Tentukan 1 Syawal, BMKG Karangkates Amati Rukyatul Hilal di Pantai Ngeliyep

Petugas LAPAN saat mengamati hilal di Garsu Pandang Pantai Ngeliyep, Kec Donomulyo, Kab Malang, pada tahun lal. [ cahyono/Bhirawa]

Kab Malang, Bhirawa
Menentukan Hari Raya Idul Fitri 1442 Hijriyah atau hari 1 Syawal, maka Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Karangkates, Kabupaten Malang bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Malang akan melakukan pengamatan rukyatul hilal di Gardu Pandang Pantai Ngliyep, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, pada Selasa (11/5).

Menurut, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Karangkates, Kabupaten Malang Ma’muri, Senin (10/5), kepada wartawan, bahwa untuk menentukan hari 1 Syawal, maka dari hasil rapat dengan Kemenag rencana pengamatan rukyatul hilal akan kita laksanakan pada hari Senin 11 Mei 2021. Sedangkan pengamatan hilal tersebut akan kita mulai pada pukul 16.00 WIB hingga waktu maghrib.

“Meski nanti hasil hisab ketinggian hilal masih di bawah ufuk, bahkan minus 4 derajat, namun pengamatan rukyatul hilal tetap dilaksanakan pada tanggal 29 Ramadan,” terangnya.

Sesuai ketentuan, lanjut dia, pengamatan rukyatul hilal dilakukan di tanggal 29 setiap bulan Islam. Sedangkan dari hasil pengamatan rukyatul hilal tidak kelihatan, maka akan dilakukan pada 12 Mei 2021. Sehingga bulan Ramadan digenapkan 30 hari, dan secara otomatis 1 Syawal di hari berikutnya.

Namun, yang mengambil keputusan atas ketetapan 1 Syawal kewengannya Kemenag. Tapi kalau BMKG memiliki tugas pokok dan fungsi (tupoksi)-nya untuk melihat hisab dan melihat hilal saja.

Mamuri menjelaskan, pemilihan lokasi Pantai?Ngeliyep didasari atas pertimbangan rasional. Karena Pantai Ngliyep memiliki pandangan ufuknya lebih luas, dan jika melakukan pengamatan di sebuah gedung terhalang bukit dan lain-lain. Sebab, pengamatan hilal sangat bergantung dengan cuaca, dan jika cuaca cerah akan mempermudah pengamatannya, karena faktor cuaca yang menentukan.

“Tapi ketika langit sedang banyak awan pengamatan hilal menjadi tidak terlihat. Apalagi ini hilalnya kecil sekitar 3 derajat untuk wilayah Malang Raya,” paparnya.

Dia mengatakan, bila saya kiaskan, jika terjadi cuaca buruk saat pengamatan hilal bukanlah sebuah kendala berarti. Meski tidak kelihatan tapi di daerah lain hilal akan kelihatan, karena cuaca di tempat lain juga berbeda. Sedangkan BMKG melakukan pengamatan di 26 titik seluruh Indonesia.

Sedangkan segala indikator penentuan hilal merupakan kewenanangan Kemenag, mulai dari penentuan awal bulan Ramadan dan penentuan 1 Syawal itu ranahnya Kemenag.

“BMKG hanya membantu melakukan pengamatan hilal dan perhitungan hisab, dan pihaknya juga menggunakan teropong. Dan kami berharap pengamatan hilal berbarengan dengan cuaca yang cerah. Karena cuaca yang menentukan titik derajat rukyatul hilal,” tutur dia.

Ma’muri menambahkan, pihaknya nanti juga akan kembali melakukan pengamatan rukyatul hilal secara mandiri pada 12 Mei 2021 mendatang, tanpa melibatkan Kemenag dan tim rukyatul hilal. Sedangkan pengamatan akan kita lakukan di lantai 9 gedung Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang di Kepanjen, dan pengamatan kita lakukan dua kali.

“Hasil hisab ketinggian hilal nanti diatas ufuk pada posisi 5 derajat, dan mudah-mudahan bisa terlihat. Karena hasil data BMKG, hilal yang teramati itu paling rendah dengan tinggi 6 derajat,” pungkasnya. [cyn]

Tags: