Suatu Hari Sebelum Sahur

Oleh :
Diana Fadila

Pada siang hari aku tidak bisa melihat kebahagiaan.
Orang-orang sibuk menahan hasrat,
tetapi aku tetap melihat suluh di bola matanya.
Sebagian orang bertangan basah, langkahnya jengah, dan gelisah.
Mereka menahan anak-anak bangkit dalam tubuhnya.
Ada apa siang ini?

Pada malam hari,
orang-orang sangat girang.
Setiap orang memiliki senja paling indah di raut wajah.
Tidak ada hal mudah berubah secepat ini.

Rupaya santapan es buah ditambah serbuk bermaslahat
membuat mereka lupa diri.

Sampai jumpa sahur nanti.

Cilacap, 2021

Jeep Oranye

Warna mobil jeep bapak oranye.
Suatu hari, ia mengajakku jalan-jalan menaiki Si Oren.

Pakailah sabuk pengaman nduk,
agar amalanmu tidak mudah lepas
ingatlah kita terpantau di setiap persimpangan.

Apakah kaca spion kurang maju sedikit Pak?

Ya, majukan sedikit.
Suatu hari nanti kau bisa mengendarai.
Lihatlah ke belakang sesekali,
jangan terlalu lama.
Kau akan tahu cara berjalan lurus ke depan.

Bolehkah aku buka jendela Pak?

Matikan penyejuk udara dahulu nduk,
kau dapat menyelamatkan marcapada.

Lihatlah ke luar nduk.

Beberapa anak kecil melambai.

Nduk,
di bola mata mereka ada kegembiraan
lain kali kau harus menyelam lebih dalam
untuk melihat kelam yang samar oleh riang.

Apakah mereka tidak benar-benar gembira Pak?

Nduk,
kesenangan adalah tanda bahwa kematian mulai meraba jiwa manusia-Pramoedya.

Lain kali kita akan jalan-jalan lebih jauh
dan mungkin sampai sangat jauh,
hingga biji mahoni terasa manis.

Cilacap, 2021

Tak Punya Waktu Membaca Sajak

Buku warna merah dari rahim ibu bukti kesucian sajak.
Sejak lahir buku itu menangis meminta susu,
namun ia mendapat seliter air parit.
Dibersihkannya paras merah rona bahadur oleh ibu.
Tampak jelas ia menyimpan jutaan jendela penghubung
dari masa ke masa.

Ibu memberikan buku merah itu untuk anaknya.
Ingatlah ibu berpesan:
“kata-kata adalah kendaraan menuju keabadian.”

Ketika ibu sudah berpulang,
ia hanya bisa memandangi buku merah disertai penyesalan.

Mengapa tidak belajar melafalkan sajak?
Sajak buku dari rahim ibu,
kunci filantropi kehidupan.

Cilacap, 2021

Pangeran dari Timur

Bangsa Barat penyuka buah tangan, petualangan, dan senapan
konon senjata paling mematikan saat itu.
Rempah melimpah serta kucuran matahari tak henti.
Bagi bangsawan penyuka kemewahan hal itu nadir,
“hanya bisa kau dapat dari negeri bernama Hindia Belanda.”

Lama menapak meninggalkan banyak jejak.
Lahir pemberontak pencetus kemerdekaan
dari aliran darah kejam yang tertanam.
Ia menyebut dirinya Pangeran.

Pangeran, bukan pendekar bak kesatria berkuda.
Jangan bayangkan ia mengendarai kuda putih,
memegang pedang panjang, dan menyeru “serang!”

Raden Saleh Syarief Bustaman
penyeru perlawanan melalui lukisan.

Cilacap, 2021

Cita-cita

Apa cita-citamu?

Saat kecil aku ingin menjadi nasi
yang dimakan setiap hari
tanpa takut basi.

Lalu, saat aku remaja
aku ingin menjadi puisi
yang dibaca olehMu
setiap lima waktu.

Sekarang kamu sudah dewasa.
Apa cita-citamu?

Sekarang cita-citaku
mencintaiMu
tanpa takut Kau membeciku atau mengasihiku.

Cilacap, 2020

Tentang Penulis :
Diana Fadila, lahir di Boyolali 7 Mei 1998. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pegiat di Komunitas Buka Buku. Dia dapat dihubungi melalui surel dianafadfad75@gmail.com, instagram @diananana_fa

——– *** ———

Rate this article!
Suatu Hari Sebelum Sahur,5 / 5 ( 2votes )
Tags: