Target PAD Dinas Lingkungan Hidup Kota Probolinggo Meningkat

TWSL kota Probolinggo terus menambah koleksi satwanya.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

Kota Probolinggo, Bhirawa
Target pendapatan asli daerah (PAD) Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo meningkat. Jika tahun kemarin hanya ditarget memperoleh Rp 706 juta, tahun ini diharapkan mampu meraup Rp 922 juta. Hal ini diungkapkan Kepala Bidang Pertamanan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Probolinggo Neli, Rabu 22/1/2020.
Menurutnya, naiknya target PAD ini karena ada tambahan dua jenis retribusi. Yakni, retribusi pemakaman dan retribusi laboratorium. Peningkatan target PAD ini juga ikut mendorong peningkatan target PAD dari beberapa retribusi lain di DLH. Seperti dari tiket masuk Taman Wisata Studi Lingkungan (TWSL).
“TWSL tahun 2019 ditarget Rp 500 juta, realisasinya 113 persen. Tahun 2020 ditarget Rp 550 juta. Kemudian, UPT Pengolahan Sampah dan Limbah yaitu komposting ditarget PAD 2019 Rp 62 juta, pada 2020 naik menjadi Rp 67 juta. Komposting 2019 terealisasi 100,61 persen,” ujar Neli.
Kenaikan target PAD DLH itu juga membuah target PAD di Bidang Penanganan dan Penanggulangan Sampah DLH Kota Probolinggo juga naik. Kepala Bidang Penanganan dan Penanggulangan Sampah DLH Kota Probolinggo Sunjoto mengatakan, target bidangnya PAD 2019 mencapai Rp 144 juta dan terealisasi 102 persen. “Tahun 2020 target PAD naik menjadi Rp 214 juta atau naik sekitar Rp 70 juta,” ujarnya.
Kenaikan yang cukup besar ini berdasarkan perhitungan yang mengacu pada Perwali 60/2017. Dalam Perwali itu disebutkan sampah 20 ton ke atas dikenakan retribusi Rp 5 juta. “Target sampah ini seperti sampah dari PT KTI (Kutai Timber Indonesia). Sampah dari PT KTI diperkirakan mencapai 20 ton, sehingga jika terpenuhi akan ada pendapatan Rp 5 juta dikalikan 12 bulan, sekitar Rp 60 juta,” jelasnya.
Namun, kata Sunjoto, realisasinya pada 2019, sampah dari PT KTI tidak sampai 20 ton. Dalam Perwali tersebut, juga tercantum biaya retribusi bila sampah hanya antara 10-20 ton, dikenakan retribusi Rp 2 juta.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Bagian Hukum, jika jumlah sampah tidak sampai 20 ton bagaimana? Dan, disarankan mengadopsi yang ke bawah, maksudnya (sampah antara) 10-20 ton kena (retribusi) Rp 2 juta,” ujarnya.
Lebih lanjut Neli mengatakan, guna meningkatkan PAD dari TWSL dimana tren pengunjung selalu meningkat di hari-hari libur khususnya di hari raya, natal dan tahun baru. Maka kami terus meningkatkan pelayanan dengan meningkatkan sara dan prasarana, khususnya menambah koleksi satwa untuk menarik pengunjung lebih banyak lagi.
Biasanya 500 sampai 700 pengunjung yang terdiri atas dewasa dan anak-anak. Namun, untuk Nataru tahun ini kita masih hitung berapa penambahannya. Kemungkinan kita samakan seperti tahun sebelumnya, yakni berkisar 1.000 sampai 1.500 tiket, ungkapnya.
Neli memastikan, selama libur Nataru, pihaknya tak akan menaikkan harga tiket. Untuk dewasa tetap Rp 8 ribu dan untuk anak-anak Rp 5 ribu. Itu, sudah sesuai dengan Perda yang ada. Sehingga, untuk harga tiketnya tidak ada kenaikan, bebernya.
Pihak pengelola TWSL sendiri berharap sebelum masuk libur Nataru, koleksi satwa TWSL sudah bertambah. Itu seiring dengan proses mendatangkan 2 ekor singa dari Taman Safari Indonesia (TSI) Prigen yang terus diproses. Untuk mendatangkan 2 ekor singa itu, rencananya dalam waktu dekat ini pihak TSI Cisarua Bogor bakal melihat kondisi kandang yang disiapkan TWSL. Jadi, TSI Prigen itu masih satu manajemen dengan TSI Cisarua. Makanya, kami masih tunggu pihak dari Taman Safari Cisarua Bogor untuk mengecek kondisi kandang yang sudah kita siapkan, lanjutnya.
Pihak TWSL telah menyiapkan kandang lama yang ditempati Siamang untuk singa baru itu. Nantinya, Siamang akan dipindahkan ke kandang yang baru yang tidak jauh dari lokasi awal, tambahnya.(Wap)

Tags: