Tiada Haji Tahun 2020

Indonesia secara resmi tidak memberangkatkan jamaah calon haji (JCH) tahun ini, seluruhnya dialihkan pada tahun 2021. Untuk pertama kalinya sejak beberapa abad (sejak abad ke-15), kafilah calon haji Indonesia tidak diberangkatkan. Walau sebenarnya, kawasan al-haramain (dua kota suci, Makkah, dan Madinah), telah mulai “new normal.” Tetapi pembukaan al-Haramain tidak cukup waktu (terlambat) untuk pengurusan pemberangkatan ibadah haji.

Sampai awal Juni (2020), pemerintah Kerajaan Saudi Arabia (KSA) belum membuka akses layanan penyelenggaraan ibadah haji tahun 1441 Hijriyah (2020). Sesuai protokol WHO (World Health Organization) untuk perjalanan luar negeri, diperlukan karantina 2 kali (masing-masing 14 hari). Yakni, pada kota embarkasi (keberangkatan), serta pada kota tujuan (di sekitar Madinah). Sedangkan kepastian pemberangkatan, memerlukan persiapan layanan dan perlindungan.

Persiapan terutama berkait akomodasi, khususnya pemondokan (dan katering), serta penerbangan (rute Indonesia – Arab Saudi, pergi dan pulang). Akomodasi selama di Arab Saudi, juga terbagi dalam dua tempat, Makkah dan Madinah. Khusus di Makkah, selain pemondokan, juga diperlukan tenda besar untuk pelaksanaan Wukuf di padang Arafah. Namun persiapan paling penting, berkait keamanan dan keselamatan JCHI selama di Arab Saudi.

Aspek keselamatan jiwa, menjadi syarat utama “kewajiban” haji, selain syarat mampu secara finansial, dan kekuatan fisik. Berdasar ajaran agama, ibadah haji menjadi “tidak wajib,” manakala keselamatan dan keamanan jiwa tidak terjamin. Ancaman terhadap keselamatan jiwa, bukan sekadar ancaman tindak kriminalitas. Melainkan juga ancaman wabah penyakit. Dalam sejarah ke-haji-an, beberapa kali ibadah haji tidak diselenggarakan, karena wabah penyakit.

Ka’bah pernah ditutup karena epidemi, dan wabah kolera, sehingga ibadah haji ditiadakan. Antaralain berturut-turut tahun 1837 hingga tahun 1840. Berlanjut lagi pada tahun 1846, karena wabah penyakit yang sama. Serta berulang terjadi pada tahun 1850, 1865, dan tahun 1883. Persis pada musim haji 1892 terjadi wabah kolera. Juga wabah typus tahun 1895. Kolera menjadi penyebab pembatalan haji yang paling sering mengancam.

Indonesia secara lex specialist, memiliki payung hukum ibadah haji. Yakni Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Haji dan Umrah. Di dalamnya diamanatkan kewajiban negara (pemerintah). Secara khusus disebutkan pembinaan aspek kesehatan. Dalam pasal 32 ayat (2), dinyatakan, “Menteri bertanggung jawab terhadap pembinaan kesehatan Jemaah Haji sebelum, selama, dan setelah melaksanakan Ibadah Haji.”

Jadwal kloter pertama CJHI (direncanakan) berangkat sekitar 40 hari sebelum puncak ibadah haji (Wukuf di padang Arafah). Berdasar perkiraan awal, seharusnya, pada 26 Juni 2020, kloter pertama sudah diberangkatkan. Namun dengan mempertimbangkan protokol pencegahan wabah pandemi CoViD-19, sudah harus berada di Madinah pada 12 Juni 2020. Kedatangan lebih awal ini untuk menjalani masa karantina di Arab Saudi.

Padahal, sebelum berangkat, JCHI juga harus dipastikan telah menjalani karantina di asrama haji selama 14 hari, di kota embarkasi. Berarti, JCHI sudah harus masuk asrama haji pada tanggal 28 Mei 2020. Ironisnya, sampai awal Juni 2020 belum diperoleh kepastian dari pemerintah KSA. Sehingga “mustahil” memberangkatkan calon haji tahun 1441 Hijriyah, dengan syarat utama protokol CoViD-19, berlapis-lapis.

Peniadaan haji Indonesia tertuang dalam Kepmenag RI Nomor 494 tahun 2020 tentang Pembatalan Keberangkatan Jamaah Haji tahun 1441 Hijriyah. Diakui sebagai keputusan yang sangat sulit. Karena tidak terjadi selama pemerintah mengurus ke-haji-an. Walau pemerintah telah berpengalaman mengurus persiapan ibadah, lebih dari 60 tahun musim haji. Namun musibah pandemi global, wajib direspons sesuai akidah agama.

——— 000 ———

Rate this article!
Tiada Haji Tahun 2020,5 / 5 ( 1votes )
Tags: