Tekan Kecurangan, Soal Cadangan UN Diminamilisir

Dindik Jatim, Bhirawa
Acara Ujian Nasional (UN) berlangsung jujur dan tanpa kecurangan, penyelenggara mengantisispasi dengan menekan jumlah soal cadangan. Hanya paket naskah sampul  besar yang akan disertai naskah soal cadangan.
Sesuai Prosedur Operasional Standar (POS) UN 2014, soal UN akan dibagikan dalam tiga jenis sampul naskah. Diantaranya ialah sampul besar yang berisi 20 paket soal, sampul tengah yang berisi 15 paket soal dan paket sampul kecil yang berisi 10 paket soal. Dari tiga jenis sampul naskah tersebut, cadangan soal terdapat satu yang hanya ada di sampul besar.
“Jadi dalam sampul besar isinya ada 21 paket soal. Sementara sampul tengah dan kecil tidak ada cadangannya,” tutur Kasie Kurikulum Pendidikan Menengah Pertama dan Menegah Atas Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim Eka Ananda saat dihubungi, Selasa (18/3).
Eka menjelaskan, jika dalam sekolah penyelenggara UN terdapat peserta sebanyak 80 siswa, 4 ruang kelas masing-masing akan mendapat 1 sampul besar. Dengan demikian, akan terdapat 4 soal cadangan dalam satu penyelenggara.
Selanjutnya, jika dalam prosesnya terdapat kekurangan atau kerusakan di salah satu ruang ujian sehingga membutuhkan lebih dari 1 soal cadangan, maka pihak pengawas dapat mengambil soal cadangan dari ruang ujian lain.
“Satu soal cadangan bisa digunakan untuk ruang ujian lain. Dengan catatan harus melewati prosedur yang ada,” ungkap dia. Bagaimana jika jumlah peserta dalam satu penyelenggara sebanyak bukan kelipatan 20? Eka mengatakan, misalnya peserta UN dalam satu penyelenggara hanya 23 siswa, maka sampul yang akan diterima sekolah adalah sampul tengah dan sampul kecil.
“Jadi jumlah soal keseluruhan ada 25 paket. Dua diantaranya akan digunakan sebagai cadangan. Eka cadangan yang ada memang tidak terlalu banyak. Prinsipnya adalah mencukupi kebutuhan di satuan pendidikan penyelenggara UN,” ungkap dia.
Agar tidak terjadi masalah, Eka menyarankan agar setiap peserta melakukan kroscek naskah terlebih dahulu sebelum memulai pengerjaannya. Kroscek dilakukan mulai dari jumlah butir soal, fisik, lembar jawaban dan kecacatan lain.
Setelah kroscek dilakukan, peserta bisa mengisi nama dan memisahkan lembar jawaban dari naskah soal. “Jangan dibalik, disobek dulu baru dikroscek. Nanti kalau ada masalah bisa repot,” ungkap dia.
Hal serupa juga diungkapkan Kabid Pendidikan Menengah Kejuruan (Dikmenjur) Dindik Jatim Hudiyono. Menurut dia, naskah soal sengaja diberi sesuai data yang masuk dalam Daftar Nominasi Tetap (DNT). Untuk itu, pihak sekolah juga perlu melakukan verifikasi peserta. “Waktu masih ada beberapa minggu lagi. Kita bisa saling mengecek dari rekapan kabupaten dan data online agar dilaporkan ke provinsi,” ungkap dia. [tam]

Tags: