Susangka, Kades Kalirejo Pebisnis Perkutut Sukses

Susangka, Kades Kalirejo Kecamatan Sumbermalang Situbondo dikenal peternak burung perkutut sukses. Sejumlah pecinta burung perkutut saat mengamati pajangan burung di rumah Susangka. [Sawawi]

Budidayakan Anakan dari Thailand, Pernah Terjual Rp150 Juta
Kabupaten Situbondo, Bhirawa
Ternyata menjadi penghobi burung dapat mengumpulkan penghasilan keuntungan yang cukup besar. Bayangkan saja, seperti yang dilakukan Susangka, Kepala Desa Kalirejo, Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo mampu menghimpun keuntungan hingga Rp20 juta per bulan. Sebuah angka penghasilan yang lumayan menjanjikan di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 saat ini.
Sore itu, sebuah mobil yang ditumpangi pecinta burung perkutut meluncur ke arah barat Kabupaten Situbondo. Di tengah perjalanan rombongan banyak menceritakan burung perkutut yang memiliki kicauan yang indah serta memiliki nilai jual yang tinggi. Salah satunya Agus Rejeki yang dikenal sebagai pecinta burung perkutut fanatik di Situbondo, ikut dalam rombongan mobil. Ia mengaku banyak kenangan manis saat memelihara perkutut bertahun tahun lamanya. “Ini (memelihara burung perkutut) dapat menghasilkan pendapatan yang lumayan besar,” ujarnya.
Mantan Sekretaris DPD Golkar Situbondo itu mengatakan, selain mendapatkan penghasilan besar, memelihara burung perkutut juga dapat memberikan kebahagiaan tersendiri di tengah beban hidup yang kini semakin berat. Dengan mendengarkan kicauan burung, hati dan pikiran seseorang semakin tenang. “Berbeda misalnya disaat sendirian menikmati kicauan burung dengan melamun tanpa menikmati kicauan burung. Akan sangat hampa rasanya,” kupas Agus Rejeki.
Sementara itu Susangka, saat ditemui di kediamannya di Desa Kalirejo terlihat suasana tampak ramai dengan kendaraan. Terutama saat memasuki teras rumah Kades Susangka terlihat ada sejumlah pria sedang duduk santai. Sementara beberapa pria lainnya tampak sibuk melihat koleksi burung perkutut milik Susangka. “Ini akan saya jual. Silahkan kalau mau dipelihara,” aku Susangka kepada para tamunya kala itu.
Menurut Susangka, ada berbagai burung perkutut yang sengaja untuk dijual dan sebaliknya ada burung yang hanya murni untuk dipelihara sendiri. Khusus burung yang dipelihara, diakui Susangka banyak nilai ruginya, meski mendatangkan kesenangan. Susangka mengaku untuk kebutuhan burung burung peliharaannya itu, ia harus menyiapkan stock pakan yang cukup dalam waktu lama. “Namanya pecinta burung, pakan ternak juga harus disiagakan dengan cukup. Itu bagian untuk perawatan burung agar memiliki kicauan yang indah,” ucap Susangka yang diamini para tamunya.
Tak cukui disitu, Susangka lantas menceritakan kisahnya hingga bisa menjadi pebisnis burung perkutut sukses di Kabupaten Situbondo. Dia mengaku sangat hobi memelihara burung perkutut sejak masih berusia SMA puluhan tahun silam. Kata Susangka, sejak kelas SMA, dia diberi amanah untuk merawat burung perkutut oleh orang tuanya. “Saat pertama kali nama burung yang diberi orang tua bernama Jungle. Karena itu amanat, burung itu selalu saya rawat dengan baik,” ucap Susangka.
Bahkan setiap pergi ke sekolah, aku Susangka, dirinya membawa burung burung tersebut hingga ke dalam kelas. Meski menjadi bahan tertawaan teman teman sekelas, bagi Susangka tidak ia perdulikan. Sebaliknya, urai Susangka, kecintaannya kepada burung perkutut justeru semakin bertambah kuat. “Saya sering di bully sama teman teman sekelas. Sebab pergi ke sekolah membawa burung perkutut. Disebut sebut burung itu tidak menarik karena berusia tua,” terang Susangka.
Ledekan yang diterima Susangka dari teman temannya tidak merubah kecintaannya untuk memelihara burung dengan kicauan khas. Bahkan saat Susangka pergi kesekolah setiap hari selalu setia membawa burung tanpa mempedulikan omongan teman teman sekelasnya. “Itu dari saking cintanya saya terhadap burung perkutut. Seiring berjalannya waktu saya berniat untuk beternak burung perkutut. Hingga akhirnya saya mulai membeli burung-burung perkutut milik teman di Desa Kalirejo untuk selanjutnya dipelihara,” aku Susangka seraya mengakui ia bisa memiliki ilmu membedakan burung yang bagus dengan burung yang tidak bagus.
Susangka menuturkan, setelah menjadi peternak burung perkutut ia mulai bergabung di sejumlah komunitas penggemar burung perkutut di Situbondo. Bahkan, setiap ada lomba, Susangka diketahui tidak pernah absain mengikutinya. Dari komunitas burung itulah, Susangka banyak menemukan relasi baru. “Saya bahkan mengenal penjual anakan burung dari Thailand. Sejak saat itu saya mulai berbisnis jual beli burung perkutut,” ujar Susangka.
Berbisnis burung perkutut dirasakan Susangka tidak langsung mulus dan lancar dalam meraih keuntungan. Diakuinya, saat awal memasarkan burung perkutut di pasaran dirasakan cukup sulit. Namun Susangka tidak mudah patah arang, Susangka terus berusaha agar bisnis burung perkutut bisa laku terjual dengan cepat. Suatu saat, kenang Susangka, ia memiliki gagasan untuk membuat arisan burung. “Dengan ide ini kan ada yang menang. Nah dari arisan itulah momen untuk mendapat uang terbuka lebar. Sekalian mendapatkan burung perkutut berkualitas juga ada peluang besar,” kupas Susangka.
Benar adanya, sambung Susangka, ide tersebut langsung menuai hasil yang membanggakan. Burung-burung Susangka banyak yang laku dibeli para pecinta burung asal Situbondo. Bahkan mulai banyak orang luar Kota Situbondo yang mencari Susangka untuk sekedar membeli perkutut secara langsung. “Memang belakangan burung perkutut saya yang laku terjual memiliki kualitas yang berbeda dengan milik peternak yang lain. Bahkan salah satu burung perkutut milik saya yang dibeli orang Malang berhasil menjadi juara nasional. Burung itu sekarang dibandrol dengan harga Rp 150 juta. Padahal saat beli ke saya dahulu hanya Rp 50 juta,” pungkas Susangka. [Sawawi]

Tags: