Tangkal Hama Tikus, Pemkab Lumajang Manfaatkan Burung Hantu

Guna menekan  serangan hama Tikus di areal persawahan, sejumlah burung Hantu dilepasliarkan di berbagai kecamatan di Kab Lumajang.

Guna menekan serangan hama Tikus di areal persawahan, sejumlah burung Hantu dilepasliarkan di berbagai kecamatan di Kab Lumajang.

Lumajang, Bhirawa
Banyak cara dilakukan untuk menangkal hama tikus yang menyerang areal pertanian. Pemkab Lumajang mempunyai cara sendiri untuk menangkalnya, yaitu dengan melepasliarkan  burung hantu di berbagai kecamatan.
Bupati Lumajang Dr Sjahrazad Masdar dan Wakil Bupati Lumajang Drs  As’at Malik memimpin langsung  pelepasan  tersebut  untuk kemudian mengerahkan jajaran Dinas Pertanian.  Dengan melepas secara simbolis 10 burung hantu di lahan sawah milik warga.
“Burung hantu ini merupakan salah-satu predator pemakan tikus yang menjadi hama di lahan pertanian milik petani,’’ kata Bupati Dr Sjahrazad Masdar.  Tikus menjadi hama yang menakutkan bagi petani karena bisa berpotensi mengurangi produktivitas hasil panen. Untuk itu, Bupati Lumajang meminta kepada masyarakat untuk tidak membunuh atau memburu burung hantu yang ada. Pasalnya, tindakan itu akan menyebabkan hama tikus akan berkembang karena tidak ada predator yang menekan pertumbuhannya.
“Kalau burung hantu ditembak, diburu, maka dampaknya tikus akan semakin berkembang,’’lanjutnya. Karena, burung hantu ini merupakan predator pemakan hama tikus.
“Dengan keberadaan burung hantu, maka hama Tikus bisa ditangkal,” papar Masdar Bupati.  Wakil Bupati Lumajang As’at Malik menambahkan setiap tahunnya petani mengalami kerugian miliaran rupiah akibat serangan hama tikus ini.  Tahun 2012, menurut Wabup Lumajang, petani kehilangan 1.445.145 kilogram gabah akibat serangan hama tikus.
“Kalau diuangkan, kerugiannya mencapai Rp4,8 miliar,’’jelas As’at Malik. Tahun 2013, petani kehilangan 2.045.460 kilogram gabah dengan kerugian mencapai Rp. 7,1 miliar. “Sedangkan, memasuki bulan ketiga Tahun 2014 atau sampai Bulan Maret ini saja, petani sudah kehilangan 321,7 kilogram gabah dengan kerugian mencapai Rp. 1,2 miliar,’’paparnya. Sampai akhir tahun nanti, jika dikalikan tiga potensi kerugiannya bisa mencapai Rp. 3,6 miliar. Kerugian ini besar, lanjut As’at Malik petani dan masyarakat harus ramah dengan alam tidak membunuh atau memburu predator hama seperti burung Hantu
Wakil Bupai Lumajang Drs As’at Malik mengharapkan upaya melepasliarkan burung Hantu hanya sebagai salah satu ikhtiar.  ‘’ Masih perlu ikhtiar-ikhtiar lainnya,’’ tambahnya. Seperti melaksanakan kewajiban-kewajiban  setiap kali melaksanakan panen atau hasil. ‘’ Ini memang tidak tampak pengaruhnya, namun bisa dirasakan,’’ ungkapnya serius.  Dengan kata lain, ikhtiar yang dilakukan bukan hanya yang bersifat lahir namun juga batin.
Sementara itu, Ir Paiman Kepala Distan Kabupaten Lumajang menyampaikan, bahwa kegiatan pelepas-liaran burung Hantu sebagai predator hma tikus ini merupakan implementasi dari Perda Pertanian Berkelanjutan di Kabupaten Lumajang.
“Dimana, Perda ini tidak hanya memfokuskan pada lahan saja, tapi bagaimana bisa melakukan pola pertanian yang alami,’’jelas Paiman. Artinya, hama tidak hanya digantungkan pembasmiannya dengan pestisida, akan tetapi ada upaya ramah lingkungan dengan kembali kea lam. Yakni, melalui pengembangan predator bagai hama tersebut. Salah-satunya, untuk hama Tikus  dengan menebar  burung hantu ini sebagai predatornya.
Hama tikus, selama ini terus menjadi momok bagi petani di wilayah Kabupaten Lumajang. Pasalnya, hama yang satu ini merupakan pemicu anjloknya potensi produktivitas hasil pertanian, terutama padi yang dikelola oleh para petani di Kota Pisang ini. Petani sendiri sudah berusaha untuk menekan ancaman hama Tikus ini. Seperti melakukan aksi brentg menangkap hama Tikus maupun dengan cara-cara yang lain. Diharapkan dengan upaya melepasliarkan burung Hantui  ini menjadi langkah yang lebih efektif dibandingkan dengan cara-cara sebelumnya.  [yat*]

Tags: