Sukses Misi Olympiade

foto ilustrasi

Lagu kebangsaan “Indonesia Raya” bergema di gelanggang olahraga Musashino Sport Plaza, Tokyo, Jepang. Pertanda kontingen Indonesia menempati podium tertinggi pada even Olympiade. Cabang olahraga (Cabor) nomor Ganda Putri, meraih medali emas pertama Indonesia pada Olympiade Tokyo. Sekaligus emas pertama sepanjang sejarah prestasi Ganda Putri dalam Olympiade. Tetapi menjadi pengharapan emas terakhir dalam Olympiade Tokyo.

Seketika posisi Indonesia terangkat menjadi peringkat ke-35, pada hari ke-10. Naik 12 tingkat dibanding hari-hari sebelumnya. Indonesia sudah mengoleksi 1 emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Pada Olympiade (tahun 2016) lalu di Rio de Janeiro, Brasil, Indonesia menempati peringkat ke-46. Peringkat tertinggi diperoleh saat mengikuti Olympiade Barcelona (1992), menempati posisi ke-24. Meraih 2 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Semua dari cabor (Cabang Olahraga) Bulutangkis.

Perbaikan prestasi keolahragaan nasional telah mulai terbangun dengan bukti perolehan medali selain Cabor Buluangkis. Antara lain, Cabor Angkat Besi, telah meraih medali berturut-turut dalam 4 kali Olympiade, melalui atlet Eko Yuli Irawan. Sudah dikoleksi 2 medali perak (Olympiade Tokyo, dan Olympiade Rio de Janeiro), dan 2 medali perunggu (Olympiade London 2012, dan Olympiade Beijing 2008). Masih terbuka untuk Eko Yuli Irawan, mengikuti Olympiade Paris 2024. Sekaligus menjadi “legenda” atlet Angkat Besi dunia.

Tidak mudah mengukir prestasi olahraga pada ajang level global, khususnya Olympiade (dengan grade tertinggi). Diperlukan pembinaan sistemik dalam waktu lama, disertai biaya memadai. Namun akan terbayar sepadan dengan pengibaran bendera merah-putih podium tertinggi. Martabat bangsa (negara) turut terkatrol naik. Seperti yang terasa pada kemenangan Ganda Putri Bulutangkis Inonesia, Greysia Polii-Apriyani Rahayu. Sekaligus sejarah baru nomor Ganda Putri, bisa meraih emas Olympiade.

Tidak mudah berlaga pada level Olympiade. Seperti dialami atlet nomor Lari 100 meter, Lalu Muhammad Zohri. Sudah mengukir medali emas pada Kejuaraan Atletik yunior (U-20) di Finlandia, tahun 2018. Catatan waktu terbaiknya 10,18 detik. Pada Olympiade Tokyo, catatan waktunya melambat menjadi 10,26 detik. Finish posisi kelima. Padahal Zohri bisa mencatat waktu lebih cepat (10,13 detik) saat berlaga dalam ajang Kejuaraan Atletik Asia, di Qatar, 2019.

Konon pada ajang Grand Prix, Osaka, Jepang, 2019, Zohri bisa berlari lebih kencang. Mencatatkan waktu terbaiknya, 10,03 detik pada nomor 100 meter. Jika konsisten dengan catatan waktu terbaiknya, Zohri bisa membawa pulang medali emas. Pada nomor Lari 100 meter, medali emas diraih atlet Afrika Selatan (Gift Leotlela) dengan catatan waktu 10,04 detik. Masalah yang dihadapi Muhammad Zohri, adalah, “teknologi olahraga.” Harus memperbaiki teknik posisi start.

Problem yang sama dihadapi atlet angkat besi putri, Nurul Akmal, asal Aceh. Posisinya sudah melejit, sejak akhir tahun 2020, peringkat ke-14. Tetapi menjadi peringkat ke-5 pada Olympiade Tokyo. Total angkatannya 256 kilogram (115 kilogram snatch, dan 141 clean and jerk). Nurul Akmal, hanya perlu memperbaiki teknik (dan konsistensi) angkat barbel seberat 151 kilogram (clean and jerk). Pernah dilakukan saat kejuaraan IWF Wolrd Championships 2019, di Thailand.

Teknologi olahraga patut menjadi evaluasi seksama pembinaan prestasi atlet. Termasuk rekrutmen pelatih bersertifikat global, dan berprestasi, dengan penguasaan teknologi. Niscaya berkonsekuensi dengan peng-anggaran pemerintah. Seyogianya DPR bersama pemerintah bisa meningkatkan anggaran keolahragaan pada tahun 2022. Dipagu sekitar 0,1% APBN. Termasuk transfer ke daerah sebagai DAK (Dana Alokasi Khusus (DAK).

Pembinaan keolahragaan yang lebih memadai bisa menjadi pengharapan logis meraih prestasi tingkat global.

——— 000 ———

Rate this article!
Sukses Misi Olympiade,5 / 5 ( 1votes )
Tags: