Tata Kelola Transportasi Mudik Tanpa Air Mata

Wahyu Kuncoro

Oleh :
Wahyu Kuncoro
Penulis adalah Redaktur Opini Harian Bhirawa

Fenomena arus mudik dan arus balik Lebaran menjadi panggung besar untuk menyaksikan bagaimana tata kelola transportasi paling mutakhir di tanah air ini dipraktikkan. Dalam momentum setahun sekali ini, publik juga bisa mnyaksikan bagaimana konsep dan kebijakan transportasi dibuat, sekaligus juga menilai bagaimana budaya dan perilaku bangsa ini saat berada di jalanan.

Ritual mudik Lebaran yang menjadi fenomena khas di tanah air selalu menghadirkan kisah pilu dengan tumpahnya air mata akibat nyawa yang melayang di jalan raya. Ratapan dan kepiluan keluarga yang kehilangan sanak familinya tentu tidak bisa diganti dengan apapun juga. Dan kepiluan itu pun masih terjadi dalam mudik Lebaran tahun 2024 ini. Polisi mencatat sebanyak 317 kejadian kecelakaan selama pelaksanaan Operasi Ketupat 2024 dalam momen lebaran Idul Fitri 1445 H. Dari jumlah tersebut, sudah 43 orang yang menjadi korban meninggal dunia, Kompas (13/4).

Menghargai Nyawa di Jalan Raya
Dalam berlalu lintas, faktor kedisiplinan ialah kunci dan itu harus dilakukan dari hulu hingga hilir. Dari proses perekrutan pengemudi, pemberian surat izin mengemudi, hingga pemeriksaan kondisi kelaikan kendaraan. Pentingnya keselamatan transportasi juga perlu diimbangi keterlibatan dan partisipasi aktif dari pihak-pihak terkait, baik pengguna jasa maupun pemilik dan operator, serta pemerintah sebagai pengatur sistem transportasi.

Kecelakaan di jalan raya bukan semata menghilangkan nyawa, tapi juga merugikan secara ekonomi. Oleh karena itu, penting untuk menekan laju angka ini. Pekerjaan rumah di sektor transportasi tentu bukan semata pada kondisi fisik kendaraan, melainkan pada mentalitas manusianya. Kendaraan, entah itu truk, motor, pesawat, sepeda, hanyalah teknologi yang membantu dalam mobilitas sehari-hari. Kitalah yang mesti bijak serta disiplin merawat dan menggunakannya. Angka kecelakaan lalu lintas yang dirilis setiap tahun, faktor utamanya lantaran kita abai pada hal-hal kecil semacam ini, termasuk dalam mematuhi rambu dan marka jalan.

Salah satu hal yang kerap dilupakan adalah, dalam tiap kecelakaan kerap ada potensi pemiskinan. Jadi, jangan meninggal sia-sia saat arus mudik maupun balik Lebaran. Apalagi, bila korban adalah mereka yang masih produktif. Kematian di jalan raya atau di moda transportasi manapun dengan begitu tidak hanya menyebabkan air mata tertumpah tetapi juga menimbulkan beban ekonomi yang tidak ringan. Dengan begitu, pemudik, aparat, dan kita semua harus serius dalam memastikan keselamatan selama dalam perjalanan.

Keselamatan berkendara di negeri ini seperti kurang dihargai. Lihat saja di jalan raya, masih banyak orang mengendarai motor tanpa memakai helm. Padahal, benda itu jelas-jelas berguna melindungi kepala dari benturan seandainya terjadi kecelakaan. Begitu juga dengan anak-anak dan remaja yang belum cukup umur yang dibiarkan bebas mengemudi tanpa surat izin. Padahal, semua itu ada ketentuannya dalam Undang-Undang Lalu Lintas. Budaya tertib lalu lintas menjadi barang langka di Republik ini. Celakanya, hal-hal semacam ini kerap kali diabaikan, dianggap sepele.

Contohnya kecelakaan beruntun yang terjadi di Gerbang Tol Halim, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Kecelakaan yang melibatkan sejumlah kendaraan itu diduga dipicu oleh pengemudi truk yang ugal-ugalan. Truk yang dikemudikan oleh sopir yang baru berusia 18 tahun dan tidak memiliki SIM itu menyenggol sebuah kendaraan terlebih dahulu sebelum menyeruduk sejumlah kendaraan lain yang sedang antre di gerbang tol. Meski tidak sampai merenggut nyawa, insiden ini amat membahayakan dan murni karena kelalaian manusia. Kita tentu tidak ingin kecelakan semacam itu terulang, terlebih lagi di musim mudik Lebaran.

Pemerintah telah menyiapkan armada angkutan mudik melalui jalur darat, laut, dan udara. Tujuannya agar semua warga yang hendak bersilaturahim ke kampung halaman dapat terlayani dengan aman dan nyaman. Karena itu, bukan hanya infrastruktur dan modifikasi rekayasa lalu lintas pada masa mudik yang perlu disiapkan. Justru yang mesti terus diingatkan ialah kehati-hatian dalam pelaksanaan di lapangan. Ramp check kendaraan, misalnya, jangan sekadar formalitas dan dilakukan asal-asalan.

Begitu pula soal kapasitas untuk angkutan laut maupun barang, harus betul-betul sesuai dengan ketentuan. Bahkan, kondisi dan kelengkapan sekrup atau baut pun mesti betul-betul diperhatikan. Hal-hal seperti itu mungkin dianggap kecil dan sepele, tapi bisa berakibat fatal jika diabaikan.

Tata Kelola Transportasi Lebaran
Sektor transportasi menjadi sektor paling sibuk pada penyelenggaraan mudik Idulfitri 1445 Hijriah. Animo masyarakat melakukan perjalanan mudik yang sangat tinggi ini tentu harus dibarengi dengan kerja keras untuk menjamin keselamatan layanan transportasi mudik. Dalam mengupayakan penyelenggaraan layanan transportasi yang aman dan selamat, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sesungguhnya sudah menetapkan sejumlah persyaratan yang perlu dipenuhi para pemudik. Selain itu, manajemen lalu lintas yang baik serta pengawasan pasca mudik hingga arus balik menjadi kunci terseleggaranya mudik Lebaran 2024 yang baik.

Sesuai slogan (tagline) Angkutan Lebaran Tahun 2024 yakni “Mudik Ceria, Penuh Makna”, Kemenhub memiliki komitmen dapat tercapainya angkutan Lebaran yang selamat, aman, dan nyaman sehingga terwujud mudik yang ceria dan penuh cerita bermakna. Dengan infrastruktur yang sudah terbangun serta adanya kerjasama antar kementerian/lembaga, maka diharapkan akan terbangun mudik yang selamat, aman, dan nyaman sehingga tercapai pula mudik yang ceria dan penuh makna.

Berbagai langkah telah dilakukan Kemenhub untuk meningkatkan keselamatan bertransportasi. Salah satunya adalah dengan terus mengintensifkan koordinasi dengan seluruh stakeholder jelang angkutan Lebaran 2024. Koordinasi yang intensif ini dilakukan untuk mengantisipasi perkiraan lonjakan pergerakan masyarakat selama masa Lebaran yang berpotensi mencapai 193,6 juta orang.

Prioritas utama dalam angkutan Lebaran adalah isu keselamatan. Untuk itu, Kemenhub menekankan pentingnya pemeriksaan atau inspeksi keselamatan kendaraan (ramp check) terhadap kendaraan yang akan beroperasi selama angkutan Lebaran. Selain dari Kemenhub, pihak Kepolisian juga tiada henti menggelar ramp check di jalur darat.

Sejalan dengan itu, Menhub tiada lelah mengimbau agar masyarakat tidak menggunakan sepeda motor untuk perjalanan mudik jarak jauh. Pasalnya, resiko kecelakaan sepeda motor untuk jarak jauh sangatlah tinggi. Masyarakat dapat memanfaatkan program mudik gratis yang diselenggarakan oleh Kemenhub, Kepolisian, BUMN atau perusahaan swasta baik di jalur darat, kereta api dan laut. Kesadaraan untuk menghargai diri sendiri dan juga orang lain mesti diutamakan. Selain terkait dengan kesadaran dari setiap individu, kelancaran mobilitas masyarakat ini juga bergantung pada berbagai infrastruktur penunjang, terutama jalan.

Kerja keras yang dilakukan berbagai kalangan dalam menghadirkan mudik yang nyaman dan selamat memang tidak bisa mencegah jatuhnya korban. Nyawa melayang di jalan raya masih saja terjadi. Namun terlepas dari kepiluan dan air mata akibat kecelakaan masih tertumpah, patut juga diapresiasi kerja keras yang berbuah terjadinya penurunan jumlah korban yang jatuh selama arus mudik Lebaran.

Data yang dirilis Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menunjukkan jumlah kecelakaan lalu lintas selama arus mudik dan balik Lebaran 2024 ssampai tulisan ini dibuat mengalami penurunan 15 persen dibanding tahun sebelumnya, yakni dari 2.159 menjadi 1.835 kasus. Korban meninggal juga mengalami penurunan 3 persen, dari 291 menjadi 281 orang. Adapun korban luka berat mengalami kenaikan 13 persen, dari 281 menjadi 317 orang; sementara korban luka ringan turun dari 3.036 menjadi 2.424 orang. Jenis kendaraan yang terlibat kecelakaan didominasi oleh sepeda motor, yakni sebanyak 73 persen. Disusul kendaraan angkut orang atau bus (12 persen), kendaraan angkutan barang (10 persen), mobil pribadi (2 persen), dan lainnya (3 persen). Lima besar angka kecelakaan tertinggi ada di wilayah Polda Jawa Timur, kemudian Polda Jawa Tengah, Polda Metro, Polda Sulawesi Selatan, dan Polda Bali, Kompas (12/4)

Akhirnya, tata kelola angkutan dan transportasi Lebaran sesungguhnya sudah disiapkan sebaik mungkin. Upaya ini dilakukan karena dilatari oleh kesadaran bahwa sejatinya perjalanan mudik adalah ritual sosial dan juga budaya, bukan upacara untuk meregang nyawa. Kesadaran inilah yang terus harus dibangun bersama-sama, karena tidak ada satupun yang rela anggota keluarganya kehilangan nyawa sia-sia di jalan raya.

[***]

Tags: