Terapi Megawati Akhiri Polemik Risma

megawati-soekarnoputriSurabaya, Bhirawa
Kehadiran Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri di Surabaya untuk menyelesaikan  polemik terkait pengunduran diri Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, dianggap pengamat politik dari Unair Hariadi sudah tepat. Sikap yang diambil oleh Megawati diyakini bisa segera mengakhiri konflik yang sudah menjadi perbincangan nasional itu.
Kehadiran Megawati yang meminta supaya Risma tidak mundur sebagai Wali Kota Surabaya bisa meredakan suasana di lingkungan internal PDIP. Selain itu, pesan Megawati kepada Risma, dianggap Hariadi sebagai sebuah penegasan jika Risma masih menjadi bagian dari PDIP. “Ini bisa dipahami, mengingat PDIP merasa bahwa merekalah yang mengusung Bu Risma dalam Pilwali Surabaya 2010 lalu,”terangnya, Minggu (2/3).
Tidak hanya itu, pernyata Megawati dianggap oleh Hariadi sebagai sikap yang netral. Menurutnya, Megawati sama sekali tidak berpihak kepada siapa-siapa. “Jadi, sudah tepat kalau tidak memihak Bu Risma maupun Pak Wisnu. Kehadiran Megawati terapi untuk akhiri polemik Risma,”ucapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh pengamat politik Umar Solahudin. Umar berpendapat, sikap Megawati sudah cukup tepat untuk meminimalisir munculnya konflik berkelanjutan.
Namun, Umar tidak yakin jika pernyataan Megawati tersebut bisa meredam konflik yang terlanjur muncul antara Risma dan Wisnu. Sebab, Umar menganggap Megawati dalam hal ini hanya bertindak sebagai pemadam kebakaran saja. “Karena akar permasalahan yang sebenarnya masih belum diselesaikan,”ungkapnya.
Salah satu hal yang dipandang Umar sebagai pokok persoalan, adalah pandangan Risma tentang keabsahan pengangkatan Wisnu Sakti sebagai Wakil Wali Kota (Wawali) Surabaya. Hingga saat ini Risma masih belum mencabut pernyataannya tentang kejanggalan pemilihan Wisnu sebagai Wawali Surabaya. “Makanya, saya melihat persoalan ini masih memiliki potensi untuk meledak kembali pada suatu saat nanti,”ucapnya.
Setelah santer dikabarkan Risma pamit mundur ke sejumlah SKPD, Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Sabtu kemarin segera bertolak ke Surabaya untuk memastikan jika Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak akan mundur dari jabatannya. Sejumlah petinggi partai bermoncong putih itu ikut mendampingi ke Surabaya. Sebut saja, Gubernur DKI Jakarta Jokowi, Wakil Sekjen DPP PDIP Hasto Kristianto.
Sesampainya di Bandara Juanda,  mereka langsung menggelar jumpa pers terkait masalah tersebut.
Di hadapan wartawan, Megawati mengatakan jika dirinya telah memberikan masukan kepada Risma untuk tetap berjuang memimpin warga Kota Surabaya. Selain itu Mega juga meminta agar Wisnu membantu kerja Risma sebagai wali kota. Megawati juga meminta  supaya Risma tidak mundur dari jabatannya. “Kalau sudah diterima masyarakat, ya teruskan saja, karena kalau mundur kasihan masyarakat Surabaya,”ucap Megawati.
Begitupula dengan Wisnu Sakti Buana, dianggapnya sebagai anak sendiri. Mengingat sejak ayah Wisnu, Soejipto menjadi Sekjen DPP PDIP, Wisnu sudah ikut ayahnya kemana-mana khususnya dalam acara partai. ”Saudara Wisnu sudah seperti anak saya sendiri saat Pak Tjipto duduk sebagai Sekjen, yang bersangkutan sering datang ke rumah. Jadi saya tahu siapa Wisnu ini,”papar Mega tersenyum.
Dengan selesainya masalah Risma, kini PDIP akan berkonsentrasi untuk memenangkan Pileg 2014 khususnya di wilayah Jawa Timur.
Sebelumnya, PDI Perjuangan Jawa Timur mengaku sudah maksimal untuk menyelesaikan polemik Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Bahkan, PDIP menyayangkan sikap Wali Kota perempuan ini yang tidak hadir ketika Komisi II DPR RI berusaha memfasilitasi untuk menyelesaikan polemik tersebut.
Rupanya, Risma yang mempersoalkan pelantikan Wisnu Sakti Buana sebagai Wakil Wali Kota juga tak kunjung selesai. Hingga, pada Desember lalu Sekjen DPP PDIP Tjahjo Kumolo mendatangi Risma dan Wisnu. Bahkan Megawati seminggu lalu memanggil keduanya dan diyakini sudah selesai secara internal.
Hasto sendiri menegaskan jika PDIP tetap akan mendukung Risma sebagai Wali Kota Surabaya. Pernyataan itu sekaligus mempertegas jika isu dan masalah mundurnya Risma dianggap selesai setelah Risma bertemu langsung Megawati di Jakarta pada 23 Februari 2014.
DPP PDIP juga menegaskan sikapnya untuk tetap memberikan dukungan sepenuhnya kepada kepemimpinan Risma dan Wisnu. Penetapan Wisnu selain telah melalui tahapan yang sesuai ketentuan UU, juga ditetapkan oleh DPP PDIP sebagai partai pengusung pasangan Risma pada Pilkada 2010 lalu.
”Dan yang perlu ditegaskan di sini persoalan mundurnya Wali Kota Surabaya telah selesai secara secara musyawarah, serta Bu Risma siap melaksanakan arahan Ketum untuk tidak mengundurkan diri. Adapun tugas Pak Wisnu sebagai wawali membantu wali kota dan melaksanakan seluruh garis kebijakan dan keputusan yang diambil wali kota,”tegasnya. [cty]

SURVEI FISIP UNIVERSITAS BRAWIJAYA TENTANG WALI KOTA SURABAYA
(Objek 250 warga yang tersebar di 31 kecamatan di Surabaya)
Hal                                                                                               Persentase
Warga inginkan Risma tak mundur dan lebih bijaksana                      32,9%
Warga inginkan Risma tak mundur dan melek politik                          24,6%
Warga inginkan Risma tak mundur dan fokus bekerja                         21,2%
Warga inginkan Risma mundur dan menjadi Kadis Kebersihan       7,8%

Rate this article!
Tags: