Tak Mampu Sediakan Air Minum, PDAM Boleh Ganti Nama

Pemkot Surabaya,Bhirawa
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mempersilakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surya Sembada Kota Surabaya berganti nama menjadi Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB).
“PDAM diganti nama apa saja tidak masalah karena memang kondisinya seperti itu. Kalau soal payung hukumnya seperti apa, saya kira pasti ada jalan tengah. Kalau dipaksakan menjadi air bersih, tentu retribusi ke masyarakat juga akan tinggi,” kata Tri Rismaharini di Surabaya, Kamis.
Wali kota mengakui bahwa PDAM tidak mampu untuk memberikan kualitas air yang siap minum, tapi hanya mampu menyediakan air bersih.
Menurut dia, pihaknya sendiri tidak akan memaksakan diri untuk mengubah kualitas air di perusahaan berstatus BUMD (badan usaha milik daerah) itu menjadi air yang siap minum.
Untuk mengubah kualitas air menjadi air siap minum, lanjut dia, butuh investasi yang tidak sedikit karena diperkirakan bisa mencapai triliunan rupiah.
Tingginya biaya investasi ini karena untuk mengganti pipa-pipa saluran air yang usianya sudah tua. Bahkan, tak jarang pipa yang ada merupakan bekas peninggalan Belanda.
“Pipa-pipa juga banyak yang rusak dan secara bertahap akan kami ganti dan perbaiki. Sebenarnya, bukan sulit mengubah menjadi air siap minum, tapi investasinya besar,” katanya.
Mantan Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya ini menambahkan perbaikan pipa-pipa saluran air yang rusak secara bertahap sudah dilakukan.
Saat ini beberapa daerah yang air dari PDAM nya keruh itu juga disebabkan adanya proses perbaikan pipa yang tua dan rusak. Perbaikan saluran pipa sendiri membutuhkan biaya cukup besar, setidaknya dalam satu kelurahan investasinya bisa mencapai Rp40 miliar.
Sementara itu, anggota Komisi C DPRD Surabaya, Dedy Prasetya menilai, pelayanan PDAM sepertinya hanya di wilayah pusat kota dan permukiman mewah saja, sedangkan untuk wilayah pinggiran masih diabaikan.
Buktinya, kata dia, hingga sekarang masih banyak warga yang tinggal di pinggiran kota yang mengeluh airnya tidak lancar dan sering mampet. “Bahkan, kalaupun keluar, itu hanya beberapa jam saja,” katanya.
Parahnya lagi, kata dia, kadang-kadang air keluar pada dini hari sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat, terpaksa digunakan untuk mengisi air.
“Pelayanan aliran air itu kan seharusnya 24 jam. Ternyata komitmen itu hanya pada wilayah-wilayah tertentu terutama permukiman mewah. Saya kira, ini harus menjadi perhatian serius bagi PDAM. Jangan sampai masyarakat pinggiran terus-terusan dirugikan,” keluhnya. [gat]

Tags: