Tungku Bertuah

Oleh :
Sri Asih

” Abah, tungku ini masih kokoh di tempatnya seperti dulu. Tungku ini akan selalu kokoh sekokoh pendirian Abah Jalali untuk melestarikan Kedai Pesisir ,” ucap Maemunah.

Kedua tangan Maemunah membelai tungku dengan lembut. Bayangan almarhum Abah Jalali dan suaminya seakan hadir di sisinya. Air mata Maemunah mulai mengalir dari bola matanya. Tetes demi tetes air matanya membasahi tungku.

” Abah, tungku ini akan tetap kurawat dan kujaga. Kain lap ini akan selalu menyapu debu di bibir tungku dan bilah kayu ini siap sedia mengeluarkan abu dari perut tungku, ” ucap Maemunah.Maemunah belum beranjak dari tungku. Tangannya masih membersihkan debu yang menempel di bibir tungku..

Tungku Abah merupakan satu-satunya benda berharga yang tersisa dari kejayaan ‘Kedai Pesisir ‘. Maemunah selalu teringat cerita tentang kejayaan Kedai Pesisir.

Dahulu Kedai Pesisir selalu menjadi persinggahan pavorit bagi para saudagar antarpulau dan antarnegara yang singgah di Tanjung Tembikar. Kedai Pesisir di Tanjung Tembikar ini didirikan oleh eyang buyut Wironini. Eyang buyut Wironini adalah seorang janda dengan 3 orang anak.. Suami eyang buyut Wironini bernama Wiroguna.

Sebagai seorang janda, eyang buyut Wironini harus bekerja keras mencari nafkah untuk anak-anaknya.. Eyang buyut Wironini bekerja sebagai juru masak di rumah saudagar Sutojayan. Sutojayan adalah saudagar rempah-rempah kaya raya yang pelit dan kejam.

Di rumah saudagar Sutojayan, eyang buyut Wironini mengenal beraneka macam rempah-rempah. Eyang buyut Wironini berhasil meracik minuman dengan bahan dasar rempah-rempah yang bisa mengahangatkan dan menyehatkan badan. Minuman itu diberi nama ‘ Jamu Kebonagung’.

Tidak tahan dengan perlakuan saudagar Sutojayan, Eyang buyut Wironini berhenti dari pekerjaannya sebagai juru masak di rumah Saudagar Sutojayan. Eyang buyut Wironini ingin menekuni sumber mata pencahariaan baru yaitu meracik minuman jamu kebonagung.

Pada perayaan tradisi petik laut di Pelabuhan Tanjung Tembikar, Eyang buyut Wironini dan ketiga anaknya menjajakan minuman jamu kebonagung. Ternyata, jamu kebonagung laris dan habis terjual.

Atas bantuan saudagar kaya, Eyang buyut Wironini mendirikan ‘Kedai Pesisir’ di Tanjung Tembikar. Kedai Pesisir tidak pernah sepi pengunjung. Dari siang hingga malam para saudagar selalu berdatangan ke Kedai Pesisir ingin minum jamu kebonagung selagi hangat. Mereka rela antre di depan tungku dengan membawa gelas dan botol. Selain sensai kesegaran dan kehangatan, para saudagar memperoleh banyak khasiat dari jamu kebonagung. Batuk, perut kembung, sakit tenggorokan, dan mriang hilang dan tubuh kembali bugar setelah meneguk jamu kebonagung. Semakin lama jamu kebonagung semakin banyak dikenal oleh saudagar-saudagar yang singgah di Tanjung Tembikar.

Sepeninggal eyang buyut Wironini, Kedai Pesisir diwariskan secara turun-temurun. Abah Jalali merupakan pewaris ketiga.

Kedai Pesisir mengalami pasang surut dengan berbagai terpaan dan cobaan. Ketika Maemunah masih kecil, Kedai Pesisir diserbu waraga sekitar. Warga menuduh Abah Jalali memelihara jimat tungku. Setiap ada warga yang meninggal atau celaka pasti dikaitkan dengan tumbal tungku Abah Jalali.

” Tangku itu harus dihancurkan sekarang juga!” teriak warga. Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Maemunah hingga masa tua.

Warga masuk Kedai Pesisir dengan paksa. Mereka langsung menuju tungku dengan membawa linggis, parang dan pentungan kayu. Ketika itu Maemunah sedang menjaga api tungku. Maemunah ketakutan dan bersembunyi di kolong meja.

Dari kolong meja Maemunah menyaksikan keajaiban dan keanehan. Warga yang sudah siaga untuk menghancurkan tungku itu diam tak beraksi. Mereka pergi meninggalkan tungku. Tungku tetap kokoh. dan aroma jamu kebonagung tetap menyebar wangi.

Sebelum meninggal, Abah Jalali mewariskan Kedai Pesisir kepada Maemunah. Maemunah merupakan anak tunggal Abah Jalali. Lagi pula, sejak kecil Maemunah sudah terbiasa ikut meracik dan merebus jamu kebonagung di tungku abahnya.

Terpaan cobaan kembali menimpa kedai pesisir yang dikelola oleh Maemunah. Tetangga yang merasa kalah bersaing dalam berjualan mengadu ke aparat desa bahwa Maemunah melakukan pencemaran lingkungan. Asap tungku Kedai Pesisir mengganggu pernapasan.

” Kedai Pesisir Maemunah harus ditutup. Pokoknya, Kedai Pesisir mulai sekarang tidak boleh berjualan lagi!” teriak warga yang datang bersama aparat desa.. Aparat desa sudah termakan hasutan warga.

Ketiga anak Maemunah menangis ketakutan. Maemunah berdoa dan pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kalau memang kedai sumber mata pencaharian harus tutup, Maemunah hanya pasrah.

Keanehan dan keajaiban datang lagi. Tungku menampilkan aura kecantikannya. Api tungku menyala tanpa asap. Aparat desa tidak melihat ada asap yang mencemari lingkungan. Warga yang menyaksikan merasa malu.dan satu per satu pulang tanpa permisi.

” Sabar, Umi. Kami bertiga akan menjaga Mak dan Kedai Pesisir ini. Kami bertiga akan membantu memasarkan jamu kebonagung,” ucap putra sulung Maemunah.

” Terima kasih, Anak-anakku. Kita saling menguatkan untuk melestarikan jamu kebonagung warisan leluhur kita.

” Umi, kemarin guru saya minta resep jamu kebonagung. Boleh ya, Umi?” tanya putri bungsu Maemunah.

” Boleh, Putri Cantikku. Catat resepnya dan berikan kepada gurumu! Ramuan jamu kebonagung: bahan: 750 gram gula aren, 7 buah rempah cabe,7 buah rempah kembang pala, 75 gram rempah kapulaga, 75 gram rempah keningar, 7 butir merica, 7 butir bunga cengkeh kering. Langakah pembuatan: cuci bersih rempah-rempah, siapkan periuk ukuran sedang, masakkan air ke dalam periuk seukuran lehar periuk, rebus air dan masukkan rempah-rempah, tutuplah periuk rapat, rebus hingga mendidih dan warna air berubah hitam pekat, tunggu hingga aroma harum dan wangi, angkat jamu kebonagung, biarkan jamu kebonagung hingga dingin, kemas jamu kebonagung dalam botol yang bersih.”

” Terima kasih, Umi!”

” Sekarang Kalian istirahat. Umi akan melanjutkan merebus jamu kebonagung.”

” Siap, Umi.”

Maemunah beranjak dari tungku. Ia mengambil kayu untuk menyalakan api tungku. Setelah api tungku menyala, Maemunah meletakkan periuk yang sudah berisi air. dan aneka rempah di atas tungku.

” Abah, Maemunah memohon restumu. Hari ini adalah hari perayaan petik laut. Maemunah akan berusaha mengembalikan kejayaan ‘Kedai Pesisir’ sehingga api tungku peninggalan Abah tetap menyala.”

Tentang Penulis:
Sri Asih
Lahir di Gunungkidul. Sebagai guru dan penulis, Sri Asih aktif dalam berbagai kegiatan literasi, narasumber, motivator, dan sekretaris MGMP Bahasa Indonesia. Beberapa karya cerpen, puisi, geguritan dan artikel penelitiannya telah tersiar di berbagai majalah, surat kabar, dan jurnal tingkat daerah dan nasional. Karyanya dalam bentuk buku berhasil memenangkan lomba tingkat nasional.
Prestasi Sri Asih sebagai guru dan penulis adalah Pemenang pertama sayembara penulisan bahan bacaan SD, Kemendikbud, 2018. Pemenang sayembara penulisan bahan bacaan literasi, Kemendikbud, 2017. Penerima penghargaan sastra Balai Bahasa Jawa Timur, 2015. Juara guru berprestasi tingkat provinsi 2006. Pemenang pavorit lomba menulis cerpen tingkat nasional, 2013,2011. Pemenang lomba Inobel SMP tingkat nasional, 2006, 2009, 2013. Finalis L K G tingkat nasional,2003, 2005, 2007, 2009, 2013. Juara 3 nasional, sayembara penulisan buku, Pusbuk, 2009. Juara 1 lomba karya tulis kesehatan, 2008. Juara 1 nasional, lomba karya tulis perkoperasian, 2007. Juara lomba berpidato Bahasa Jawa, 1989.

———- *** ———-

Rate this article!
Tungku Bertuah,5 / 5 ( 1votes )
Tags: