Terapkan Mandiri Belajar, SMEKDOR Bekali Kompetensi Tenaga Pendidik

Bukik Setiawan paparkan skema kurikulum Merdeka Belajar kepada guru SMK Dr Soetomo Surabaya

Surabaya, Bhirawa
Kemdikbud Ristek membebaskan sekolah menerapkan Kurikulum Merdeka. Terbatasnya SMK yang ditunjuk sebagai Pusat Keunggulan (PK), tak sedikit SMK-SMK yang memilih Mandiri Belajar untuk bisa menerapkan Kurikulum Merdeka ini. Salah satunya SMK Dr Soetomo Surabaya (SMEKDORS).

Kepala SMEKDORS, Juliantono mengungkapkan, dipilihnya mandiri belajar karena Kurikulum Merdeka diwajibkan oleh Kemdikbud Ristek. Sebagai salah satu persiapan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka ini adalah menyiapkan pemahaman para tenaga pendidik sebelum implementasi dijalankan.

“Rencananya akan mulai kami terapkan pada tahun ajaran 2022/2023 bisa diterapkan di bulan Juni,” ujar dia usai Workshop Implementasi Merdeka Belajar, Selasa (24/5).

Dijelaskan pria yang akrab disapa abah Anton ini, dalam kurikulum mandiri belajar, ada banyak perubahan yang disiapkan sekolah. Salah satunya istilah kompetensi keahlian dirubah menjadi konsentrasi keahlian.

“Pada kurikulum ini juga membutuhkan kemampuan guru dalam mengajar. Terutama untuk pembelajaran yang berbentuk project based learning,” jelasnya.

Perubahan lainnya yakni penyesuaian jurusan yang dimiliki sekolah lebih dikerucutkan dan lebih terintegrasi dengan industri. Kemudian, jam mengajar yang berbeda karena ada profil pelajar Pancasila. Seperti dirubahnya jurusan Multimedia jadi Produksi Siaran dan Televisi.

“Pertimbangan kita merubah jurusan ini karena kita dari SMEKDOR punya branding swa-TV yang mengelola penyiaran live streaming jadi lebih mempermudah dari segi fasilitas dan tenaga guru,” jelasnya.

Sementara itu, menurut Pengamat Pendidikan Bukik Setiawan orientasi kurikulum merdeka ini berbeda dengan kurikulum 2013. Pada penerapannya, kurikulum merdeka orientasinya pada siswa. Maka ada beberapa konsekuensi yang harus disiapkan sekolah.

“Yang pertama bagi guru harus siap memahami kompetensi murid dari hasil assesmen analisis yang dilakukan. Kemudian, kemampuan guru merancang pembelajaran sesuai kemampuan murid, dan terakhir membuat pembelajaran relevan dengan kehidupan nyata melalui project based learning,” jabarnya.

Dengan penerapan kurikulum merdeka ini, lanjut dia, sekolah memiliki keuntungan karena assesment nasional dilakukan secara merata. Tidak hanya diukur pada satu jalur saja, melalui UN.

Ia juga menyebut perbedaan lain adalah materi yang tidak langsung dengan dunia kerja dipangkas hingga 30 persen. Sehingga ada akomodasi proses belajar yang lebih relevan.

“Ada pemetaan ulang kebutuhan produksi dan lebih relevan. Selama ini pendidikannya dikejar setoran kriteria keketatan KKM, semua orang tergopoh-gopoh mengejar nilai setinggi mengabaikan kompetensi nyata. Dengan MBKM dan asesmen ini lebih fair bagi sekolah dan siswa karena sesuai dengan kompetensi siswa dan menggambarkan sekolah secara utuh,” pungkas dia. [ina]

Tags: