Tahan Inflasi Ramadan

Konsumsi selama bulan Ramadhan makin meningkat, karena bertambahnya jamuan makan bersama. Tetapi tren positif ke-ekonomi-an pangan wajib diwaspadai membawa inflasi. IHK (Indeks Harga Konsumen) meningkat, bisa melilit perekonomian keluarga. Pemerintah memikul kewajiban melindungi perekonomian rakyat, terutama mengendalikan inflasi pasca Ramadhan. Sekaligus wajib melindungi keberlangsungan UMK-UM (Usaha Mikro Kecil dan Ultra-Mikro).

Musim panen belanja pada periode Ramadhan, merupakan berkah. Harga naik, tetapi permintaan tetap melimpah. Omzet UMKUM meningkat tajam. Permintaan beras meningkat, karena dibutuhkan untuk menunaikan zakat fitrah tahun 1445 Hijriyah. Jika terdapat 200 juta jiwa yang wajib zakat fitrah, maka diperlukan sebanyak 500 juta kilogram (500 ribu ton). Dengan patoikan harga pasar paling murah (Rp 16 ribu per-kilogram) maka nilai total zakat fitrah sebesar Rp 8 trilyun. Inflasi menjadi keniscayaan.

Inflasi pangan tercatat mencapai 10,33%. Tertinggi selama 20 bulan. Terutama terdongkrak harga beras yang bertahan mahal selama 24 bulan terakhir. Pada beberapa daerah, bisa jadi bertambah mahal, karena harga beras beragam. Bergantung pada sarana dan prasarana distribusi. Ironisnya, pemerintah seolah-olah “takluk,” dan menuruti gejolak pasar. Sehingga pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium.

Tetapi patokan HET selalu terlampaui, tetinggal harga riil pasar. HET sudah dinaikkan Rp 1.000,- per-kilogram, menjadi Rp 11.900,-. Berlaku (sementara) mulai 10 Maret sampai 23 Maret. Maka tiada cara lain, Pemerintah (dan daerah) patut menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) lebih masif. Karena pangan utama, beras, makin membumbung tinggi. Konon terdapat isu, kenaikan harga beras sebagai “lobi” kartel. Tujuannya menciptakan suasana, agar program “makan siang gartis” segera direalisasi. Sangat tidak bijak.

Berdasar catatan BPS (Badan Pusat Statistik) inflasi bulanan pada Maret 2024 sebesar 0,52%. Namun sebenarnya inflasi secara tahunan sudah mencapai 3,05%. Sudah melebihi plafon patokan APBN 2024, sebesar 3%. Begitu pula IHK, semula 102,99 menjadi 106,13. Semakin memberatkan masyarakat. Sekaligus tidak disukai pedagang, karena omzet menurun.

Kelompok pengeluaran yang memberikan andil terbesar pada inflasi adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi sebesar, 1,42%. Perhitungan (per-angka-an) BPS yang rumit, dan sulit pula dimengerti awam. Komoditas penyumbang utama inflasi pada kelompok ini, antara lain telur ayam ras, daging ayam ras, beras, cabai rawit, bawang putih, dan bawang merah.

Komoditas penyumbang inflasi saat ini, merupakan bahan pangan paling dibutuhkan. Terutama telur ayam. Selain sebagai menu meja (di rumah, di restoran. sampai di hotel) juga dibutuhkan untuk pembuatan kue. Begitu pula daging ayam, sudah mencapai Rp 40 ribu per-kilogram, naik 10%. Bersama cabai, bawang putih, dan bawang merah, sebagai volatile food (biasa bergejolak). Bahkan bawang putih, sangat bergantung impor.

Kebutuhan cabai, juga tidak bisa dianggap enteng. Tetapi realitanya tahun 2017 Indonesia mengimpor cabai dari Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Walau tidak banyak, hanya sekitar 200 ton. Serasa percaya – tidak percaya, harga cabai lebih mahal dibanding haga daging sapi. Pada zaman Presiden Jokowi, cabai mampu memimpin laju inflasi, melebihi seluruh komoditas (pada Maret 2021).

Kendali harga pangan menjadi kewajiban pemerintah, sesuai mandat UU Nomor 18 Tahun 2012 Tentang Pangan. Pada pasal 13, menyatakan, “Pemerintah berkewajiban mengelola stabilitas pasokan dan harga Pangan Pokok, …, dan distribusi Pangan Pokok untuk mewujudkan kecukupan Pangan Pokok yang aman dan bergizi bagi masyarakat.” Berbagai cara harus ditempuh pemerintah mengendalikan harga pangan.

——— 000 ———

Rate this article!
Tahan Inflasi Ramadan,5 / 5 ( 1votes )
Tags: