Tak Terpengaruh Pandemi Covid-19 Selama Tahun 2020, KSEI Melaju Pesat

Kegiatan KSEI secara virtual

Surabaya,Bhirawa
Pandemi Covid-19 sejak awal triwulan pertama tahun 2020, ternyata tak berpengaruh terhadap pertumbuhan jumlah investor di Indonesia.

Terbukti, dari catatan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), selama tahun 2020 jumlah Single Investor Identification (SID) tumbuh 45,51% menjadi 3.615.019 SID saat Media Ghatering KSEI secara virtual, Rabu (23/12).

Direktur KSEI, Supranoto Prajogo menyampaikan, bahwa berdasarkan data yang tercatat di KSEI per tanggal 30 November 2020, investor pasar modal didominasi oleh 61,11% laki-laki, 50,24% usia di bawah 30 tahun, 53,69% pegawai swasta, 44,09% lulusan sarjana, 58,16% berpenghasilan 10-100 juta/tahun dan 72,12% berdomisili di pulau Jawa.

“Dari sisi jumlah investor, dari akhir tahun 2019 hingga 23 Desember 2020, jumlah Single Investor Identification (SID) tumbuh 45,51% menjadi 3.615.019 SID.”ujarnya, Rabu (23/12/20).

Ia menambahkan, jumlah tersebut merupakan jumlah Single Investor Identification (SID) terkonsolidasi yang terdiri dari investor Saham, Surat Utang, Reksa Dana, Surat Berharga Negara (SBSN) dan Efek lain yang tercatat di KSEI, dengan komposisi 1.547.619 SID yang memiliki aset Saham, 2.905.718 SID memiliki aset Reksadana dan 452.635 SID memiliki aset Surat Berharga Negara.

“52,09% SID melakukan pembukaan rekening melalui Selling Agent Fintech (Financial Technology). Sehingga, platform digital memang menjadi sarana yang banyak dimanfaatkan oleh investor untuk berinvestasi pasar modal.”terang Supranoto Prajogo.

Ia menjelaskan, dukungan infrastruktur digital yang disediakan KSEI untuk pasar modal Indonesia dalam rangka mendukung peningkatan jumlah investor.

Hal ini terlihat dari data demografi investor, kata Supranoto Prajogo, yang semakin didominasi oleh investor milenial dengan jumlah total 73,83% investor berusia di bawah 30 tahun sampai dengan 40 tahun.

Dirinya menerangkan, saat ini KSEI telah menyusun 30 program kerja, dimana 9 diantaranya merupakan program strategis, salah satunya adalah rencana pengembangan alternatif penyimpanan Dana Nasabah pada Sub Rekening Efek (SRE) untuk instrumen Efek Bersifat Ekuitas dan Efek Bersifat Utang dan Investor Fund Unit Account (IFUA) untuk instrumen Reksa Dana.

Program ini bertujuan untuk memberikan alternatif tempat penyimpanan dana dalam rangka penyelesaian transaksi di pasar modal.

Suprapto kembali mengatakan, program strategis KSEI lainnya adalah Information Hub yang meliputi pengembangan validasi data investor, baik dengan Ditjen Dukcapil terkait Nomor Induk Kependudukan (NIK), Direktorat Jenderal Pajak (DJP) terkait dengan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN) untuk investor diaspora serta pengembangan SRE Syariah dalam rangka mendukung Roadmap Pengembangan Pasar Modal Syariah.

“Terdapat juga tiga rencana strategis yang baru dari KSEI yaitu Optimaliasi Sub Registry KSEI, Securities Crowd Funding dan Pengembangan Layanan SRE Syariah.”ungkapnya.(ma)

Tags: