Subuh di Annuqayah

Oleh :
Fadhil Sekennies

Sebelum adzan subuh memanggil
Aku berdzikir bersama puisi dan doa-doa kecil
Nama-nama jalan menjadi sandaran
Lorong dan kelokan seperti berpesan

“Yang asing takkan lahir,
Sepanjang kau hadir”.

Jalan masih lengang dan aku bebas mengenang
Tentang nama-nama guru yang harum memeluki zaman
Membangun kota-kota pengetahuan di kepala
Tempat bertualangnya ilmu dan rindu ke dada

Bekumandanglah adzan sepanjang subuh yang mempesona
Diketuknya telinga dan hati dengan embun lafadz-Nya
Diayunkannya kaki cepat-cepat ke masjid
Untuk membasuh hitam kenangan berjilid-jilid

“Terang memburu sebentar lagi akan melukis
Tuntutan masa depan segera menari-nari di jari manis
Saat hidup kembali, jantung berdegup riang
Mencari-cari torehan luka-tawa sebuah kehidupan”.

Mata Pena, 13 Juni 2021
?
Senandika Kata untuk Herul & Rizqi Mahbubi

Kita berjumpa membawa banyak kata di kepala
Menyusuri seluk beluk kenangan di taman ingatan
Mengecup manis berbagai aksara di jantung malam
Bahwa dada kita cukup mampu menampung semesta kata
Meski satu pelukan
Lebih paham cara bekerja sebagai rindu

Kita telah sepakat untuk saling memeluk puisi
Ketika pacu rindu menyerang ke debar dada
Saat tawa dan tangis bergerimis tipis
Bahwa segala yang retak terus beranjak dan berjarak

Kita selalu berjanji untuk bertemu diantara bait-bait aksara
Misal aku taman dan kau bunga-bunga kata
Misal aku akuarium dan kau ikan-ikan yang riang berenang
Atau aku kertas putih dan kau corat-coret diriku dengan tinta hitammu

Sungguh bila pelukan rindu bekerja
Semua bahasa takluk dan tunduk
Dan kita berlindung di teduh aksara

Mata Pena, 13 Juni 2021
?
Dalam Seporsi Nasi Gudang Kemisan

Aku membayangkan waktu
Kembali memutar ke ruang masa lalu
Dimana aku tersesat dalam lapar seharian
Dan kau datang sebagai pahlawan

Aku membayangkan dirimu adalah Ibu
Dalam dingin dan panas musim
Kau meninabobokkan diriku
Dengan kelezatan sepanjang kunyahan

Aku membayangkan kau masakan bintang tujuh
Meski orang-orang kecil mampu membeli dirimu
Dalam sebungkusnya dengan harga 5.000 saja
Bahwa nikmat-puas tak mesti mahal berjuta-juta

Mata Pena, 13 Juni 2021
?
Anatomi Rindu

Puisi memang tak pernah utuh
Menggambarkan anatomi tubuhmu
Sengaja sebagiannya kubiarkan tinggal bersama waktu
Suatu waktu bila retak akan kuambil
Lalu kupersembahkan kepadamu

Puisi memang tak pernah utuh
Menuliskan tentangmu yang taman
Sebab kaulah muara segala keindahan
Yang setia kupandang sebagai kepulangan

Puisi memang tak pernah utuh
Menuliskan riwayat cinta yang kupunya
Bahwa segala yang kusapa dan kujumpa
Telah menjelma engkau

Puisi memang tak pernah utuh
Mencatat perjalanan hari-hari lalu
Maka aku memilih bertahan bersama puisi
Agar rindu aman memeluki diri

Mata Pena, 14 Juni 2021
?
Stanza Kata untuk Le’ Oza

Mata kata melahirkan ragam cerita
Tentang kenangan di rahim ingatan
Di antara percakapannya aku dan dirimu
Sepasang kata yang saling mengeja

Entah karena aku yang terlalu lemah
Atau bahasa rindu tak mampu kujamah

Kau pernah bertanya,
“Kenapa kau sangat menyukai puisi?”
Aku terdiam memilin banyak hal
Membiarkan bahasa bekerja dengan baik

Dan salah-satu kata yang kupilih adalah matamu
Dimana kau pernah menjadi nyala matahari pagi
Yang membangunkan puisi berkali-kali

Mata Pena, 15 Juni 2021
?
Nyala Kata yang Sengaja Merahasia

Kau mungkin tidak akan tahu kalau aku mencintaimu
Seperti aku yang memandangmu sebagai pelangi
Setia menanti datangmu sehabis kau hujani dadaku

Kau mungkin tidak akan tahu kalau aku mencintaimu
Seperti aku yang memandangmu sebagai purnama
Dan kutahu yang berteduh bukan cuman aku

Kau mungkin tidak akan tahu kalau aku mencintaimu
Seperti aku yang menganggapmu sebagai matahari
Kupikir akulah satu-satunya orang yang kau sinari

Kau mungkin tidak akan tahu kalau aku mencintaimu
Seperti nyala mata lampu di ruang tamu
Setia menunggu kau mengetuk pintu rumahku

Kau mungkin tidak akan tahu kalau aku mencintaimu
Seperti kata-kata yang sengaja merahasia
Dan kau mencari letak di mana cintamu berdiam

Kau mungkin tidak akan tahu kalau aku mencintaimu
Tanpa kau sadari aku telah menyebutmu berkali-kali
Seperti doa-doa, merayu Tuhan dengan kata-kata

Mata Pena, 15 Juni 2021 ?
Mencintaimu di Rahim Mimpi

/I/
Bila hari libur telah hadir
Adalah waktu terbaik untuk tidur
Menghibur kesepian yang tak berumur

Sebab tak ada yang benar-benar
Mencintai diriku
Selain Ibu dan puisi

/II/
Saatnya pergi ke rahim mimpi
Siapa tahu aku menemukanmu di sana
Dan kita bercinta lagi dan lagi

Sampai pagi menyalakan matahari
Memberangus mimpi-mimpi di dahi

/III/
Sebab hanya dengan itulah
Tak pernah kutemui penolakan cintamu!

Mata Pena, 2021

Tentang Penulis :
Fadhil Sekennies, nama pena dari Moh Fadil Hasan. Alumni PP, Annuqayah daerah Lubangsa. Mengabdi di LPI Al-Qodiri Pakondang Rubaru Sumenep. Aktif di Majelis Sastra Mata Pena (MSMP) dan Komunitas Penulis Al-Qodiri (KOPI).

———- *** ———–

Rate this article!
Subuh di Annuqayah,5 / 5 ( 2votes )
Tags: