Target Produksi Cengkeh 12 Ribu Ton

28-cengkeh-rokokPemprov, Bhirawa
Prediksi meningkatnya produksi rokok dari jumlah 340 miliar batang di 2013 menjadi 360 miliar batang di 2014 juga memacu peningkatan produksi cengkeh di Jawa Timur. Jika tahun lalu produksi hanya mencapai 8.000 ton, kini ditarget meningkat menjadi 12.000 ton.
“Secara nasional, produksi cengkeh berkurang. Namun meningkatnya produksi rokok, maka menjadi potensi Jatim untuk meningkatkan produksi cengkeh,” kata Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Ir Moch Samsul Arifien MMA, Selasa (27/5).
Menurutnya, dengan produksi rokok 360 miliar batang, maka kebutuhan cengkeh diperkirakan mencapai 180 ribu ton. Perhitungan itu, kata dia, diasumsikan dengan kebutuhan cengkeh 1/2 gram per batang.
Adanya produksi cengkeh nasional hanya 90 ribu ton per tahun atau separuh dari kebuituhan nasional, maka sisanya masih diperoleh dari impor. “Kalau produksi cengkeh bisa kita tingkatkan, setidaknya mengurangi kuota impor yang masih cukup besar,” tuturnya.
Untuk harga cengkeh, kata Samsul, saat ini masih cukuip tinggi. “Saya perkirakan harga cengkeh tahun ini masih dikisaran Rp 150 ribu per kilogram. Harga tinggi ini karena pasokan sedikit dan kebutuhan cukup tinggi,” ungkapnya.
Harga cengkeh yang tinggi juga ditunjang dari kondisi cuaca yang kurang mendukung sehingga diprediksikan juga berpotensi menurunkan produksi cengkeh nasional. Ketua Asosiasi PetaniĀ  Cengkih Indonesia (APCI), Dahlan Said menuturkan, awal tahun ini harga cengkeh sempat melonjak hingga Rp 170.000 per kg.
Musim puncak panen cengkeh diproyeksi jatuh pada bulan Juli sampai Oktober. Namun Said optimistis harga cengkeh tetap bertengger di harga tinggi. Diperkirakannya produksi tahun ini tak sebanyak tahun 2013 yang mencapai 100.000 ton. Hal itu dipengaruhi anomali cuaca, seperti hujan yang tidak merata serta banyaknya penyakit yang menyerang pohon cengkeh menjadi beberapa faktor yang mengakibatkan produksi cengkeh tidak maksimal.
Dari 400.000 hektare lahan cengkeh potensial, kata dia, hanya sekitar 300.000 hektare yang potensial menghasilkan. Agar harga dapat terjaga, ia mengharap agar impor cengkeh tidak dibuka secara bebas.
Sekretaris APCI, Ketut Budiman Mudara mengatakan, penurunan produksi cengkeh petani kerap dijadikan dalih impor. Terlebih sejak tiga tahun terakhir ada data impor cengkeh maupun produk turunan (saos rokok) sekitar 5.000 ton. “Kami tentu menolak kalau ada impor karena itu akan mengganggu harga di tingkat petani,” tegasnya.
Harga cengkih kering di tingkat petani berkisar Rp 150.000 per kilogram atau dua kali lipat dibanding harga kesepakatan terendah Rp 70.000 per kilogram. Harga tersebut relatif stabil sejak tiga tahun belakangan. Bahkan, gagangnya juga bisa dijual pula Rp 5.000 per kilogram.
Dari total produksi cengkeh nasional per tahun, sebanyak 93% diserap industri rokok. Meski demikian, tidak setiap musim panen semua produksi terserap langsung. Hal ini dikeranakan pola penyerapan tanaman rempah tersebut menyesuaikan dengan ukuran industri. Industri rokok besar memiliki persediaan 2 tahun, menengah 1 tahun dan kecil 6 bulan. [rac]

Rate this article!
Tags: