Tukang Becak Kota Probolinggo Berjajar Tunggu Takjil Ramadan

PKL alun-alun kota Probolinggo makin sepi.[wiwit agus pribadi/bhirawa]

(Pandemi Covid-19 Sentra PKL Alun-alun Kian Sepi)
Kota Probolinggo, Bhirawa
Belakangan, di Jalan Raya Panglima Sudirman, mulai rumah dinas Wali kota hingga depan kantor Pemkot Probolinggo, berjajar tukang becak. Bukan menunggu penumpang, melainkan menunggu takjil, sedekah ataupun semacamnya. Sedangkan peedagang kaki lima (PKL) di alun-alun nasipnya juga sepi di saat Ramadan dan pandemi covid 19.
Suadarno salah satu tukang becak mengaku, sejak memasuki bulan suci Ramadan, menjelang sore hingga azan Magrib, puluhan becak berjejer di lokasi tersebut. Tujuannya, bukan mencari peruntungan dengan mengangkut penumpang. Tetapi menunggu pemberian sedekah atau takjil dari pengguna jalan atau pengendara.
“Dari pada di tempat nyanggong sepi, mending pindah di sini. Selain menunggu penumpang, juga menunggu pemberian pengendara,” ujarnya, Sabtu 2/1/5/2020.
Selama ini 5 becak hanya dapat mengangkut atau mengantarkan satu penumpang. Ia mencoba pindah dari tempat nyanggongnya dan berkeliling mencari peruntungan. Namun, apa yang terjadi, bukan penumpang yang didapat, tapi badannya capek. “Saya nyanggong dan keliling dari pagi sampai siang tidak ada penumpang. Sorenya saya ke sini,” katanya.
Jalan keluarnya, seraya membecak, Sudibyo nyambi bekerja serabutan agar dapur tetap mengepul. Sore harinya, ia mengkal di jalan raya Panglima Sudirman menunggu sedekah atau takjil dari pengendara yang lewat di jalan tersebut. “Kadang dapat nasi bungkus. Kadang ada yang kasih beras. Setiap hari ada saja yang ngasih,” ujarnya.
Situasi serupa juga dialami sentra PKL di sisi selatan Alun-alun Kota Probolinggo tampak sepi. Tidak banyak aktivitas warga yang akan membeli makanan untuk kebutuhan berbuka puasa. Sebagian pedagang yang masih berjualan memilih duduk santai di lapaknya. Ada juga yang melayani pembeli yang jumlahnya sangat minim.
Pemandangan ini sangat kontras dibanding Ramadan tahun-tahun sebelumnya. Adanya pandemi Covid-19, membuat semuanya berubah. Pada tahun-tahun sebelumnya, warga rela mengantre, bahkan berjubel untuk mendapatkan makanan di sentra PKL.
Di sentra PKL ini sejatinya sudah disiapkan fasilitas cuci tangan bagi pengunjung yang ingin menikmati makanan di sana. Namun, letaknya cukup jauh, berada di depan pintu selatan alun-alun. Fasilitas ini juga disediakan bagi masyarakat umum yang hendak menjaga kebersihan dan mencegah penularan virus korona. Tetapi, belum mampu mengundang pembeli.
Adanya larangan berkerumun membuat suasana Ramadan tahun ini semakin berbeda. Termasuk nasib para PKL yang selama ini mengais rezeki di sekitar Alun-alun Kota Probolinggo. Pengunjung yang sudah terbatas, juga kerap didatangi anggota Satpol PP untuk membubarkan diri.
Sekarang di sini ada lima orang berkumpul saja bakalan didatangi Satpol PP dan diingatkan untuk membubarkan diri. Padahal, yang kami cari keramaian warga, tapi malah disuruh membubarkan diri. Hal ini diungkapkan Sholah, salah seorang pedagang es degan di Alun-alun Kota Probolinggo.
Ramadan tahun ini menjadi Ramadan yang sangat berbeda. Biasanya, menjelang waktu berbuka puasa, banyak orang yang datang untuk membeli es degan yang menjadi mata pencahariannya sebagai bahan untuk berbuka puasa, tuturnya.
Kini, aktivitas berjualan yang dilakukannya tidak lagi mudah dan menguntungkan. Penjualan menurun, pendapatan pun terbatas. Kristin mengaku, biasanya berjualan sejak siang sekitar pukul 12.00, kini baru berjualan mulai pukul 15.00. “Harapannya, jualan lebih sore sambil menunggu warga yang mau beli buat buka, tapi nyatanya sepi sekali yang beli, kilahnya. Dikatakannya omzetnya sudah jatuh hampir 70 persen dibanding Ramadan tahun lalu.
Kalau setiap hari dapat Rp 100 ribu dalam situasi normal, sekarang ini paling cuma dapat Rp 30 ribu. Itu juga masih dikurangi buat bayar sewa tempat penitipan gerobak dan kendaraan untuk bawa gerobak, jelasnya.
Walaupun sepi, Sholeh mengaku tetap memilih berjualan demi membuat periuknya tetap terisi. Kondisi ini, nyatanya sudah membuat sejumlah PKL memilik beristirahat alias tidak berjualan. Jika biasanya di sentra PKL ini terdapat 20 pedagang, kali ini hanya 10 pedagang yang bertahan. Yang lainnya milih libur karena sepi yang beli, tambahnya.(Wap)

Tags: