Tenaga Harian Lepas Medik-Paramedik Wajib Miliki SIP dan SIPP

Kadisnak Provinsi Jatim, Wemmi Niamawati memberi materi dalam pertemuan koordinasi Medik dan Paramedik Veteriner di Jatim, Selasa (25,2) di ruang Bekisar Disnak Jatim. [abednego/bhirawa]

(Tingkatkan Pelayanan Kesehatan Hewan)
Surabaya, Bhirawa.
Dinas Peternakan (Disnak) Provinsi Jawa Timur mengadakan pertemuan koordinasi Medik dan Paramedik Veteriner di Jatim, Selasa (25/2). Kegiatan yang berlangsung di ruang Berkisar Disnak Provinsi Jatim ini dilanjutkan dengan penandatanganan kontrak baru Tenaga Harian Lepas (THL) Medik dan Paramedik Veteriner di Jatim.
Sebanyak 130 orang petugas medik dan paramedik Puskeswan (Pusat Kesehatan Hewan) di 35 Kabupaten/Kota se Jatim hadir dalam pertemuan ini. Dengan klasifikasi 70 orang medik atau dokter hewan, dan 60 orang petugas paramedik.
Kepala Dinas Peternakan (Kadisnak) Provinsi Jatim, Wemmi Niamawati menjelaskan, tugas dari petugas medik dan paramedik ini adalah memberikan pelayanan kesehatan hewan. Mereka juga bertugas dalam penjaminan kesehatan hewan dari ancaman penyakit hewan menular strategis dan zoonosis. Melakukan penjaminan terhadap produk hewan dan melakukan surveilan penyidikan penyakit hewan di wilayah Kecamatan setempat.
“Di 2020 ini petugas medik dan paramedik wajib mempunyai Surat Izin Praktek (SIP) dan Surat Izin Paramedik Pelayanan (SIPP). Itu sesuai dengan Permentan Nomo 3 Tahun 2019 tentang Pelayanan Jasa Medik Veterine,” jelas Wemmi.
Sambung Wemmi, pentingnya SIP dan SIPP ini karena petugas medik dan paramedik terlibat dalam pelayanan-pelayanan untuk meningkatkan populasi dan produksi daripada ternak. Yaitu pelayanan kawin suntik, pelayanan pemeriksaan kebuntingan, pelayanan terhadap gangguan reproduksi daripada ternak. “Selama ini kinerja THL sangat bagus, karena ada program kerja yang kita berikan. Kemudian akan dinilai juga keaktifan daripada para THL di dokter hewan maupun paramedik,” ungkapnya.
Pihaknya berharap dengan penandatanganan kontrak baru ini, THL medik dan paramedik supaya meningkatkan pelayanan kesehatan hewan di wilayahnya masing-masing. Kemudian melakukan koordinasi dengan Kabupaten. Wemmi juga mengapresiasi untuk Puskeswan.
“Alhamdulillah, sampai saat ini sapi potong, sapi perah maupun unggas, ayam petelur Jatim memberikan kontribusi terhadap nasional. Bahkan Jatim masuk urutan pertama kontirbusi terbesar diseluruh Provinsi di Indonesia,” ungkapnya.
Untuk daging sapi di Jatim, lanjut Wemmi, di 2019 sebanyak 1.158.400 kilogram daging didistribusikan antar Provinsi di Indonesia. Sedangkan sebanyak 73.921,20 kilogram daging ayam diekspor ke luar negeri, dan 61.251.510 daging ayam didistribusikan antar Provinsi di Indonesia. Sementara sebanyak 19.921,20 kilogram daging olahan diekspor ke luar negeri dan 5.241.334 didistribusikan antar Provinsi.
“Pencapaian itu terus kita pacu supaya mempunyai daya saing ternak dan produk hewannya berdaya saing dan ekspor. Karena banyak produk hewan di Jatim ini kita bina bersama Kabupaten/Kota. Bahkan sudah ekspor ke berbagai negara dalam bentuk berbagai produk,” pungkasnya.[bed.rac]

Tags: