Tugas Kita Tinggal Memutus Rantai Virus Corona

Oleh :
Nurudin
Penulis adalah dosen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Beda negara, beda pula penanganan soal penyebaran virus Corona. Ada yang harus me “lockdown” seperti Italia dan China. Ada pula yang dengan sigap serta mendorong sebanyak mungkin warga untuk periksa agar segera bisa tertangani masalahnya. Negara Indonesia tentu berbeda pula dalam penanganan laju Covid-19 karena tergantung kondisi masing-masing negara.
China (awal mula munculnya Covid-19) dan Italia sampai harus melakukan penutupan wilayah untuk menekan penyebaran virus. Di Italia pada pertengahan Maret 2020 ada hampir 4000 kasus baru. Total ada 21.157 kasus (2000 kasus diantaranya sembuh) dan 1.441 kematian. Padahal sebulan sebelumnya tak sampai lima kasus positif Covid-19. Akhirnya, negara penyelenggara Liga Seria A itu menerapkan kebijakan melarang semua warga keluar rumah.
Lain lagi dengan Iran. Saat ini negara tersebut menghadapi 12.730 kasus. Ada sekitar 724 meninggal. Pemerintah akhirnya meliburkan sekolah dan membatasi gerakan warga untuk keluar rumah.
Lain lagi yang dialami Korea Selatan (Korsel). Negara ini sigap melakukann deteksi dini pada warganya. Mereka membuka layanan drive-thru di sejumlah titik di kota-kota yang dicurigai potensial dalam penyebaran virus. Cara ini membuat ribuan warga Korsel diperiksa setiap hari dengan hasil uji diketahui kurang dari 24 jam. Cara ini membuat mereka yang terinfeksi bisa secara diisolasi dan dirawat. Kalau perlu dikarantina.
Korsel memang tidak menerapkan menutup kota dari lalu lintas warganya. Negara itu hanya mendorong kuat sebanyak mungkin warga menjalani tes sehingga segera diketahui apa sudah terjangkit virus Corona atau belum.
China dan Korsel mungkin berbeda cara mengantisipasi virus. Tetapi keduanya punya kesamaan yakni pengujian terhadap sebanyak mungkin orang dan mengurangi secara drastis kegiatan warganya. Pelayanan kesehatan berjalan dengan baik pula. Bahkan ada pembangunan Rumah Sakit (RS) di Wuhan, China sementara saat berada dalam puncak penyebaran virus di negara itu.
Payung Kebijakan
Indonesia sebagai negara besar dengan sistem keamanan dan kesehatan tak sehebat negara lain tentu harus lebih sigap dalam menghadapi virus ini. Kita tidak bisa mengikuti negara seperti Korsel yang memberikan fasilitas memadai pada warganya yang semua biaya ditanggung pemerintahnya. Karena negara gingseng tersebut memang berkepentingan dan punya kewajiban untuk itu. Kita juga tak bisa mengikuti China dengan membangun RS. Tentu saja karena di negara kita virus itu belum menular secara dahsyat. Namun demikian kewaspadaan tetap menjadi prioritas.
Ada yang berkomentar bahwa pemerintah kita lamban dalam mengantisipasi penyebaran virus itu. Ada kurang koordinasi dan komunikasi antar departemen. Presiden juga melihat kurang sigapnya para menteri dalam mengantisipasi penyebaran virus seolah tidak sabar. Baru setelah mendapat tekanan World Heatlh Organization (WHO), pemerintah mengeluarkan kebijakan resmi terkait penekanan penyebaran virus. Ada problem komunikasi dalam lingkar pemerintahan.
Apa yang bisa kita petik dari kasus ini? Pertama, tak ada cara lain kecuali kita bersama-sama menekan penyebaran virus itu. Pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan social distancing yang berusaha untuk menekan penyebaran virus. Tentu ini langkah yang perlu dipatuhi. Hanya langkah ini yang bisa kita lakukan dan berbiaya murah. Mau meniru Korsel tentu susah karena berbiaya tinggi. Sementara negara kita perekonomiannya sedang labil karena ketergantungan pada negara lain sangatlah tinggi.
Kedua, langkah pemerintah dengan meliburkan sekolah layak diapresiasi. Tentu ini keputusan yang sudah dipertimbangkan dengan masak. Masalahnya, persoalan muncul karena kita hidup dalam masyarakat yang memang susah diatur. Saat orang tua bekerja di rumah dan anak-anak libur di rumah ada sebagian yang memanfaatkannya untuk menikmati liburan. Mereka berbondong-bondong pergi ke tempat hiburan, mall dan tempat pariwisata. Seharusnya mereka menjauhi keramaian. Inilah uniknya masyarakat negara kita. Sementara virus itu bisa menyebar dengan cepat. Paham dan melaksanakan anjuran untuk menekan penyebaran virus menjadi langkah bijak. Setidaknya untuk kondisi saat ini.
Ketiga, pemerintah tetap harus memprioritaskan dan menekankan terus-menerus bahayanya penyebaran virus tersebut. Penekanan kegiatan warga dan periksa kesehatan akan menjadi prioritas negara manapun, termasuk Indonesia. Tidak usah membahas masalah ekonomi, pariwisata, apalagi politik. Semua harus bersama-sama menekan penyebaran virus. Baru kemudian setelah Covid-19 tertangani dengan baik, presiden dan menteri-menterinya bisa berpikir soal kebijakan lain.
Bersama-sama Menekan
Pemerintah telah memberikan payung kebijakan. Salah satu payung kebijakannya dengan membatasi kegiatan warga. Kebijakan ini tentu harus diterjemahkan oleh masing-masing kepala daerah. Kepala daerah tidak boleh hanya menunggu instruksi pusat terus menerus. Kepala daerahlah yang tahu persoalan sebenarnya masalah daerahnya sendiri. Entah mau memakai pendekatan dengan penutupan wilayahatau tidak itu diserahkan ke masing-masing daerah. Juga perkara memakai pemersiksaan warganya juga terserah daerah. Karena kepala daerah yang dianggap tahu permasalahan daerahnya.
Sebagai orang yang tinggal di Malang tentu saya mengalami kecemasan yang lebih dibanding daerah lain. Ini jika kita melihat “ulah” warga negara kita yang tidak patuh pada anjuran pemerintah. Lihat bagaimana warga Jakarta berbondong-bondong rekreasi ke Puncak saat beberapa tempat rekreasi di Jakarta ditutup. Malang itu kota termacet ke-3 setelah Jakarta dan Bandung karena potensi wisatanya. Mencemaskan jika warga luar Malang akhirnya rekreasi ke Malang. Kecemasan ini bukan tanpa alasan dengan melihat dari perilaku warga negara Indonesia selama ini.
Jadi jika di Malang, misalnya, diberlakukan larangan dan penutupan wilayah tentu tak lain karena kekhawatiran di atas. Malang daerah unik yang berbeda dengan daerah lainnya. Walikota Malang yang memberikan kebijakan pembatasan wilayah layak diapresiasi. Tentu kita juga mengapresiasi pertimbangan pemerintah pusat yang melarang melakukan pembatasan wilayah. Semoga bukan pesoalan ekonomi dan kepentingan politik saja.
Tak ada cara lain, kita harus bersama-sama menekan penyebaran virus. Sepertinya hanya ini yang bisa kita lakukan saat ini. Cara yang murah dan tak berbiaya mahal. Kita hanya berusaha mengekang dan bersabar untuk membatasi kegiatan di luar karena akan bertemu banyak orang.
———- *** ————-

Tags: