Tutupi Biaya Operasional, Naikkan Tarif Feri

Kapal feri penyeberangan di surabaya madura.

Kapal feri penyeberangan di surabaya madura.

Surabaya, Bhirawa
Tingginya biaya operasional dan isu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM), membuat pengusaha kapal  feri yang melayani penyeberangan Surabaya-Kamal-Madura berencana menaikkan harga.
Kepala Operasional PT ASDP Indonesia Surabaya, Wildan Jazuli, menjelaskan jika kenaikan tariff terpaksa dilakukan karena untuk menutup biaya operasional feri penyeberangan yang setiap tahun semakin mahal harganya. Pihaknya jika tetap mempertahankan dengan harga yang lama, maka dipastikan setiap pemilik feri akan mengalami kerugian yang cukup besar.
” Dapat dipastikan, tarif penyeberangan Kamal-Tanjung Perak akan naik, seiring dengan naiknya harga BBM. Karena tidak mungkin menutup biaya operasional hanya dengan tarif lama. Tentu pemilik feri bisa gulung tikar, karena harus tekor menutup biaya operasional. Namun untuk kenaikan biaya penyeberangan kami serahkan kepada pemerintah daerah yang akan mengkaji berapa nominal yang cocok bagi semua pihak antara pemilik feri dan penumpang,” ujarnya di Surabaya, Senin (10/11) kemarin.
Ia mengakui, jika nanti tarif penyeberangan memang menjadi naik maka pengguna jasa penyeberangan akan semakin turun. Masyarakat akan banyak terbebani dengan kenaikan yang diprediksikan mengalami kenaikan hingga 15%.
” Dengan kenaikan jumlah penumpang bisa saja mengalami penurunan. Karena ini berdasarkan pengalaman tahun-tahun kemarin. Tapi setelah kenaikan, saya harapkan kondisi normal dapat kembali dan masyarakat dapat memahami bahwa kenaikan tersebut ditujukan untuk kebaikan masyarakat sendiri, saat ini untuk mobil tarif untuk menyeberang masih tetap dengan harga Rp.50.000 kedepannya bisa menjad  Rp.62.500″ ujarnya dengan optimis.
Sementara itu menurut Ketua ALI (Angkutan Logistik Indonesia), Surabaya, Hendrick Wijaya mengutarakan jika tarif tersebut memang mengalami kenaikan pihaknya hanya akan mengikuti mekanisme pasar. “Kita tidak mungkin protes terhadap ASDP, tapi yang bisa kita lakukan memberikan pemahaman kepada konsumen bahwa BBM sudah naik, maka tarif pengiriman akan ikut naik. Bagaimana pun juga, kami selaku perusahaan logistik tetap memerlukan feri penyerbangan guna menunjang kegiatan ekonomi pada pulau-pulau yang ada di Indonesia,” terang pria berkacamata tersebut.
Yang diharapkan oleh ALI terhadap penyeberangan baik antar provinsi maupun antar pulau yang masih satu provinsi, yakni ASDP dapat menambah jumlah armada sehingga dapat mengurangi waktu tunggu yang terbilang cukup lama.
“Maksimum waktu tunggu untuk masuk Feri, maksimum dua jam. Namun ketika keadaan sangat padat, waktu tunggu bisa melebihi dari dua jam. Kapal feri yang memiliki pelayan baik, artinya bisa mengangkut banyak dan waktu kirimnya lebih cepat maka bisa menetapkan harga berbeda dari feri yang bekerja lambat, karena dari ALI sendiri adalah bekerja dengan cepat dan tepat,” tegas pria berusia 53 tahun tersebut. [wil]

Tags: