Tanggung Jawab Sekolah Memuliakan Manusia

Judul Buku : Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia
Penulis : Haidar Bagir
Penerbit : PT Mizan Publika
Tahun Terbit : Cetakan 1, September 2019
Tebal Buku : 212 Halaman
ISBN : 978-602-441-135-0
Peresensi : Ahmad Fawa’id
Mahasiswa Instika. Aktif di Komunitas Persi, Iksabad, IPJ Lubangsa.
Tujuan setiap upaya pendidikan adalah memanusiakan manusia (hal 34). Manusia berbeda dengan benda mati. Manusia berbeda dengan hewan, jin, dan malaikat. Mesin yang hari ini seakan paling canggih toh tetap bukan manusia, dan bagaimanapun tidak akan pernah mampu mengungguli derajat manusia. Kata Plutarch, “pikiran bukanlah bejana untuk diisi, tapi api untuk dinyalakan”. Manusia sebagai pemilik pikiran tidak baik jikalau dalam proses pendidikannya diisi dengan begitu banyak pelajaran, ajaran, materi, dan arahan sehingga tak ubahnya robot yang dicas dan diremote supaya dapat hidup dan bergerak sesuai kontrol dari guru.
Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan formal seharusnya memiliki sistem dan konsep yang bertujuan memanusiakan manusia. Saya sebenarnya agak sependapat dengan orang-orang yang mengatakan bahwa “sekolah itu pembodohan”. Karena memang realita membuktikan bahwa sistem dan praktik pendidikan yang dipakai oleh sekolah saat ini justru semakin jauh dari visi atau tujuan pendidikan itu sendiri. Sekolah tidak mampu mencerdaskan manusia. Yang terjadi kebanyakan, siswa dianggap sebagai celengan kosong yang terus diisi oleh guru dengan materi-materi pelajaran yang bahkan malah tak banyak bermakna bagi kebutuhan siswa. Siswa cuma diajari berbagai macam ilmu pengetahuan, bukan dididik supaya menjadi manusia yang sejati. Sebagai akibat, siswa merasa bahwa belajar itu membosankan, melelahkan, dan tidak ada gunanya.
Dari segi kecerdasan saja—sebagaimana disampaikan oleh Haidar Bagir di dalam buku ini—manusia memiliki tiga aspek kemampuan, yaitu IQ, EQ, dan SQ. IQ (intelligence quotient) mencakup hal-hal yang bersifat intelektualitas. Kecerdasan ini mengarah pada kemampuan memori verbal, penalaran verbal, penalaran numerik, dan apresiasi terhadap urut-urutan logis. Sederhananya, IQ adalah kecerdasan otak di bidang matematika (hitung-hitungan pasti), linguistik (kebahasaan), dan hafalan. Biasanya, kualitas kemampuan ini diperoleh sejak lahir. Sebagian besar orang memiliki IQ rata-rata, dan hanya sedikit yang ber-IQ tinggi atau rendah. Hanya saja kemudian manusia dapat mengasahnya menjadi lebih tajam melalui latihan-latihan.
Adapun EQ lebih menyentuh terhadap pengaturan emosional manusia. EQ (emotional quotient) mencakup dua hal. Pertama, kemampuan mengolah emosi sehingga mendukung munculnya sikap-sikap positif seseorang dalam menghadapi situasi seperti apapun. Kedua, kemampuan untuk memahami emosi orang lain sehingga mampu bersikap sesuai dengan yang diharapkan orang tersebut atau empati (hal 77). Kecerdasan bagian ini terkait dengan perasaan dan bersifat praktis. Seakan hendak menjawab pertanyaan : bagaimana bisa mengetahui?; adalah bisa paham bahwa saat ini saya bahagia atau tidak bahagia, atau senang atau tidak senang.
Sedangkan SQ (spiritual quotient) berarti kecerdasan spiritual. Kalau ditinjau dari segi agama, kemampuan aspek SQ adalah dimensi keruhanian manusia sedang terkuak sehingga bisa bersahabat dengan hidup atau dengan Tuhan dalam kondisi apapun. Ringkasnya, SQ memuat jawaban tentang: mengapa bisa mengetahui?; adalah alasan kenapa seseorang bisa bahagia sekalipun alam justru tidak bersahabat. Ya mungkin, “karena” Tuhan sudah menjadi sahabat terbaiknya. Tuhan sebagai sumber segala kebaikan.
Dan sistem—lebih-lebih praktik—pendidikan menurut Haidar harus mampu mengakomodir ketiga aspek itu tanpa kehilangan salah satunya supaya siswa bisa sempurna jadi manusia.
Puncaknya adalah kebahagiaan. Orang diharuskan belajar dan dididik hingga pada akhirnya supaya hidup bahagia. Manusia baru bisa bahagia apabila dua kebutuhan dirinya terpenuhi; jasmani dan ruhani. Secara jasmani, kebahagiaan manusia meliputi kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu pengetahuan, kemampuan berkreasi, berinovasi serta senantiasa menemukan ide cemerlang dan segar dalam menjalani dan menyelesaikan persoalan hidup.
Sementara, kebutuhan ruhani manusia lebih banyak bersinggungan dengan hati dan moral. Dikatakan terpenuhi ruhaninya apabila jiwanya telah bersih dari penyakit-penyakit hati seperti dendam, dengki, hasud, dusta, munafik, dan lain-lain. Hal itu kemudian akan teraplikasikan ke dalam kehidupan nyata melalui tingkah laku yang sopan, lemah lembut, dan mampu menyelesaikan persoalan hidup dengan bijak. Jadi tidak cukup siswa hanya memiliki intelektualitas yang mumpuni melainkan juga harus mampu mempraktikkannya dalam tindakan nyata. Tak cukup siswa hanya pintar dalam ilmu tetapi juga harus saleh secara ritual dan sosial. Orang baru dikatakan alim ketika segala bentuk keilmuannya tercermin dengan baik melalui moralitas dan budi pekerti yang luhur. Maka orang yang cuma pintar banget tapi ternyata sengaja memukul gurunya—seperti yang telah terjadi kemarin—masih belum bisa disebut terdidik.
Oleh karena itu, sekolah harus mampu mencapai cita-cita tersebut. Sekolah hari ini memang tidak benar namun juga tidak seluruhnya salah. Bahwa terdapat banyak kekurangan dan kesalahan yang mesti diperbaiki memang betul sekali. Sekolah, menurut Haidar, yang gurunya cuma menjadi fasilitator; yang siswanya diajari dan harus paham begitu banyak mata pelajaran; yang menganggap sekolah sebagai semacam bengkel atau tempat magang untuk mempersiapkan orang untuk masuk—dan mencapai keberhasilan—di dunia kerja; yang bahkan siswanya dinilai persis cara menilai dan menguji calon karyawan di dunia kerja, perlu di-upgrade.
Dengan rinci dan tuntas buku ini mengkritik habis sietem, konsep, dan praktik pendidikan sekolah yang sampai hari ini belum mampu mencapai tujuan pendidikan itu sendiri. Namun, sebagai krikitk membangun, Haidar menyertakan solusi tentang bagaimana seharusnya sekolah yang baik dan tepat sasaran. Buku ini perlu dibaca terutama oleh guru, orang tua, dan pemerintah yang menaungi masalah pendidikan. Wallahu a’lam.
———— *** ————–

Tags: