Sukses Kendali Harga

foto ilustrasi

Hanya bulan Ramadhan yang ditunggu sebagai berkah (pengharapan) oleh seluruh pedagang di Indonesia. Selama berabad-abad, secara tradisi Ramadhan menjadi periode puncak belanja di seantero Nusantara. Berbagai komoditas pangan diburu masyarakat selama bulan puasa. Pada puncaknya, separuh bulan Ramadhan akan menjadi big sale komoditas tekstil, dan produk tekstil. Seluruh jenis sandang, pakaian dewasa (fashion pria, dan wanita) serta pakaian anak-anak diburu masyarakat.

Pada masa pandemi, berkah ke-ekonomi-an Ramadhan gencar diburu pedagang dengan berbagai cara trik dagang. Termasuk menaikkan harga, dan menambah stok. Tetapi musim belanja Ramadhan tahun 2020 lalu, terasa bagai tersumbat CoViD-19. Pemerintah memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di seluruh Indonesia, sepekan sebelum Idul Fitri. Terutama di pulau Jawa. Jam operasional pertokoan, dan supermarket dibatasi hingga pukul 21: 00, dengan pengawasan protokol kesehatan (Prokes) ketat.

Pengunjung di pusat perbelanjaan dibatasi maksimal separuh kapasitas, sebagai cara mencegah kerumunan orang. Seluruh pedagang komoditas sandang kelimpungan, karena belum seluruh stok terjual habis. Pada ujung Ramadhan, Idul Fitri 1441 Hijriyah, juga tidak disarankan menyelenggarakan shalat Idul Fitri. Termasuk masjid negara, Istqlal (Jakarta), dan masjid agung Al-Akbar (Surabaya) tidak menyelenggarakan shalat Idul Fitri. Serta kegiatan tradisi mudik lebaran dilarang.

Perekonomian nasional (dan daerah) terpuruk, merosot tajam. Sampai minus (-) 2, 07%. Rata-rata daerah juga mengalami kontraksi ekonomi minus (-) 2,7%. Banyak toko, dan warung makan tutup. Pusat perbelanjaan juga sepi karena banyak toko fashion, kafe, dan restoran memilih tutup operasional. Aspek perekonomian harus mengalah pada prioritas penanganan wabah CoViD-19. Geliat perekonomian beralih pada produksi “fashion” APD (Alat Pelindung Diri). Terutama masker, dan hand-sanitizer.

Kini bulan Ramadhan 14442 Hijriyah telah memasuki sepertiga masa puasa. Menjadi berkah (pengharapan) seluruh pedagang. Hampir seluruh bahan pangan mengalami kenaikan harga, sekitar 10%. Kenaikan landai terjadi di seluruh daerah. Namun dimaklumi karena bisa dianggap sebagai “upah tambahan” masa puasa. Walau biaya dapur memerlukan tambahan. Inflasi bulan April (dan Mei), dipastikan mengalami kenaikan. Laju inflasi dipimpin oleh kenaikan harga daging, ayam, dan telur.

Indeks Harga Konsumen (IHK) juga mengalami kenaikan. Di Jawa Timur, IHK tercatat sebesar 105,54. Artinya, terjadi kemahalan sebesar 5,54%, masih lebih rendah dibanding IHK nasional yang mencapai. Selisih IHK bulan lalu dengan bulan berjalan dirumuskan sebagai inflasi (dan deflasi). Inflasi tertinggi terjadi di Jember (0,45%), sedangkan inflasi terendah terjadi di Malang (0,08%). Sebanyak 8 daerah di Jawa Timur dijadikan lokasi penjejakan IHK. Yakni, Madiun, Malang, Banyuwangi, Jember, Probolinggo, dan Sumenep.

Inflasi landai telah dimulai pada bulan Maret, sebelum Ramadhan. Sedangkan pada bulan puasa selalu terjadi penambahan kebutuhan pangan, sebagai tambahan ragam asupan konsumsi. Begitu pula pada kelompok mata dagang sandang, mengalami kenaikan sangat tinggi. Selain sebagai tradisi periode puncak belanja, Ramadhan tahun ini juga sebagai awal sekolah, belajar tatap muka. Sekaligus tahun ajaran baru.

Kebutuhan sandang berupa seragam sekolah, dan ragam fashion (sepatu, kaos kaki, tas sekolah, dan topi). Kenaikan harga kelompok sandang berkisar antara 50% hingga 80%, bergantung bahan, dan merek dagang. Sehingga TPID (Tim Pengendalian Inflasi Daerah) perlu bekerja lebih keras. Seyogianya TPID telah meng-agendakan operasi pasar murah lebih luas.

Pemerintah perlu menjaga stabilitas harga pangan, karena kinerja petani (dan nelayan) sukses mempertahankan ketersediaan pangan. Tetapi pengeluaran petani dan nelayan lebih tinggi dibanding hasil panen.

——— 000 ———

Rate this article!
Sukses Kendali Harga,5 / 5 ( 1votes )
Tags: