Tipping Fee Sampah Benowo Kembali Disoal

Tipping Fee Sampah BenowoDPRD Surabaya,Bhirawa
Masalah tipping fee Pemkot Surabaya kepada PT Sumber Organik (SO) sebagai investor TPA Benowo kembali disoal Dewan. Kali ini yang mempertanyakan pembayaran tipping fee pengelolaan sampah itu adalah legislator dengan basis pengalaman bisnis, Vincensius wakil rakyat asal Partai nasdem.
Sebagai anggota legeslatif yang berlatar belakang pebisnis, Awey menganggap bahwa kerjasamanya terkesan aneh bahkan mencurigakan karena Pemkot Surabaya justru harus mengeluarkan dana APBD secara rutin dalam jumlah besar setiap tahunnya, yakni 5 miliar rupiah.
Untuk diketahui, usulan Pemkot Surabaya terkait anggaran untuk pembayaran PT SO sebagai konsekuensi kerjasamanya dibidang pengolahan sampah memang sempat mendapatkan penolakan dari sejumlah anggota Komisi C periode sebelumnya, namun entah karena apa, anggaran itu akhirnya lolos juga.
Ungkapan anggota dewan baru asal Partai Nasdem yang mengatakan bahwa kerjasama Pemkot Surabaya dengan PT SO soal pengolahan sampah di TPA Benowo justru tidak membawa dampak positip terhadap PAD memang sangat beralasan.
Pasalnya, proyek investasi dengan kontrak 20 tahun justru terkesan menggerogoti dana APBD Kota Surabaya dalam jumlah yang besar setiap tahunnya, sementara impactnya masih belum dirasakan oleh masyarakat kota Surabaya.
“Pemkot kan sudah bekerja sama dengan PT. SO selama 20 tahun untuk mengelolah sampah itu menjadi gas. Tapi kenapa kok tidak investor yang investasi ke pemkot. Justru malah pemerintah kota yang harus membayar Rp 5 milyar setiap bulanya,” katanya.
Dalam rapat hearing Komisi C dengan Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Surabaya, Awey sapaan akrab Vinsensius menuturkan, sebenarnya kerja sama yang dilakukan oleh pemkot dengan PT. Sumber Organik menurutnya bagus. Namun pembayaran untuk pengelolaan sampah tidak harus sebesar itu. Sebab, jika pembayaran dilakukan rata – rata sebesar Rp 5 Milyar, hal itu membuat anggaran APBD tahun 2015 tentunya  menjadi meningkat.
“Sebenarnya suatu bentuk kerja sama ini bagus.  Tapi saya tegaskan sekali lagi, kalau bisa kenapa tidak PT. Sumber Organik saja yang melakukan inves ke pemerintah kota Surabaya saja. Itu kan nantinya bisa lebih menguntungkan pemerintah untuk pemasukan kas daerah,” kritiknya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) kota Surabaya, Chalid Bukhori mengungkapkan, besarnya anggaran RAPBD untuk tahun 2015 tersebut memang berdasarkan meningkatnya sampah pada tahun 2014 yang per harinya mencapai 1400 ton perhari. Sehingga, hal ini memicu besarnya jumlah anggaran.
“Memang anggarannya sebesar itu untuk biaya operasional sehari-hari sebagai pengelolaan sampah serta untuk membayar kepada investor PT. Sumber Organik tersebut. Karena kami memang bekerja sama dengan PT. SO. Meningkatnya sampah khususnya di Surabaya yang sangat signifikan,” jawabnya. [gat]

Tags: