Stop Kontroversi Menyoal Bipang Ambawang

Oleh :
Ani Sri Rahayu
Dosen PPKn (Civic Hukum) Universitas Muhammadiyah Malang

Pernyataan Presiden Joko Widodo mempromosikan makanan khas Kalimantan Barat, Bipang Ambawang, di tengah bulan Ramadhan, menuai kontroversi. Berbagai pihak menyorot tim komunikasi presiden. Padahal, jika tercermati dengan jeli tidak ada yang salah dalam ungkapan Presiden Joko Widodo. Pasalnya, pada 13-14 Mei 2021 adalah libur Hari Raya Idulfitri dan 13 Mei 2021 juga adalah hari libur Kenaikan Yesus Kristus. Artinya, tidak ada yang salah karena Indonesia yang multikultaral. Karena itu Indonesia memiliki berbagai suku bangsa, ras, agama, etnis, budaya dan lain-lain. Sehingga, sudah barang tentu memiliki keanekaragaman kuliner.

Menanggapi secara positif

Sejatinya jika kita tanggapi secara positif ungkapan Presiden Jokowi diperuntukkan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Dalam hal ini, masyarakat Indonesia yang beragam yang terdiri atas berbagai agama, suku, golongan, yang tersebar di berbagai provinsi, kabupaten, juga kota-kota yang tersebar di seluruh Indonesia.

Bahkan, jika terperhatikan kuliner khas daerah yang disebut Bapak Presiden dalam video tersebut untuk mempromosikan kuliner nusantara yang memang sangat beragam. Tentu kuliner tersebut dikonsumsi, disukai, dan dicintai oleh berbagai kelompok masyarakat yang juga beragam. Terlebih pernyataan Kepala Negara sama sekali tidak secara khusus mempromosikan Bipang Ambawang, namun ada makanan khas lainnya yang beliau ungkapkan. Apalagi, pada Lebaran ini ada dua hari libur keagamaan yang dirayakan dalam waktu yang bersamaan. Salah satunya di tanggal Mei 2021 juga adalah hari libur Kenaikan Yesus Kristus.

Perlu kita sadari bersama bahwa Presiden Jokowi memiliki jasa yang sangatlah besar bagi umat muslim di negeri ini, jadi jangan naïf menilai Presiden Jokowi dari sebatas makanan khas Bibang Ambawang itu. Perlu selalu kita ingat bahwa di era kepemimpinan Jokowi lah diputuskan Keppres Nomor 22 tahun 2015 tentang Hari Santri pada 22 Oktober. Presiden Jokowi dalam catatan, telah mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan umat Islam dalam bentuk penguatan ekonomi pesantren melalui bank wakaf mikro, yang diresmikan pada Oktober 2017.

Ada yang perlu selalu kita ingat bersama bahwa bangsa Indonesia disebut sebagai masyarakat multikultural karena terdiri dari berbagai suku bangsa, ras, agama, etnis, budaya dan lain-lain. Dalam kerangka hidup bersama berdampingan satu sama lain yang sederajat dan saling berinterseksi dalam suatu tatanan kesatuan sosial politik.

Harap dicatat bahwa Presiden Jokowi adalah Presiden untuk semua suku bangsa Indonesia sekaligus Presiden bagi semua umat beragama yang hidup di negara Pancasila. Mari kita berpikir lebih luas dan jernih, jangan gampang termakan oleh provokasi yang ingin memecah belah antara pemerintah dengan rakyatnya.

Evaluasi tim komunikasi Presiden Jokowi

Indonesia yang notabenenya adalah negara yang multikultural yang bisa kokoh dengan nilai-nilai toleransi sebagai perajutnya maka sangat naïf jika kita tidak bisa menghargai golongan minoritas di negeri ini. Justru sangat disayangkan jika masalah makanan Bipang Ambawang ini bangsa ini harus geger yang tidak ilmiah.

Kita sebagai bangsa yang besar tentu harus siap menerima segala kekayaan budaya, kuliner dan kekhasan bangsa ini. Artinya, tidak ada yang salah karena Indonesia yang multikultaral tentunya memiliki keanekaragaman kuliner. Mungkin, sebagai pembelajaran besama bahwa bangsa ini sangat sensitif. Wajar jika sebagian pihak menyayangkan ungkapan Presiden Jokowi, dalam konteks ucapan Lebaran, imbauan jangan mudik dan oleh-oleh khas Lebaran. Presiden malah menyebutkan makanan yang tidak related dengan kebiasaan umat Islam, Bipang Ambawang. Terlebih puasa, mudik dan lebaraan adalah bagian dari ritual dan kebiasaan umat Islam di negeri ini.

Memang, kalau dalam konteks biasa yang tidak terangkai dengan mudik dan lebaran, pidato tersebut syah-syah saja karena bagian dari promosi kekayaan kuliner dalam negeri. Pidato Presiden Jokowi tekait memperkenalkan makanan Bipang Ambawang kurang tepat untuk disampaikan terlebih untuk menyambut lebaran. Diketahui, pidato Presiden Jokowi yang menyebut Bipang Ambawang menjadi perbincangan banyak pihak. Pasalnya, dilansir dari Wikipedia, Bipang Ambawang adalah makanan khas Kalimantan yang dibuat dari olahan daging babi panggang.

Adapun sebelumnya potongan pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengajak masyarakat Indonesia untuk belanja online viral di media sosial. Menurut Presiden Jokowi, semua makanan khas daerah bisa dipesan online sehingga masyarakat tak perlu mudik ke kapung halaman. Berikut kutipan kalimat Beliau, “Untuk bapak/ibu dan saudara-saudara yang rindu kuliner khas daerah atau yang biasannya mudik membawa oleh-oleh, tidak perlu ragu untuk memesannya secara online,” “Yang rindu makan gudeg Jogja, bandeng Semarang, siomay Bandung, empek-empek Palembang, bipang ambawang dari Kalimantan dan lain-lainnya tinggal pesan

Kalau ditanya siapa yang salah, tentu yang membuat teks dalam pidato tersebut. Namun, sekali lagi jika kita bisa bijak mensikapi dan siap menerima kenyataan bahwa kuliner nusantara yang memang sangat beragam. Cuman kedepannya pilihan kata, baiknya jangan yang bisa memicu kontroversi. Semua itu juga demi kebaikan bersama. Maka Tim komunikasi presiden lah dalam pilihan kata perlu dievaluasi, hal mendasar seperti ini harusnya dijaga betul sehingga pilihan kata yang ada tidak mengundang kontroversi.

——- *** ——–

Tags: