Tiga Desa Ancam Gugat Class Action PT SI

1156122-aci--pt-semen-gresik-berupaya-meningkatkan-kapasitas-produksi-620X310Gresik, Bhirawa
Warga tiga desa, yaitu Ngargosari, Gulomantung dan Kembangan Kec Kebomas yang tergabung dalam GAPRAKKAD (Gerakan Aliansi Penyelamat Aset Kabupatean, Kelurahan dan Desa) mengancam ajukan gugatan class action atau gugatan perwakilan kepada PT Semen Indonesia (PT SI). Gugatan diajukan karena perusahaan memproduksi semen itu dinilai menyerobot tanah GG (Goberment Grond) seluas 7,5 ha milik warga.
Selain itu, mereka juga meminta pihak PT SI bertanggungjawab atas dugaan pengerusakan jalan desa. GAPRAKKD menilai pengerusakan jalan yang dilakukan PT SI saat menggali (penambangan) merupakan kejahatan lingkungan. Maka GAPRAKKD akan ajukan gugatan class action ke PN (Pengadilan Negari) Gresik tembusan ke PT (Pengadilan Tinggi) Jatim.
”Berdasarkan UU jika ada kejahatan lingkungan berupa pengerusakan lingkungan, seperti  pengerusakan jalan desa yang dilakukan PT SI dan pihak-pihak terkait lakukan pembiaran, maka warga berhak lakukan gugatan class action,” kata koordinator GAPRAKKD, Ahmad Effendy, Jumat  (20/6) lalu.
Sehingga tiga warga desa itu sepakat menuntut PT SI atas kerusakan jalan desa akibat digunakan aktivitas penggalian kemudian dilakukan pematokan. ”Itu bentuk kejahatan lingkungan. Makanya, kami ajukan gugatan class action,” jelasnya.
Saat mengajukan class action, warga juga akan mengajukan sita jaminan ke pengadilan agar aset-aset PT SI disita. Aset-aset itu bisa berupa gedung atau aset lainnya. Itu sebagai bentuk kompensasi atas kerugian yang diderita warga akibat pengerusakan yang dilakukan PT SI.
”Kenapa saya katakan tindakan PT SI itu merupakan bentuk kejahatan lingkungan. Sebab, Semen setelah mengedel-edel (merusak) jalan, kemudian dipatok sehingga tidak bisa digunakan aktivitas warga. Apa itu bukan merupakan bentuk kejahatan,” tukas Effendy dengan nada tanya.
Dalam gugatan itu juga menuntut PT SI agar bertanggungjawab atas perusakan jalan, warga juga mendesak agar pengadilan nanti juga meminta PT SI mengembalikan tanah GG warga seluas  7,5 hektar  yang diduga diserobot. ”Tanah itu tanah kami. Kami memiliki buktinya,” ungkap.
Effendy memastikan PT SI tak memiliki data, baik berupa sertifikat atau lainnya, kalau tanah GG seluas 7,5 hektar yang telah rusak karena ditambang itu adalah miliknya. Karena pihaknya  sudah mengecek ke BPN (Badan Pertanahan Nasional)  kalau tak memiliki sertifikat tanah itu. ”Sangat tak mungkin tanah GG muncul sertifikat,” jelasnya..
Sementara Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia, Agung Wiharta mengatakan, jika warga Ngargosari, Gulomantung, Klangonan dan Kembangan mengajukan gugatan class action karena merasa jalan desanya dirusak dan tanah GG seluas 7,5 hektar diserobot PT SI menurutnya itu jalan yang terbaik. ”Itu jalan yang  terbaik, biar nanti pengadilan yang  memutuskan. Saya rasa itu cara yang baik, yang legal,” kata Agung kepada wartawan. [eri]

Tags: