Student Agency; Tantangan Guru Masa Kini

Oleh :
Hilal Nur Fuadi
Guru SMA Negeri 1 Gondang, Bojonegoro

Perkembangan teknologi Informasi dan perubahan zaman senantiasa menghadirkan tuntutan dan tantangan baru sesuai dengan zamannya, tidak terkecuali dalam dunia penddikan. Saat ini, dunia pendidikan di Indonesia dituntut untuk bisa menyesuaikan tuntutan perubahan zaman dan mampu menghasilkan output yang memiliki skill, kompetensi keahlian serta kecakapan abad XXI dan sekaligus memiliki kepribadian dan akhlak yang mulia. Untuk mewujudkan itu semua, Pemerintah berupaya mengeluarkan beberapa kebijakan dan regulasi termasuk implementasi kurikulum baru. Mulai tahun ini secara resmi pemerintah mulai menerapkan kurikulum merdeka yang dilaksanakan secara serentak diseluruh wilayah Indonesia untuk beberapa jenjang pendidikan.

Implementasi kurikulum ini juga dipadukan dengan project penguatan profil pelajar Pancasila yang diharapkan mampu menghasilkan individu yang berkarakter sesuai dengan 6 dimensi dalam “Profil Pelajar Pancasila” yakni: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkebihekaan global, gotong royong, mandiri, kreatif, dan bernalar kritis. Penerapan kurikulum merdeka ini telah membuka wawasan dan mengubah paradigmaa para guru dan pendidikan pada umumnya. Berpijak pada filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara (KHD) yang mengulas tentang murid, maka pendidikan saat ini harus memperhatikan mengenai ” kodrat alam” (lingkungan tempat tinggal dan bakat lahir murid) serta “kodrat zaman” (masa dimana saat ini murid hidup dan berkembang). Guru perlahan namun pasti harus mengubah paradigmaa dalam mendampingi murid belajar. Proses pembelajaran saat ini harus berihak pada murid, berpusat pada murid, dan memenuhi semua kebututuhan belajar murid. Guru juga harus mulai memahami bahwa tujuan pendidikan sebenarnya adalah untuk menuntun segala kodrat yang ada pada murid agar mereka bisa mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Implementasi kurikulum merdeka yang semuanya difokuskan pada murid atau student centre, maka seorang guru harus mampu memotivasi dan mendorong berkembangnya jiwa kepemimpinan dalam diri murid karena dengan jiwa kepemimpinan inilah murid akan mampu menjawab tantangan pendidikan di abad 21. Selain itu, jiwa kepemimpinan ini juga akan menjadi modal berharga dan akan membuat murid mampu untuk mengambil sebuah keputusan sekaligus mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil tersebut. Saat ini upaya menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan dalam diri murid atau Student Agency menjadi suatu hal yang urgen dan mutlak untuk dilaksanakan karena sudah saatnya murid yang mengambil peran untuk keberhasilan dan kesuksesan hidupnya di masa yang akan datang. Pada momen peringatan hari guru nasional ini, para pahlawan tanpa tanda jasa ini dihadapkan pada sebuah tantangan baru yaitu mewujudkan Student Agency dalam diri murid.

Secara garis besar, student agency merupakan jiwa kepemimpinan murid yang berusaha ditumbuh kembangkan melalui pengembangan program-program positif yang intinya pelaksanaan program tersebut harus mencakup beberapa hal, diantaranya : Voice (suara) yang mengacu pada ide atau pemikiran-pemikiran original yang berasal dari murid, Choice (pilihan) bahwa program tersebut memberikan kebebasan murid untuk memilih dan mengambil sebuah keputusann dan program yang dirancang juga harus mampu memunculkan Ownership (rasa kepemilikan) murid terhadap program tersebut. Hal ini harus segera diimplementasikan karena selama ini diakui atau tidak, guru atau orang dewasa sering memperlakukan murid-murid seolah-olah mereka tidak mampu membuat keputusan, pilihan, atau memberikan pendapat terkait dengan proses belajar mereka. Kadang-kadang kita bahkan tanpa sadar membiarkan murid-murid kita secara sengaja menjadi tidak berdaya, dengan secara sepihak memutuskan semua yang harus murid pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, tanpa melibatkan peran serta mereka dalam proses pengambilan keputusan tersebut.

Sudah saatnya guru mengubah paradigma mengenai murid dan membentuk mindset bahwa murid-murid kita dapat melakukan lebih dari sekedar menerima instruksi dari guru. Mereka secara alami adalah seorang pengamat, penjelajah, penanya, yang memiliki rasa ingin tahu atau minat terhadap berbagai hal. Lewat rasa ingin tahu serta interaksi dan pengalaman mereka dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya, mereka kemudian membangun sendiri pemahaman tentang diri mereka, orang lain, lingkungan sekitar, maupun dunia yang lebih luas. Dengan kata lain, murid-murid kita sebenarnya memiliki kemampuan atau kapasitas untuk mengambil bagian atau peranan dalam proses belajar mereka sendiri. Agar kita dapat menjadikan murid sebagai pemimpin bagi proses pembelajarannya sendiri, maka kita perlu memberikan kesempatan kepada murid untuk mengembangkan kapasitasnya dalam mengelola pembelajaran mereka sendiri, sehingga potensi kepemimpinannya dapat berkembang dengan baik. Selanjutnya peran guru adalah: Pertama, Mendampingi murid agar pengembangan potensi kepemimpinan mereka tetap sesuai dengan kodrat, konteks dan kebutuhannya; Kedua, mengurangi kontrol kita terhadap mereka artinya guru tidak perlu sedikit-sedikit menegur, mengarahkan, dan memberikan solusi kepada murid. Karena pada dasarnya ketika murid memiliki kontrol atas apa yang terjadi, atau merasa bahwa mereka dapat mempengaruhi sebuah situasi inilah, maka murid akan memiliki apa yang disebut dengan agency yang dapat diartikan sebagai kapasitas seseorang untuk mempengaruhi fungsi dirinya dan arah jalannya peristiwa melalui tindakan-tindakan yang dibuatnya. Albert Bandura dalam artikelnya, Toward a Psychology of Human Agency (2006) mengatakan, bahwa menjadi seorang agent (seseorang yang memiliki agency) berarti orang tersebut secara sengaja mempengaruhi fungsi dan keadaan hidup dirinya. Dalam pandangan ini, pengaruh pribadi merupakan bagian dari struktur kausal. Orang-orang sebenarnya dapat mengatur diri sendiri, bersikap proaktif, meregulasi diri sendiri, dan merefleksikan diri. Mereka bukan hanya dapat menjadi penonton dari perilaku mereka sendiri, tetapi adalah kontributor untuk keadaan hidup mereka sendiri.

Ini adalah sebuah tantangan bagi guru saat ini untuk bagaimana berinovasi merancang program-program baik yang bersifat intrakurikuler, ekstrakurikuler, maupun kokurikuler yang dapat memicu tumbuhnya student agency sehingga murid bisa bergerak dan memunculkan ide, memilih, dan merasa memiliki terhadap program-program pembelajaran yang dijalankan sehingga perlahan namun pasti akan dapat membantu menumbuhkembangkan jiwa kepemimpinan dalam diri murid. Secara sepintas bukan merupakan hal yang mudah, akan tetapi juga bukan hal yang tidak mungkin untuk dilaksanakan. Selamat hari guru nasional untuk seluruh rekan pendidik, tetap semangat dan terus bergerak untuk menjawab tantangan dan mewujudkan perubahan demi perbaikan pendidikan Indonesia saat ini dan dimasa yang akan datang.

———— *** ————-

Tags: