/1).
Selama ini, sebagian besar dari kebutuhan kedelai Indonesia memang dipenuhi dari impor. Para perajin tahu tempe bukannya tidak ingin membeli kedelai lokal. Masalahnya, harga kedelai lokal atau domestik dinilai belum kompetitif. Berbeda dengan dengan kedelai impor bisa sampai ke Indonesia dengan harga sekitar Rp 6.500. Sedangkan, petani lokal juga menjual dengan harga Rp 6.500, tapi baru di ladang. Setelah diangkut ke perajin, harganya menjadi lebih mahal. Itulah, yang sekiranya menjadi alasan produsen tahu dan tempe mengandalkan kedelai impor.
Merujuk catatat dari Badan Pusat Statistik (BPS), impor kedelai Indonesia sepanjang semester-I 2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai 510,2 juta dollar AS atau sekitar Rp 7,24 triliun (kurs Rp 14.200). Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari Amerika Serikat (AS). Rata-rata impor kedelai Indonesia mencapai 2 juta-2,5 juta ton per tahun. Dari total volume impor itu, sekitar 70 persen di antaranya dialokasikan untuk produksi tempe, 25 persen untuk produksi tahu, dan sisanya untuk produk lain. Sementara itu, rata-rata kebutuhan kedelai di Indonesia mencapai 2,8 juta ton per tahun.
Sejatinya berbicara masalah ketergantungan impor dan dampaknya terhadap harga merupakan masalah global yang berimbas dari negara asal produsen, yakni Amerika Serikat. Dikutip dari data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang Januari-Oktober 2020 saja, Indonesia sudah mengimpor lebih dari 2,11 juta ton kedelai dengan nilai 842 juta dollar AS atau sekitar Rp 11,7 triliun (kurs Rp 14.000). Hampir seluruh kedelai impor dikapalkan dari Amerika Serikat (AS) yakni sebesar 1,92 juta ton. Selebihnya berasal dari Kanada, Uruguai, Argentina, dan Perancis. Itu artinya, masalah kedelai ini adalah bener-bener masalah global.
Kendati demikian, bukan berarti pemerintah tidak mengambil sikap konkret atas berbagai persoalan impor, termasuk impor kedelai ini. Apalagi, melihat rekam jejak catatan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian ( Badan Litbang Pertanian), pada tahun 1992 Indonesia pernah melakukan swasembada kedelai, saat itu produksi dari petani kedelai Indonesia mencapai 1,8 juta ton per tahun. Namun, seiring dengan berjalannya waktu konsumsi kedelai nasional mengalami trend peningkatan pada setiap tahunnya sebagai konsekwensinya negara memilih impor untuk menutupi kekurangan kedelai dalam negeri.
Menuju Swasembada Kedelai

Rencana mulia swasembada kedelai sebenarnya bukan barang baru di negeri ini. Gembar-gembor target memenuhi kebutuhan kedelai secara mandiri sudah dicetuskan sejak era Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun dalam 10 tahun, swasembada kedelai belum sekalipun terealisasi. Begitupun dengan Presiden Jokowi menargetkan swasembada kedelai terjadi pada 2017. Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat melontarkan janji mengupayakan swasembada kedelai saat menjabat di periode pertamanya tahun 2014-2019. Namun sayang, justru kini yang terjadi impor kedelai makin tinggi.
Namun, kendati demikian bukan berarti situasi tersebut harus kita salahkan, karena pada dasarnya semua cita-cita, target atau sasaran biasanya memang sangat bersebrangan dengan kenyataan dilapangan. Regulasi tataniaga pun sejatinya sudah dilakukan oleh pemerintah, diantaranya meliputi meliputi regulasi harga, kadar dan pengendalian impor. Seperti halnya, sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, khususnya pada pasal 54 ayat (3), pemerintah dapat membatasi impor barang dengan alasan untuk membangun, mempercepat, dan melindungi industri tertentu di dalam negeri, atau untuk menjaga neraca pembayaran maupun neraca perdagangan. Intinya, semua cara ditempuh guna mengurangi ketergantungan impor.
Pemenuhan kedelai secara mandiri memang diperlukan, mengingat kebutuhan kedelai sebagai bahan baku untuk produksi tempe dan tahu setiap tahunnya semakin bertambah. Pemerintah harus memiliki langkah yang sangat drastis untuk menuju swasembada kedelai ini. Berikut ini, sekiranya beberapa langkah konkret yang bisa dilakukan oleh pemerintah untuk menekan angka impor kedelai.
Pertama, pemerintah harus segera mengambil kebijakan stabilisasi harga kedelai untuk menyelamatkan keberlangsungan usaha dari produksi tahu dan tempe apalagi pada masa pandemi ini harus ada prioritas untuk membantu ribuan usaha kecil menengah berbasis pemberdayaan produk lokal agar ekonomi nasional segera pulih
Kedua, pemerintah harus mampu memposisikan kedelai sebagai tanaman pokok. Peningkatan produksi kedelai diakui memang tidak mudah untuk dilakukan, mengingat kedelai masih diposisikan sebagai tanaman penyelang atau selingan bagi tanaman utama seperti padi, jagung, tebu, tembakau, dan bawang merah.
Ketiga, pemerintah harus sadar kalau ketergantungan impor pasti berdampak serius terhadap stabilitas harga dan ketahanan pangan. Maka, pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dengan cara memberdayakan para petani kedelai lokal serta mengelola harga jualnya agar tidak kalah bersaing dengan produk impor.
Keempat, pemerintah harus memberikan perhatian serius kepada petani kedelai lokal dan fokus mengembangkan kawasan komoditas kedelai. Dengan begitu, petani kedelai local bisa meningkatan produktivitas dan melakukan ekstensifikasi agar mampu memotong ketergantung dengan impor kedelai.
Target menuju swasembada kedelai bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Sekiranya, melalui empat langkah konkret tersebut diatas, besar kemungkinan jika terealisasikan dengan baik maka negara ini bisa mencapai swasembada kedelai di masa depan.

——— *** ——–

Rate this article!
Tags: