Sumur Pompa di Ladang

Modernisasi alat dan mesin pertanian (alsintan), layak segera dimulai serempak, merespons perubahan iklim. Terutama pada kawasan sentra pangan. Sekaligus mengurangi faktor kehilangan yang biasa terjadi saat panen, karena alat tidak efisien. Pemerintah dapat menyokong pengadaan alat mesin pertanian (alsintan) modern melalui KUR (Kredit Usaha Rakyat) kepada usaha mikro di pedesaan. Namun ironis, alsintan yang sederhana ternyata masih harus di-impor.

Musim hujan baru saja berlalu tepat waktu. Seiring musim kemarau yang datang tepat waktu pula. Namun dikhawatirkan terjadi kemarau ekstrem, biasa dengan 60 hari tanpa hujan (HTH) pada bulan Mei – Juni. Tetapi kondisi ladang biasa mengering, panen raya padi, baru saja berakhir. Sehingga petani memanfaatkan lahan untuk tanaman palawija. Antara lain menanam jagung (di Jawa), sorgum (di Nusa Tenggara Timur), ubi-ubian (di Kalimantan), dan kedelai (di Sulawesi Selatan).

Cuaca akan terasa lebih menyengat. Ladang mulai tampak merekah. Pemerintah memikul kewajiban mendorong penggunaan alsintan dalam negeri, melalui BUMN permesinan. Terutama pengadaan pompa air dan pembuatan sumur bor. Pompa air berkonsekuensi menambah “jatah” solar pertanian. Bagai gayung bersambut, Kementerian Pertanian telah mencanangkan bantuan alsintan, termasuk pompa air. Jawa Timur akan memperoleh sebanyak 3.700 unit.

Pompa air sangat dibutuhkan pada ladang tadah hujan. Di Jawa Timur, terutama pada kawasan Madura, dan kawasan “tapal kuda” (Pasuruan, Probolinggo sampai Situbondo). Hamparan areal tadah hujan masih seluas 368 ribu hektar lebih, serta bisa berkembang sampai 400 ribu hektar. Biasanya masih bisa menghasilkan padi 2,25 juta ton padi (setara 1,3 juta ton beras).

Jawa Timur, bersama dua propinsi lain di Jawa (Jawa Tengah, dan Jawa Barat), akan dipertahankan sebagai sentra pangan nasional. Jawa Timur, misalnya, menyokong 18% produksi padi nasional. Pada tahun 2023, Jawa Timur menghasilkan 9,7 juta ton gabah kering giling (setara 5,6 juta ton beras). Penyokong terbesar perberasan nasional.

Modernisasi alsintan menjadi salahsatu rekomendasi Kementerian Pertranian, sebagai respons kemungkinan kemarau panjang. Bisa jadi, kemarau akan disertai gejala El-Nino, seperti tahun 2023. Lembaga iklim internasional, Copernicus Climate Change Service (C3S), memprediksi El-Nino, akan berlanjut pada tahun (2024) ini. Sebagai negara dengan agraris, Indonesia patut memperkuat agri-culture, sebagai kunci “keamanan” nasional.

Seluruh bantuan (alsintan) kepada kelompok tani, tercatat secara by name by address. Termasuk bantuan pupuk, wajib dipastikan ketepatan. Altar Pengawasan distribusi pupuk bersubsidi, dikenal dengan 6 prinsip “tepat.” Yakni Tepat Mutu (TM), Tepat Waktu (TW), serta Tepat Jumlah/berat (TB), dan Tepat Tempat (TT). Juga Tepat Jenis (TJ), dan Tepat Harga (TH). Realitanya, petani kecil sering kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi.

Sebenarnya PT Pupuk Indonesia, telah menjamin kecukupan pupuk bersubsidi. Walau tidak 100% memenuhi permintaan kelompok tani sesuai RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok). Sebaliknya, konon, terdapat kartel yang memborong pupuk subsidi di tingkat kios. Selanjutnya di-oplos, dan dijual kembali dengan harga lebih mahal. Maka sistem perdagangan di tingkat kios perlu diubah, seiring penghapusan Kartu Tani sebagai “pas” untuk menebus pupuk bersubsidi.

Pompa air akan menjadi bantuan alsintan utama di seluruh Indonesia. Setiap unit pompa air, bisa melayani 50 sampai 100 hektar ladang. Maka dengan 50 ribu unit pompa akan bisa melayani sampai 500 ribu hektare. Diharapkan bisa “menjanjikan” panen sebanyak 1,5 juta ton. Nilai ke-ekonomian- petani mencapai Rp 15 triliun per-tahun. Diharapkan, profesi ke-pertani-an bisa “menarik” minat calon petani milenial.

——— 000 ———

Rate this article!
Sumur Pompa di Ladang,5 / 5 ( 1votes )
Tags: