Tol Tarif Mahal

Foto Ilustrasi

Tol Surabaya-Mojokerto (Sumo) sampai Kertosono, sudah diresmikan, namun nyaris tidak diminati armada angkutan barang. Seluruh ruas juga telah menggunakan e-tol untuk mempercepat bukapalang tol pada pintu masuk dan keluar.Jalan tanpa hambatan itu diharapkan mengurangi antrean (kepadatan) di jalan nasional. Tetapi tujuan tak tercapai, karena tarif tol terasa sangat mahal. Armada angkutan barang lebih memilih lewat “bawah.”
Sangat jarang truk melaju di jalan tol Sumo sampai Jombang barat. Tariftol untuk golongan V, biaya tol Surabaya-Kertosono, mencapai Rp 224 ribu. Meski waktu tempuh bagai melesat,namunbiaya yang harus dikeluarkan sangat mahal. Tarif terlalu tinggi untuk usaha distribusi. Tidak menguntungkan pengusaha. Tarif tol yang terasa mencekik ini banyak dikeluhkan masyarakat. Sampai Gubernur Jawa Timur, Pakde Karwo, menggagas revisi tarif tol Sumo.
Masih terbuka peluang merevisi tarif, agar tujuan pembangunan jalan tol tercapai. Yakni, mengurangi kepadatan di jalan negara, dan mempercepat distribusi. Sehingga ke-ekonomi-an transportasi semakin terjamin. Juga menjadi daya tarik (nilai kompetitif) investasi. Sebab, jalan lintas tengah (Surabaya-Ngawi-Solo) merupakan jalur paling kuna perekonomian trans-Jawa. Itu dibuktikan dengan moda transportasi darat lain (kereta-api) dengan lima jadwal perjalanan.
Jalan lintas tengah, bagai jalur budaya perekonomian yang sakral. Selain lalulintas transportasi darat yang selalu ramai, moda transportasi udara, selalu sangat padat. Penerbangan Surabaya-Solo, dan Surabaya-Yogya, memiliki banyak jadwal, selalu full-seat. Maka jalan tol Surabaya-Kertosono-Ngawi-Solo, seharusnya “laris manis.” Namun harus dengan tarif tol yang sesuai dengan ke-ekonomi-an yang pantas.
Tarif tol, niscaya dikalkulasi dengan investasi dan durasi kerjasama operasional antara pemerintah dengan badan usaha. Tetapi harus dipertimbangkan pula faktor intensitas occupationrate (tingkat rata-rata kesibukan)penggunaan jalan. Manakala laris manis, durasi bisa tercapai lebih cepat. Selanjutnya,pemerintah bisa petik keuntungan lebih cepat. Boleh jadi, tarif tol mahal disebabkan perkiraan occupation rate yang di-estimasi rendah.
Harus diakui, occupation rate, merupakan faktor ke-akan-an yang sulit diduga. Seperti pemasukan pajak tahunan. Namun setiap proyek jalan tol, niscaya telah memiliki studi kelayakan. Termasuk kesibukan lalulintas mobil pribadi, angkutan penumpang (travel) dan angkutan barang.Fakta (dan data) kesibukan lalulintas dapat dijadikan patokan occupation rata-rata harian dan bulanan. Dus, mudah dihitung dengan menentukan durasi kerjasama, untuk menentukan tarif tol yang tidak mencekik.
Diresmikan presiden Jokowi (jelang akhir tahun 2017), tol Sumo sampai Jombang ujung barat, seharusnya menjadi kebanggaan. Melintas jalan sepanjang 77 kilometer dengan waktu tempuh 50 menit, merupakan “mimpi” masyarakat Jawa Timur. Saat ini, dengan kepadatan normal jarak tempuhnya sekitar 2 jam. Dalam keadaan macet (pada akhir pekan) bisa lebih dari 3,5 jam. Sehingga jalan tol, seharusnya menjadi pilihan utama.
Problem tarif tol mahal, mesti diurai. Dimulai dari penjejakan harga lahan sebagai investasi utama. harus diakui, pembangunan jalan tol sering terkendala harga lahan yang akan dibebaskan. Per-calo-an sering mengecoh pemilik (asal) lahan hanya dengan memberi uang panjar. Seperti terjadi pada alan tol Sumo, ruas Waru-Sepanjang (seksi 1A, bagian dari tol Sumo). Walau hanya 1.890 meter, tapi penyelesaiannya butuh waktu 5 tahun.
Jargon, “tidak ada pabrik yang mencetak lahan,” patut diantisipasi. Pemerintah (bersama DPR), seyogianya memperbaiki peraturan terkait pembebasan lahan. Terutama, pembebasan lahan milik negara untuk kepentingan nasional, wajib menjadi prioritas. Begitu pula pembelian lahan milik masyarakat, seyogianya dihindarkan dari percaloan untuk mengurangi beban investasi.

——— 000 ———

Rate this article!
Tol Tarif Mahal,5 / 5 ( 1votes )
Tags: