Suksesi Malaysia

Foto Ilustrasi

Negeri jiran, Malaysia sedang mempersiapkan suksesi pucuk pemerintahan. Perdana Menteri Mahathir Mohamad sudah menyerahkan surat kepada Yang Di Pertuan Agung Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah. Sebagai Kepala Negara Malaysia, Raja akan mempertimbangkan, dan menetapkan dengan hak veto. Pengunduran diri Mahathir, bisa diterima, bisa pula ditolak.
Dua hari sebelumnya telah terjadi permufakatan partai koalisi Pakatan Harapan (PH). Bahwa suksesi “damai” dilaksanakan setelah penyelenggaraan konferensi Kerjasama Ekonomi Asia Apasifik (APEC) pada bulan November tahun (2020) ini. Permufakatan dinyatakan di hadapan publik (konferensi pers) oleh Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad selaku pimpinan koalisi PH. Serta dihadiri pimpinan parpol koalisi PH.
Konferensi pers nampak mantap menyatakan kebulatan tekad suksesi damai. Turut dalam konferensi pers, antara lain, Datuk Anwar Ibrahim (Presiden Parti Keadilan Rakyat, PKR), dan Serta Mohamad Sabu (Presiden Parti Amanah). Juga dihadiri Tan Sri Mahyiddin (Presiden Parti Bersatu), dan Lim Guan Eng (Presiden Parti Aksi Demokrasi, DAP). Tetapi permufakatan suksesi damai terancam gagal. Karena ke-riuh-an gerakan politik menolak Datuk Anwar Ibrahim.
Hanya berselang sehari, tiba-tiba Mahathir Mohamad menyatakan mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri. Konon, Mahathir merespons perkembangan politik terkini di Malaysia. Tersiar desas-desus, akan muncul koalisi baru, dengan misi utama menolak suksesi. Sekaligus mempertahankan Mahathir sampai akhir jabatan, dan Pemilu lagi. Koalisi baru juga terdiri dari anggota parlemen dari PKR yang dipimpin Anwar Ibrahim.
Koalisi baru terdiri dari Partai Pribumi Bersatu Malaysia (Bersatu) yang menaungi Mahathir Mohamad, Parti Islam SeMalaysia (PAS), faksi pecahan PKR, Gabungan Parti Sarawak, Parti Warisan Sabah, dan UMNO (United Malays National Organisation. Patut dicatat, UMNO merupakan motor penggerak koalisi terbesar di Malaysia, “Barisan Nasional” yang telah berkuasa selama 61 tahun.
Pada Pemilu 9 Mei 2018, Barisan Nasional, dikalahkan koalisi oposisi. Ini pemilu bersejarah di Malaysia, karena sepanjang sejarah (14 kali Pemilu) Barisan Nasional selalu menang. Mahathir, adalah mantan pimpinan UMNO dua dekade, sampai tahun 2016. Serta memimpin koalisi Barisan Nasional memenangi 5 kali pemilu (tahun 1982 hingga 1999). Melepas UMNO (dan koalisi Barisan Nasional), Mahathir mendirikan Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM), biasa disebut Parti Bersatu.
Pada Pemilu Malaysia 2018, PPBM bergabung dengan Anwar Ibrahim (bekas rival politik Mahathir) dalam koalisi Pakatan Harapan (PH). Memenangi pemilu 2018 dengan meraih 113 kursi (50,9%) dari seluruh anggota parlemen sebanyak 222 kursi. Sedangkan bekas rezim hanya memperoleh 79 kursi (35,58%). Pemilu lima tahun sebelumnya (2013) koalisi Barisan Nasional merangkum sebanyak 132 kursi (hampir 60%).
Mahathir bin Mohamad, harus diakui, memiliki magnet politik sangat besar. Nyaris identik dengan per-politik-an Malaysia. Sekaligus menjadi Perdana Manteri paling lama (1981 hingga 2003). Mengawali karir politik sebagai anggota parlemen Malaysia Daerah Pemilihan (Dapil) Langkawi, negara bagian Kedah. Sebagai tokoh politik utama Malaysia, Mahathir, juga tak luput dari kritisi sepanjang kepemimpinannya.
Termasuk kebijakannya yang kontroversial (tapi populis), menolak kepentingan ekonomi barat. Bersitegang dengan Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Namanya melambung lagi (pada usianya yang ke-91 tahun) ketika terang-terangan melawan PM Najib Razak, karena skandal 1Malaysia Development Berhad (perusahaan investasi BUMN Malaysia).
Mahathir, kini berstatus pelaksana tugas (semacam Plt) Perdana Menteri. Wakil Perdana Menteri, Wan Azizah Wan Amir, tidak bisa bisa serta-merta menggantikannya. Begitu pula Anwar Ibrahim, merasa di-telikung permufakatan koalisi PH. Suksesi Malaysia masih menunggu titah Raja (juga bisikan Mahathir).
——— 000 ———

Rate this article!
Suksesi Malaysia,5 / 5 ( 1votes )
Tags: