TPBB Razia, Apel Asal Amerika Diturunkan

Petugas menunjukkan buah apel impor dari Amerika yang dicurigai berbakteri saat melakukan razia di sebuah tempat perbelanjaan di Kota Madiun, Rabu (28/1).

Petugas menunjukkan buah apel impor dari Amerika yang dicurigai berbakteri saat melakukan razia di sebuah tempat perbelanjaan di Kota Madiun, Rabu (28/1).

Pemprov, Bhirawa
Tim Pengawasan Barang Beredar (TPBB) Jatim langsung bergerak cepat setelah Kementerian Perdagangan mengumumkan larangan perdagangan dua jenis apel yang diimpor dari Bidart Bros, Bakersfield, California, Amerika Serikat. Apel yang biasa dijual dengan merek Granny’s Best dan Big B ini diduga terkena bakteri Listeria Monocytogenes yang menyebabkan gangguan kesehatan bagi manusia yang terinfeksi.
Tim telah razia ke beberapa lokasi yang ditengarai masih menjual buah apel impor jenis Granny Smith dan Gala asal California.
Kepala Dinas Pertanian Jatim Dr Ir Wibowo Eko Putro MMT melalui Inspektor/Kasubag TU UPT Pengawasan dan Sertifikasi Hasil Pertanian, Ir Dasih Tri Nurdiastuti MMA mengatakan, tim sudah bergerak ke beberapa pasar buah, toko dan supermarket besar, juga supplier penjualan buah.
Di antaranya seperti di Hero dan Lottemart di Sidoarjo, Hokky Graha Family, Superindo Wadungasri, Foodmart Sutos, Hipermart Ciwo, Ranch Market Basuki Rahmat, Hero TP, Hokky Bambu Runcing, Supplier Laris Manis Utama Margomulyo, Supplier Aneka Buah Utama Tanjungsari, dan Carrefour.
“Kalau kami lihat di gudang importir, nampaknya stok barang sudah habis dan yang beredar di supermarket saat ini merupakan stok lama. Jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Ketika sidak, ada apel Washington, namun ketika dilihat dokumennya dari Packing House California, untuk  mengantisipasi semuanya diturunkan dan dilakukan uji lab.  Hasil lab baru akan diketahui dalam tiga atau empat hari,” paparnya, Rabu (28/1).
Di Kota Madiun, menyikapi imbauan dari Kementerian Perdagangan agar masyarakat mewaspadai dua apel impor asal California, petugas gabungan dari Satpol PP dan Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pariwisata (Disperindagta) Kota Madiun melakukan razia ke sejumlah kios buah dan pusat perbelanjaan. Mereka  menemukan lebih dari satu kuintal buah apel jenis Granny’s Smith dan  Gala masih dijual di pasaran.
Ketua Harian Dewan Hortikultura Nasional Benny Kusbini mengakui bahwa apel yang terkontaminasi bakteri asal AS  jenis Gala masih dijual bebas di supermarket dan pasar tradisional.
Lebih lanjut dia menjabarkan apel jenis Gala tersebut memiliki ciri berwarna merah dan renyah ketika digigit. “Apel yang warnanya merah dan renyah itu Gala. Itu banyak beredar di supermarket, bahkan dijual di pinggir jalan juga,” sebutnya.
Pihaknya berpendapat seharusnya importir apel tersebut harus bertanggung jawab dengan kasus tersebut, dan jangan membohongi publik. “Apel yang terindikasi bakteri itu harus dimusnahkan. Jangan sampai pikirkan rugi. Jangan bohongin publik. Bisa saja nanti labelnya diganti,” kata dia.
Lebih lanjut dia mengatakan kejadian ini bisa menjadi momentum untuk pemerintah tidak mudah percaya pada barang impor dari negara-negara besar. “Kan sudah jelas apel bakteri, dan sudah jelas juga Kemendag menyetop impornya. Momentum untuk kita akhirnya tidak selamanya produksi negara-negara maju berkualitas,” pungkas Benny.

Momentum Buah Lokal
Sejak adanya larangan impor dua jenis apel asal Amerika tersebut, bisa menajdi momentum pemerintah  lebih mendorong masyarakat untuk mengonsumsi buah lokal. Begitupula dengan petani apel yang memang memerlukan regulasi agar mereka bersemangat menanam apel lokal.
Selama ini serbuan buah impor,  membuat petani apel mengalami penurunan produksi. Sebab, masyarakat lebih suka mengonsumsi buah impor dibandingkan buah lokal.
“Pandangan seperti ini seharusnya harus diubah bersama-sama melalui kerjasama dan koordinasi berbagai pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat itu sendiri. Sebenarnya, di Jawa Timur seperti apel Batu tidak kalah bagusnya dengan apel impor. Bahkan, apel lokal lebih baik dan sehat karena saat ini sudah menggunakan pupuk organik,” kata Kepala Bidang Holtikultura Distan Jatim Ir Sita Ratih Purwandari.
Dikatakannya, dalam menjual apel lokal seperti apel Batu, seharusnya Pemkot Batu lebih mempromosikan minat konsumsi apel tidak hanya dilihat dari sisi rasa dan kerenyahan saja. Tapi, mereka bisa mempromosikan dari sisi kesehatan. “Cara promosinya juga pengaruh. Intinya jadikan buah lokal menjadi lebih bergengsi dan tak kalah menariknya dengan buah impor,” katanya.
Di sisi lain, lanjutnya, petani apel harus tetap mempertahankan dan meningkatkan kualitas apelnya sehingga aman dikonsumsi masyarakat. [rac]

Tags: