Tingkatkan Kualitas Guru, SMATAG Gelar in House Training

Pelaksanaan interview PPDB online di Smatag dengan menggunakan video conference.

Gandeng DSI Untag, Kembangkan Platform Learning Intellegent
Surabaya, Bhirawa
Tingkatkan kualitas guru dalam pembelajaran daring, SMA 17 Agustus 1945 (SMATAG) menggelar Program In House Training (IHS). Dalam pelatihan ini, sebanyak 50 guru mengasah kompetensi untuk membuat konten pembelajaran yang bisa menjadi peluang bagi siswa.
Kepala SMATAG, Prehantoro menuturkan malalui kegiatan in house training, para guru difokuskan pada bagaimana melaksanakan sistem digital untuk pembelajaran SMA. Mau tidak mau, dimasa pandemi, pihaknya harus memyuguhkan pembelajaran yang berkualitas melalui penguatan kompetensi sistem digital (IT).
“Jadi nanti, para guru akan membuat konten lebih positif untuk pembelajaran sehingga siswa bisa kreatif dalam pemanfataan konten-konten agar bisa lebih produktif selama pembelajaran jarak jauh,” ujar dia, Rabu (11/11).
Prehantoro juga menyisipkan materi pengembangan kreatifitas dalam mapel IT. seperti pengembangan kewirausahaan.
“Misalnya guru sejarah, dalam konten nya mengusung pembuatan topeng ini kan seni, siswa bisa membuatnya dan bisa jadi peluang usaha. Begitupun guru mapel wirausaha membuat konten seputar pengolahan bahan-bahan makanan. Seperti keripik, atau olahan lele dan belut,” katanya.
Rencananya, kurikulum tersebut akan diterapkan di semester depan. Sehingga ada inovasi dari sekolah melalui guru untuk pengembangan life skill.
“Kita sudah koordinasi dengan yayasan dan komite akan mengikuti aturan dari pemerintah. Akhir Desember kita tetapkan akhir pjj (pembelajsran jarak jauh). Januari kita mulai ujicoba tatap muka. Namun tetap mengikuti atutan dari pemerintah,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Direktorat Sistem Informasi YPTA Supangat, menambahkan dalam pelatihan in house training di SMATAG, pihaknya menekankan pada penggunaan platform learning intelligent untuk mempermudah guru dalam membuat konten kreatif. Guru cukup mengakses platform di elearning.
“Dalam platform ini guru akan lebih leluasa dalam menyiapkan konten pembelajaran. Yang semula guru hanya terbatas 1 bab materi saja, melalui platform learning intelligent mereka bebas menyampaikan berbagai materi,” jawabnya.
Perbedaan lainnya, partisipasi siswa kurang tampak dalam platform yang sudah ada. Sementara di platform learning intelligent, siswa bisa mengabsen kehadirannya secara mandiri, bukan guru.
“Jadi guru hanya menyampaikan materi, nanti sistem yang mengelompokkan tingkat pemahaman siswa dari yang kurang, sedang dan respon cepat dalam menerima pembelajaran. Jadi nanti guru akan fokus ke yang kurang,” jelasnya.
Kendati begitu, platform learning ini , menurut Supangat masih jarang digunakan oleh sekolah. Karena
Kebutuhan rekrutmen managemen sekolah belum memisahkan antara unsur pendukung, teknologi dan human resource.
“Jadi tadi diarahkan untuk tenaganya dipisahkan. Sehingga guru bisa lebih fokus dalam pembuatan konten pembelajaran. Jadi guru tidak repot masalah administrasi,” jabarnya.
Karenanya, sebelum menerapkam platform tersebut, Supangat menekankan jika pihaknya ingin menyamakan presepsi tentang platform yang mengarah ke learning intelegen. [ina]

Tags: