Ubaya Serahkan Bantuan Dekontaminasi APD ke RSUD Blitar

Tim PPM Ubaya menunjukkan cara kerja dekontaminasi APD selama proses sterilisasi.

Dilengkapi Bilik Desinfektan dan Sinar UV untuk Sterilisasi
Surabaya, Bhirawa
Universitas Surabaya (Ubaya) menyerahkan bantuan perangkat dekontaminasi Alat Pelindung Diri (APD) atau Pakde Alpri yang diberikan Rektor Ubaya, Ir Benny Lianto MMBAT kepada RSUD Ngudi Waluyo Wlingi Kabupaten Blitar, Senin (30/11). Perangkat dekontaminasi APD merupakan rancangan dari Tim PPM yang terdiri dari dosen dan mahasiswa Ubaya.
Menurut Ketua Tim PPM Ubaya, Herman Susanto, Program Pengabdian Kepada Masyarakat ini didukung penuh dan didanai LPPM Ubaya, dalam membantu tenaga medis di RSUD yang minim fasilitas penanganan Covid 19. Hal ini juga merupakan wujud Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Tematik dalam membantu tenaga medis sebagai garda terdepan.
“Kami berusaha untuk memenuhi kebutuhan RS sesuai kondisi riil yang dibutuhkan. Tentunya agar bermanfaat dan dapat digunakan dengan baik oleh tenaga medis,” ungkap dia.
Dijelaskan Herman, perangkat dekontaminasi APD yang dibuat terdiri dari bilik disinfektan (disinfectant chamber) dan lemari UV (Ultra Violet). Tak hanya itu, perangkat dekontaminasi APD buatan Tim PPM Ubaya diakuinya memiliki beberapa keunggulan lain khususnya dalam membantu tenaga medis selama proses sterilisasi dan melepas APD secara mandiri.
“Perancangan dekontaminasi APD telah dipersiapkan selama empat bulan sejak Juni hingga Oktober. Pada awalnya ide pembuatan berasal dari kebutuhan baju hazmat yang masih mengalami kelangkaan di beberapa wilayah. Akhirnya kami merancang lemari UV yang berguna untuk mensterilkan baju hazmat agar fungsinya tidak hanya sekali pakai,” ujar Dosen Program Studi Teknik Mesin dan Manufaktur Ubaya ini.
Herman menjelaskan, cara kerja perangkat dekontaminasi APD dirancang agar lebih efisien dan praktis untuk digunakan tenaga medis. Untuk langkah pertamanya, tenaga medis masuk ke dalam bilik disinfektan dengan menggunakan APD dan berdiri di tengah. Kemudian tunggu hingga kabut disinfektan keluar. Kabut disinfektan akan disemprotkan selama satu menit dan tenaga medis berputar hingga dua kali dengan posisi lengan terangkat.
“Setelah penyemprotan selesai, mereka akan keluar dari bilik dan bisa melepas baju hazmat atau APD secara mandiri. Semua APD akan dicuci dengan fasilitas yang sudah tersedia di rumah sakit kemudian dikeringkan dan menggantungnya pada rak yang telah disediakan,” jabarnya.
Usai dicuci, kata dia, seluruh APD dimasukkan ke dalam lemari UV untuk proses sterilisasi dengan penyinaran menggunakan sinar UVC selama 30 menit. Proses sterilisasi berfungsi untuk menghilangkan semua jenis organisme hidup atau mikroorganisme seperti bakteri atau virus.
“Ada 2 tombol pada lemari UV yaitu tombol on berwarna hijau dan tombol off berwarna merah. Jika indikator lampu menyala berwarna hijau maka proses sterilisasi sedang berjalan. Setelah selesai APD disimpan di ruang penyimpanan dan bisa digunakan tenaga medis untuk bertugas lagi,” tuturnya.
Herman berharap, melalui pengabdian masyarakat ini dapat menginspirasi banyak orang untuk saling peduli satu sama lain sekaligus membantu selama masa pandemi. ”Kami juga berharap alat yang kami buat bisa terus dikembangkan, tidak hanya difungsikan saat Covid 19 saja tetapi dapat digunakan seterusnya untuk sterilisasi APD di RS,” pungkas Herman. [ina]