Tak Hanya Cerdas, Konsumen Harus Nasionalis

Wahyu Kuncoro

Wahyu Kuncoro

Oleh :
Wartawan Harian Bhirawa
Spirit hadirnya Undang Undang Nomor 8/1999 tentang Perlindungan Konsumen adalah adanya keberpihan pemerintah dalam memberikan perlindungan terhadap masyarakat khususnya konsumen. Pada satu sisi, UU ini ingin meningkatkan harkat dan martabat konsumen sementara pada sisi lain, UU ini juga ingin menumbuhkan sikap pelaku usaha agar bertanggungjawab.
Pemerintah melalui Menteri Perdagangan juga telah mengeluarkan beberapa regulasi yang bertujuan untuk melindungi konsumen, misalnya regulasi soal label, manual dan kartu garansi, serta wajib SNI dan sebagainya. Namun demikian, meski sudah banyak regulasi yang dibuat untuk melindungi konsumen, masih saja kita temukan kasus konsumen yang menjadi bulan-bulanan pengusaha (produsen).
Terbukti dari berbagai razia yang dilakukan terhadap peredaran produk-produk/barang dagangan di pasar-pasar dan supermarket saja ada pihak produsen yang tetap menjajakan barang dagangannya tanpa memperhatikan ketentuan yang berlaku seperti melanggar ketentuan soal label dan sebagainya. Padahal kalau menilik sanksi bagi yang melakukan pelanggaran sangat berat. Berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen Pasal 62, pelaku usaha dapat dikenakan sanksi pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar apabila melakukan pelanggaran.
Realitas seperti ini mengindikasikan bahwa pelaku usaha ternyata tidak cukup ditakut-takuti ancaman sanksi agar mau lebih memperhatikan aspek perlindungan terhadap konsumen. Untuk itu, perlu dilakukan langkah edukasi terhadap masyarakat sebagai konsumen agar secara cerdas mengerti akan hak dan kewajibannya sebagai konsumen. Dengan kata lain, selain langkah represif dengan member sanksi kepada pengusaha yang melanggar, langkah preventif bagi konsumen untuk lebih waspada dan tahu akan hak dan kewajibannya menemukan urgensinya.
Cerdas dan Nasionalis
Semangat UU Perlindungan Konsumen sebagaimana paparan di awal salah satunya adalah untuk memberikan pemahan terhadap hak hak konsumen. Artinya, UU ini memberi pesan bahwa untuk melindungi dirinya, maka seorang konsumen haruslah berdaya yakni dengan menjadi konsumen yang cerdas dan mandiri. Menjadi konsumen yang cerdas dan mandiri, bukan saja akan terhindar dari produk yang berbahaya, tetapi juga memiliki kemandirian untuk melakukan perlawanan ketika ada hal-hal yang merugikan diri konsumen. Konsumen yang cerdas akan selalu meneliti barang sebelum membeli, memperhatikan label, manual, kartu garansi,  masa kedaluwarsa dan sebagainya. Konsumen cerdas juga akan  memastikan produk itu sesuai mutu kesehatan, keamanan, keselamatan, dan lingkungan.
Pada level tertentu, konsumen juga menghadapi ancaman yang tak kalah seriusnya yakni serbuan produk-produk asing. Era pasar pasar yang hari ini berlaku, membuat Indonesia tidak bisa lagi menolak serbuan barang-barang impor ke tanah air. Menolak mentah-mentah jelas tidak mungkin, maka yang harus dilakukan adalah sebuah gerakan dengan membangkitkan kecintaan terhadap produk dalam negeri. Dengan demikian, seorang konsumen tidak lagi harus dituntut untuk cerdas dalam menjaga diri dan lingkungannya dari produk-produk yang berbahaya, tetapi juga mampu menjaga bangsa dan negaranya dari serbuan produk asing.
Singkatnya, menjadi konsumen yang baik bukan saja harus cerdas dan mandiri tetapi juga harus memiliki jiwa nasionalis yang diekspresikan dengan salah satunya adalah mencintai dan menggunakan produk-produk dalam negeri. Rasa bangga terhadap produk lokal akan menjadi faktor signifikan yang mampu membentengi diri terhadap derasnya serbuan produk asing.
Bahwa membangun karakter konsumen yang memiliki kecintaan yang tinggi pada produk dalam negeri tentu bukan hal mudah. Terbukti kampanye untuk mencintai produk dalam negeri sudah lama digaungkan namun faktanya hari ini masyarakat kita masih begitu menggandrungi produk yang berbau asing. Artinya butuh kerja keras semua pihak untuk terus menggelorakan kecintaan terhadap hasil karya anak bangsa.
Bagi perusahaan sangat penting untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan mengingat ancaman dari persaingan produk akan semakin berat sejalan dengan semakin mudahnya produk impor masuk kedalam Negri. Tanpa perubahan kualitas dan hal lainnya upaya perintah dan kecintaan konsumen terhadap produk dalam negri hanya akan sia-sia.  Sebuah produk dalam negeri agar bisa dicintai masyarakatnya sendiri haruslah memiliki kualitasnya tidak kalah dengan produk-produk dari luar negeri. Produk-produk lokal yang berdaya saing lemah terhadap produk asing harus diberi perlindungan dan bimbingan oleh negara agar nantinya mereka bisa sejajar dengan kompetitor.
Dalam hal membangun nasionalisme terhadap produk nasional, kita layak belajar dari seperti Korea misalnya. Di negeri ginseng ini, sulit menemukan mobil lain selain merek Kia dan Hyundai yang diproduksi di dalam negeri. Di Seoul juga akan sangat sulit menemukan merek ponsel selain Samsung dan LG. Dengan semangat nasionalisme konsumennya, Korea justru bisa membawa budaya K-Pop dan lain-lain ke dunia.  Hal yang sama juga dilakukan oleh China. Bahkan hari ini, produk-produk Cina demikian membanjiri pasar tanah air. Mulai dari barang mewah hingga barang yang remeh temeh ada di sini.
Penyadaran Sejak Dini
Ketika ingin membangun karakter yang kuat khususnya dalam mendidik masyarakat yang memiliki kepekaan dan kecerdasan menjadi konsumen dan memiliki kecintaan terhadap produk dalam negeri maka edukasi sejak dini melalui lembaga pendidikan seperti PAUD dan TK relevan untuk dilakukan. Kita tentu patut memberi apresiasi kepada para pengelola pendidikan semacam PAUD dan TK bahkan SD yang mengajak para siswanya untuk praktik belanja langsung yang cerdas ke supermarket-supermarket.
Proses belajar dengan mengenalkan langsung perilaku cerdas sebagai konsumen tersebut tentu juga diharapkan kelak akan membuat mereka bisa menjadi konsumen cerdas saat dewasa nantinya. Selain itu, pada usia-usia dini tersebut, penting kiranya dibangun kesadaran untuk bisa menghargai hasil karya sendiri. Ini penting ditegaskan karena sering kita temui betapa banyak para pengelola pendidikan di level PAUD dan TK yang lebih suka mengajak para siswanya untuk merayakan pesta ulang tahunnya di rumah makan fast food semacam KFC, McDonald dan tempat-tempat asing lainnya. Tidak ada yang salah memang, tetapi apa itu artinya bagi anak-anak? Tidak lain adalah, kalau mulai dini ternyata anak-anak kita sudah diajari untuk menggunakan dan mencintai produk asing, maka kebiasaan itu tentu akan membentuk karakter ketika dewasa nanti.
Akhirnya, untuk menuju konsumen yang cerdas sekaligus memiliki jiwa nasionalis sungguh butuh kerja keras semua lini. Mulai dari sekolah yang harus sejak dini kepada anak didiknya untuk kritis terhadap produk yang dibelinya, menanamkan sikap untuk menghargai hasil karya bangsa sendiri, sementara pemerintah harus membuat kebijakan yang bukan saja mengayomi produk lokal tetapi juga mampu mendorong kreatitas dan invasi anak bangsanya. Dan yang tak boleh dilupakan adalah peran media dalam mengampanyekan kecintaan terhadap produk dalam negeri.
Wallau’alam Bhis-shawwab.

Tags: