Tuai Kecaman, Pemerintah Persilakan Masyarakat Migrasi ke Elpiji 3 Kg

Aktivitas salah satu pangkalan gas elpiji di Surabaya, Senin (5/1). Kenaikan harga elpiji 12 kg  bakal memicu migrasi pembelian gas elpiji 3 kg.

Aktivitas salah satu pangkalan gas elpiji di Surabaya, Senin (5/1). Kenaikan harga elpiji 12 kg bakal memicu migrasi pembelian gas elpiji 3 kg.

Jakarta, Bhirawa
Kenaikan harga gas elpiji 12 kg secara diam-diam menuai kecaman dari banyak kalangan. Sayangnya pemerintah tetap pada keputusannya untuk menaikkan harga gas elpiji. Pemerintah bahkan meminta masyarakat yang tidak mampu dapat beralih menggunakan elpiji 3 kg. Hal ini dikarenakan elpiji 12 kg bukan sasaran yang disubsidi.
“Elpiji 12 kg kan bukan sasaran subsidi. Orang yang mampu bayar lebih baik pakai 12 kg. Yang tidak mampu bisa  pindah ke 3 kg sebab elpiji 3 kg yang disubsidi,” ungkap Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil, Senin (5/1).
Kenaikan elpiji tersebut dikatakan Sofyan dapat membuat masyarakat yang kurang mampu untuk beralih ke elpiji yang disubsidi. Namun, ada kesulitan tersendiri jika subsidi ditetapkan pada suatu barang. “Komoditas ini kan agak sulit. Di sinilah kelemahannya kalau kita menyubsidi produk,” tambah Sofyan.
Sebab, dengan subsidi elpiji 3 kg dapat terjadi peralihan pemakaian elpiji bahkan oleh masyarakat yang mampu. Sehingga pemberian subsidi pada barang menjadi kurang tepat sasaran. “Perlu dipikirkan berikutnya, jangan karena Pertamina naikkan 12 kg, orang beralih ke 3 kg. Karena bukan bertujuan untuk konsumen yang mampu membayar 12 kg,” tambah dia.
Untuk diketahui, PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga gas elpiji non subsidi 12 kg sebesar Rp 1.500 per kg atau menjadi Rp 9.069 per kg dari Rp 7.569 per kg mulai 2 Januari pukul 00.00. Alasannya untuk menekan kerugian Pertamina dalam penjualan gas elpiji 12 kg yang mencapai Rp 5 triliun. Dengan begitu, harga gas elpiji non subsidi 12 kg menjadi Rp 134.700 per tabung. Kenaikan harga gas elpiji 12 kg disesalkan masyarakat  termasuk  warga di Surabaya. Apalagi, tidak ada pemberitahuan terlebih dulu.
Salah satu pengguna elpiji non subsidi, Iin ( 32) mengaku kecewa dengan keputusan Pertamina. “Kecewa sih, nggak ada pemberitahuan dulu. Lagian harga elpiji juga baru saja naik,” ujar warga Jl Cipunegara itu
Karena harga gas elpiji 12 kg semakin mahal, Iin menegaskan bakal beralih menggunakan elpiji 3 kg. Dia bisa memberi beberapa tabung gas 3 kg untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. “Harga gas elpiji 3 kg kan Rp 18.000 per tabung. Jadi saya lebih memilih keluarin Rp 72.000 untuk 4 tabung (3 kg) dan itu setara gas elpiji 12 kg dibandingkan langsung beli 12 kg yang harganya hampir Rp 135-140 ribu,” kata dia.
Direktur Marketing and Trading PT Pertamina (Persero) Ahmad Bambang menyebutkan kerugian bisnis gas BUMN energi ini dapat berkurang 100 juta dollar AS selama satu tahun dengan catatan harga gas dunia tetap stabil dengan menaikkan harga elpiji.
“Paling-paling baru sekitar 50 juta dollar AS kalau enam bulan ke depan. Kalau harga dunia stabil, maka kita bisa mengurangi kerugian sebesar 100 juta dollar AS selama satu tahun,” kata Ahmad melalui pesan singkatnya.
Ahmad menuturkan, jumlah kerugian bisnis gas Pertamina sampai November 2014 sekitar 340 juta dollar AS, sedangkan sampai akhir tahun mencapai sekitar 350 juta dollar AS. Dia melanjutkan, alasan kenaikan gas elpiji 12 kg ini bersamaan dengan pengumuman penerapan subsidi tetap terhadap solar dan peniadaan subsidi untuk premium. “Itu kan strategi, agar tidak ada pengaruh pada inflasi,” tambahnya.
Menurut Ahmad, dengan kenaikan harga gas elpiji Rp1.500 per kg, diperkirakan Pertamina sudah menelan keuntungan yang cukup. “Insya Allah sudah untung, walau besarnya belum wajar sebagai bisnis. tergantung harga gas dunia. Kita akan evaluasi harganya sesuai harga pasar dunia, bisa turun bisa juga naik,” tutupnya.
Pengamat Energi Universitas Indonesia, Iwa Garniwa menilai kenaikan elpiji 12 kg ini rawan memicu perpindahan konsumen kelas menengah ke elpiji 3 kg. Dengan begitu pemerintah diminta untuk menambah kuota elpiji 3 kg.
“Melihatnya begini, ada konsumen kelas atas, menengah dan bawah. Yang banyak mengggunakan elpiji 12 kg kan menengah. Nah ini yang akan banyak bermigrasi, cuma masalahnya elpiji yang 3 kg ini ada nggak,” tuturnya.
Iwa memprediksikan, jika [emerintah tidak memastikan kuota elpiji 3 kg tercukupi, maka dampaknya harga elpiji 3 kg juga akan turut terkerek naik. “Bisa-bisa harga elpiji 3 kg juga akan naik. Karena demand juga bertambah. Pemerintah tidak bisa mengatur perilaku pasar ini,” pungkasnya.  [cty,geh,ira,ins]

Tags: