Terkena Razia Satpol PP Situbondo, Empat PSK Dikirim ke Panti Rehabilitasi Kediri

Maharani Arkizatul Mamluah, Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP saat mendata sejumlah PSK. [sawawi/bhirawa]

Situbondo, Bhirawa.
Jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Situbondo, kembali berhasil menjaring empat pekerja seks komersial (PSK) yang kedapatan mangkal di warung remang-remang di Desa Kotakan, Kecamatan Situbondo, Kamis (21/9).

Empat PSK tersebut berinisial, PR (32) warga Kabupaten Jember; YDN (37) warga Kabupaten Jember; IM (43) warga Kabupaten Situbondo dan KPW (37) warga Kabupaten Bondowoso. Keempat PSK tersebut dijaring oleh petugas Satpol PP Situbondo karena melanggar Peraturan Daerah (Perda) Nomor 27 Tahun 2004 tentang larangan pelacuran.

Menurut Kepala Satpol-PP Kabupaten Situbondo Sopan Efendi, melalui Maharani Arkizatul Mamluah, Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat mengatakan, petugas Satpol PP akan terus melakukan razia di eks lokalisasi, warung remang-remang dan beberapa tempat lain yang diduga menjadi tempat prostitusi. Mereka yang terjaring razia akan ditindak tegas sesuai dengan aturan yang berlaku dan di kirim ke panti rehabilitasi di Kediri.

“Sebelumnya mereka di kirim ke Panti Rehabilitasi Kediri, di test HIV/Aids terlebih dahulu oleh petugas Dinas Kesehatan Situbondo. Kemudian oleh Dinas Sosial Kabupaten Situbondo mereka dikirim ke Panti Rehabilitasi Kediri. Selama berada di panti tersebut, mereka akan di beri Keterampilan usaha mandiri,” jelas Maharani.

Masih kata Rani, panggilan akrabnya, mereka mengaku bekerja sebagai PSK karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi dan untuk menghidupi anak serta keluarganya. “Setiap kena razia para PSK selalu mengaku karena alasan ekonomi sehingga mereka terpaksa terjun menjajakan diri,” terang Rani.

Sementara itu, dari pengakuan PR (32) dan YDN (37) warga asal Kabupaten Jember mengatakan, dirinya menjadi wanita penghibur bagi laki-laki hidung belang karena terpaksa demi membayar hutang dan menghidupi anak serta orang tuanya. “Saya terpaksa bekerja seperti ini, karena terlilit hutang dan harus menanggung biaya hidup orang tua,” aku PR.

Informasi yang berhasil dihimpun Bhirawa menyebutkan, meski berkali-kali dilakukan razia oleh petugas Satpol PP, namun para PSK yang mangkal di eks lokalisasi dan warung remang-remang itu tak pernah jera. Hal ini terbukti, setiap kali dirazia, ada PSK yang terjaring oleh petugas Satpol PP Kabupaten Situbondo. (awi.gat)

Tags: