Temuan Arkeologis Mojokrapak Jombang Diperkirakan Sumur Kuno Era Majapahit

Benda yang diperkirakan sumur kuno era Majapahit yang ditemukan warga Mojokrapak, Tembelang, Jombang beberapa hari yang lalu. (arif yulianto/bhirawa).

Jombang, Bhirawa
Temuan arkeologis yang ada di Dusun Gondang, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang diperkirakan merupakan sebuah sumur kuno peninggalan era Kerajaan Majapahit. Berdasarkan sejumlah material yang juga ditemukan di lokasi penemuan di sawah milik Suhadi (38), warga setempat beberapa waktu lalu itu, Arkeolog Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur (Jatim), Wicaksono Dwi Nugroho menyatakan, benda-benda tersebut memiliki ciri khas Majapahitan.
Sumur kuno yang diperkirakan berasal dari era Majapahit ini kata Wicaksono, memiliki fungsi yang sama dengam sumur yang ada pada masa sekarang.
“Dari temuan penyerta lainnya, diketahui fragmen porcelin mangkuk dari Dinasti Ming abad 14-17 Masehi. Beberapa fragmen tembikar dari wadah jambangan dan kendi. Yang kendi diidentifikasi tembikar halus Majapahitan,” terang Wicaksono lewat sambungan pesan Whats App Telepon Seluler (Ponsel) nya, Jumat malam (27/03).
Data lain yang memperkuat temuan tersebut merupakan peninggalan era Majapahit yakni dari ukuran batu bata yang ada.
“Ukuran sample bata panjang 35 sentimeter, lebar 23 sentimeter, tebal 6 sentimeter mencirikan dimensi bata dari masa Majapahit. Kesimpulan, area tempat ditemukan sumur kuno tersebut pernah ada pemukiman masa Majapahit,” papar dia.
Sementara saat disinggung apa kaitan antara keberadaan sumur kuno itu dengan nama Tembelang, nama kecamatan setempat maupun Prasasti Watu Gilang yang berada sekitar satu Kilometer dari lokasi penemuan, Wicaksono kemudian memberikan beberapa penjelasan, yakni, Prasasti Watu Gilang yang berada di wilayah Tembelang saat ini, belum tentu berkaitan dengan kata Tamlang-nya Mpu Sindok (Mataram Kuno).
“Nama Tambelang yang dikaitkan dengan
Tamlang masa Mpu Sindok itu sendiri masih interpretasi,” tandas dia.
Dia memberikan perbandingan ukuran batu bata era Mpu Sindok dengan era Kerajaan Majapahit. Dari beberapa lokasi penemuan yang ditafsirkan merupakan peninggalan Mpu Sindok, batu batanya memiliki ukuran yang lebih besar dari batu bata yang ada di lokasi temuan Mojokrapak ini.
“Perbandingan dengan hasil ekskavasi Situs Candi Pendem (Kota Batu) yang sementara ini kami tafsirkan sebagai Candi Mananjung yang disebutkan dalam Prasasti Sangguran abad 10 Masehi, berukuran panjang 38 sentimeter, lebar 25 sentimeter, tebal 9-10 sentimeter. Begitu juga dengan perbandingan dengan hasil peninjauan runtuhan candi ke desa Srigading di Kecamatan Lawang (Malang) yang sementara ini saya duga berasal dari masa sindok memiliki panjang 38 sentimeter, lebar 24 sentimeter, dan tebal 8-9 sentimeter,” beber Wicaksono.
Sehingga kata dia, temuan-temuan arkeologis di wilayah Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang belum tentu merupakan benda arkeologis yang berasal dari era Mpu Sindok (Mataram Kuno). Hal ini berarti juga menunjukkan bahwa Prasasti Watu Gilang belum tentu merupakan peninggalan era Mpu Sindok. Prasasti Watu Gilang sendiri berada di Dusun Gilang, Desa Mojokrapak dan berjarak sekitar satu Kilometer dari lokasi temuan sumur kuno.
Dikatakannya, sumur-sumur kuno seperti itu juga ada banyak terdapat di daerah Trowulan, Mojokerto yang merupakan daerah yang banyak memiliki peninggalan-peninggalan arkeologis.
“Bentuk sumur kuno masa Majapahit ada dua, berbentuk bulat lingkaran dan berbentuk kotak. Dari bahan penyusun sumur ada dua jenis, dari bata dan terakota/ tembikar,” ulas dia.
Diberitakan sebelumnya, berjarak sekitar satu kilometer dari Prasasti Watu Gilang yang berada di Dusun Gilang, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, warga Dusun Gondang, Desa Mojokrapak, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang menemukan sebuah benda kuno yang berbentuk sumur di sawah warga setempat.
Benda diduga sumur kuno tersebut terbuat dari batu bata melingkar berukuran tebal 13 sentimeter yang disusun dua lapis. Sumur ini memiliki diameter 105 sentimeter dengan kedalaman sementara sekitar 90 sentimeter.
Suhadi (38), warga setempat yang merupakan pemilik sawah mengatakan, penemuan benda diduga sumur kuno ini terjadi saat dirinya menggali tanah untuk resapan limbah cucian mobil di lokasi tersebut, Rabu (25/03), sekitar pukul 11.00 WIB, kemudian menemukan sejumlah batu bata. Sehingga, batu bata tersebut dinaikkan, dan terlihatlah benda yang menyerupai sumur.
Suhadi menemukan benda diduga merupakan sumur kuno ini setelah menggali tanah disawahnya sedalam satu meter. Selain menemukan benda diduga sumur kuno, ia juga menemukan beberapa benda lainnya.(rif)

Tags: