Tumbal tumbal ‘Kegagalan’ Jurnalisme

Oleh :
Wahyu Kuncoro SN
Praktisi media dan pengajar jurnalistik. Penulis sedang menyelesaikan Program Doktoral (S3) Ilmu Sosial di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya

Pakar komunikasi Effendi Ghozali (EG), melalui kanal Youtube-nya Refly Harun (RH Channel) membuat pernyataan mengejutkan. Guru besar Ilmu Komunikasi yang telah mengajar jurnalistik selama 20 tahun merasa gagal dan memutuskan untuk meninggalkan profesi sebagai dosen komunikasi dan menanggalkan gelar profesor komunikasi sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas ‘kegagalan’nya menjadi guru jurnalistik di tanah air.

Perasaan gagal tersebut dilatari dari pengalamannya menjadi ‘korban’ praktik jurnalisme yang menurutnya jauh dari nilai nilai yang diajarkannya di bangku kuliah. Kegagalan itu demikian terasa menyesakkan, karena pihak yang harus menanggungnya adalah diri dan keluarganya.

EG yang memilih mengungkapkan sikap di media sosial (baca : youtube) bukan di media massa mainstream bisa jadi juga menjadi isyarat sindiran tentang mulai dijauhinya media massa sebagai sarana penyampaian pesan yang dipercaya. Namun demikin, dalam kanal Youtube tersebut EG juga dengan tegas mengatakan bahwa masih percaya ada media dan pemimpin redaksi di tanah air yang baik.

Sejak pertama kali di-upload di kanal Youtube RH Channel (31/3) atau selama 11 hari sampai tulisan ini dibuat, video pernyataan EG tersebut sudah ditonton sebanyak 317.454 viewer dan dikoment sebanyak 1.623 komentator. Berbagai komentar yang disampaikan netizens, mayoritas menyampaikan respek atas sikap yang diambil EG. Salah satu akun

@December Eiffel misalnya menuliskan “Tidak hanya UI dan Mustopo yang kehilangan sosok pengajar dan pendidik, namun seluruh Indonesia akan kehilangan sosok guru besar ilmu komunikasi dengan integritasnya yang tinggi”. Pada sisi lain komentar yang muncul juga menyorot praktik jurnalisme di tanah air yang dinilai serampangan, seperti yang disampaikan akun

@Reza Ramadan yang menuliskan “iya sebenarnya ingin memberi pelajaran terhadap jurnalis yang tak punya akal sehat dan tanggung jawab. Intinya , wartawan yg menanyakan ke uda Efendi itu harus mundur jadi jurnalis karena tak punya logika”.

Di mata para netizen, sikap yang diambil EG merupakan barang langka yang sulit ditemui di tanah air. Seseorang rela meninggalkan dan menanggalkan jabatan dan kekuasaan demi menjaga integritas dirinya. “Masya Allah, Demi kehormatan dan kebenaran yg diyakini, beliau rela tinggalkan dan tanggalkan keduniaan,” demikian tulis akun @drs Burmawi.

Bahwa sikap yang diambil EG jelas tidak bisa dipisahkan dari keprihatinannya terhadap praktik dan sikap jurnalis berikut produk jurnalisme yang mengkaitkan namanya dengan kasus dugaan korupsi bansos di Kementerian Sosial. Kasusnya kini sedang berjalan dan berproses di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Secara ksatria EG juga menegaskan andai ‘nista’ yang menimpanya itu –memberi rekomendasi UMKM penerima bansos– memang terbukti janganlah dikaitkan dengan institusi Universitas Indonesia (UI) tempat EG mengajar dan Kampus Universitas Prof Moestopo Beragama yang telah menganugerahinya gelar guru besar tetapi biarlah EG sendiri yang menanggungnya.

Menyelamatkan Misi Jurnalisme

Sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi, media massa dituntut untuk objektif. Pembaca atau publik menginginkan kebenaran berita yang ditampilkan dan bebas dari distorsi berbagai pihak.

Menurut Kovach dan Rosenstiel (2003) dalam Sembilan Elemen Jurnalisme, kewajiban pertama jurnalisme adalah pada kebenaran. Mereka mengatakan bahwa prinsip pertama jurnalisme adalah pengejaran akan kebenaran yang tidak berat sebelah adalah yang paling membedakannya dari semua bentuk komunikasi lain. Inilah salah satu keluhan yang diungkap EG terkait objektivitas pemberitaan mengenai dirinya. EG menilai

objektivitas dalam dunia media massa adalah suatu metode yang digunakan untuk menghadirkan suatu gambaran dunia yang sedapat mungkin jujur dan cermat dalam batas-batas praktik jurnalistik.

Shoemaker-Reese (1996) dalam Mediating the Message: Theories of Influences on Mass Media Content menegaskan bahwa pengaruh terhadap isi pemberitaan media oleh faktor internal dan eksternal. Pengaruh ini dibagi ke dalam beberapa level, yaitu individu pekerja media (individual level), rutinitas media (media routines level), organisasi media (organizational level), luar media (extramedia level), dan ideologi (ideology level). Sering kali media senantiasa memilih isu, informasi atau bentuk konten yang lain berdasar standar para pengelola dan pemiliknya (owners). Pemilihan angle, arah dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para profesional media. Disini khalayak “dipilihkan” oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui dan mendapat perhatian.

Media Alat Kepentingan

Dalam perspektif ekonomi politik media, ternyata media tidak bisa netral dan obyektif sebagaimana idealismenya. Media sangat terikat dan dipengaruhi oleh ideologi pemiliknya (owner). Pemilik media ikut serta dalam penetuan angle, arah dan framing dari isi berita yang akan ditampilkan.

Selain pertimbangan ideologi, pertimbangan ekonomis (bisnis) bahkan pertimbangan politik pun ikut serta mewarnai isi berita Maka dari itu, media sangat rentan dijadikan sebagai alat kekuasaan dalam sebuah kepentingan politik.

Gambaran media yang terikat oleh kepentingan ekonomi dan politik mencerminkan bahwa isi media selalu merefleksikan kepentingan pihak tertentu yang membiayai mereka. Ekonomi politik media menjelaskan dan menekankan perhatian lebih banyak pada struktur ekonomi dan ideologis dari pada muatan isi media itu sendiri

Hal yang dilakukan pemilik media dapat terjadi karena media memiliki kekuatan untuk membentuk opini publik. Upaya tersebut dilakukan melalui agenda setting. Dalam teori agenda setting merupakan teori di mana media memiliki kemampuan untuk menentukan agenda masyarakat melalui berita yang disampaikan olehnya. Adapun kekuasaan media dalam menentukan agenda masyarakat bergantung pada hubungan mereka dengan pusat kekuasaan.

Menjaga Kemerdekaan Pers

Menurut Denis McQuail, (2000), Kebebasan media massa atau pers harus diarahkan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan khalayaknya, bukan hanya sekadar untuk membebaskan media massa dan pemiliknya dari kewajiban harapan dan tuntutan masyarakat. Begitu juga berita, sebagai isi media harus berita diarahkan agar dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan khalayaknya, bukan hanya sekadar untuk membebaskan media massa dan pemiliknya dari kewajiban harapan dan tuntutan masyarakat.

Pada dasarnya pers mempunyai kemerdekaan dalam menjalankan profesinya. Untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh, dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Kemerdekaan pers tersebut juga dikatakan dalam Kode Etik Jurnalistik. Kemerdekaan pers adalah sarana masyarakat untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi, guna memenuhi kebutuhan hakiki dan meningkatkan kualitas kehidupan manusia.

Dalam kasus ini, pers mungkin lupa bahwa penyajian berita yang disajikan serampangan akan menyebabkan tumbal tumbal berjatuhan. Kasus yang menimpa EG barangkali akan menjadi tamparan keras bagi praktik jurnalisme di tanah air. Bahwa apabila pers gagal menjalankan misi jurnalismenya, maka akan terus terjadi pihak pihak yang menjadi tumbal jurnalisme di tanah air.

Wallahu’alam Bhis-shawwab

—— *** ——-

Tags: