Ulama Perempuan Madura: Nyai Pesantren dan Pejuang Feminisme

Judul Buku : Ulama Perempuan Madura
Panulis : Hasanatul Jannah
Penerbit : IRCiSoD
Cetakan : Pertama, Oktober 2020
Tebal Buku : 344 Halaman
Peresensi : Slamet Makhsun
Pegiat Literasi di Garawiksa Institute dan alumni dari Pondok Pesantren
Muntasyirul ‘Ulum Jogja

Madura, memiliki beragam khazanah budaya dan kehidupan sosial-politik yang bermuara pada agama Islam. Dalam konstruk sosial religiusitasnya, masyarakat Madura mengedepankan nilai-nilai agama di setiap sendi kehidupannya. Sehingga, ulama bukan hanya memiliki peran dalam bidang keagamaan, lebih jauh dari itu, menjadi sosok penentu kebijakan di hampir semua lini kehidupan masyarakatnya.

Walaupun ulama Madura-kyai-didominasi oleh laki-laki, bukan berarti perempuan tidak memiliki kontribusi dalam ruang keulamaan. Ulama Perempuan Madura, juga berafiliasi dalam organisasi ulama dan berpartisipasi dalam jaringan keulamaannya, semisal dalam NU ada Fatayat dan Muslimat.

Sebenarnya, cukup banyak ulama perempuan Madura, yang dalam hal ini adalah nyai pesantren, memiliki otoritas yang sepadan dengan kyai. Di Kabupaten Sampang misalnya, sosok Nyai Syifak benar-benar diperhitungkan. Selain menjadi pengasuh pondok pesantren, beliau juga menjadi aktivis dakwah sekaligus motor penggerak kesadaran beragama. Secara keilmuan, Nyai Syifak juga ahli dalam ilmu fiqh dan penguasaannya terhadap kitap-kitap klasik. Keberaniannya dalam menyampaikan pendapat dengan tegas dan berbobot kepada masyarakat luas, menjadikannya sebagai sosok panutan dan memiliki banyak jamaah dari perempuan maupun laki-laki.

Atau di tengah-tengah Kabupaten Sumenep, berdiri megah dan luas Pondok Pesantren Aqidah Usymuni. Pesantren tersebut dipimpin langsung oleh Nyai Aqidah sebagai pemimpin pusat. Selain itu, beliau juga merintis organisasi keagamaan, kelompok pengajian keliling, dan juga pemberdayaan ekonomi syariah pada masyarakat sekitar pesantren.

Nyai Syifak juga mendirikan badan ekonomi mandiri pesantren seperti mengelola usaha Batik Madura, minyak wangi, dan lain-lain. Pesantrennya pun memilki jenjang pendidikan formal dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Tidak dibeda-bedakan antara santri laki-laki dan perempuan. Semuanya setara. Maka tak heran, jika pesantrennya mendapat julukan ‘pesantren gender’, karena memiliki visi dan misi menumbuh kembangkan pemberdayaan dan sensitif gender di lingkungan pesantren.

Sejatinya, pergerakan nyai-nyai pesantren dalam ranah publik bisa ditandai sebagai perjuangan dalam meraih kesetaraan gender. Atau, bahasa ilmiahnya feminisme. Nyai pesantren sebagai bagian dari ulama perempuan, berjuang menegakkan kesetaraan dan keadilan gender. Mereka berusaha mengangkat derajat kaum perempuan Muslim Indonesia dengan basis agama, terutama di wilayah pesantren.

Walau demikian, perjuangan mereka tidak berjalan mulus begitu saja, tetapi juga mendapat tantangan dari ulama salaf, tradisionalis, serta kaum fundamentalis yang memang sangat kuat image patriarkinya.

Secara umum, nyai pesantren di Madura, dibedakan menjadi dua. Pertama, Nyai tengnga. Yaitu nyai yang memiliki ruang lingkup yang kecil. Biasanya hanya mengurusi ‘dapur’ pesantren. Kedua, nyai rajheh. Yaitu nyai pesantren yang memiliki otoritas cukup kuat. Dan inilah yang menjadi representasi ulama perempuan Madura. Nyai rajheh memiliki figur sentral di antara nyai-nyai yang lain. Popularitasnya didukung oleh karismanya, geneologinya, serta kekuatan massanya.

Kyai, yang notabenenya sebagai pemimpin sekaligus suami dari nyai pesantren, memiliki beragam pendapat tentang pencapaian ‘otoritas’ nyai pesantren selama ini. Ada yang memandang hal tersebut sebagai sesuatu yang alami, tanpa komando apalagi dipolitisir, semuanya berjalan alamiah. Sementara itu, pendapat yang lain mengatakan bahwa pencapaian otoritas oleh nyai pesantren karena bentukan dari masyarakatnya. Banyak masyarakat yang menuntut nyai pesantren secara geneologis harus keturunan ulama, harus menjaga penampilan, menjaga image, berakhlak baik, dan sebagainya.

Ada juga yang berpendapat bahwa nyai pesantren melakukan hal-hal tersebut bukan tak lain karena ‘panggilan’ dakwah. Tersebab, banyak kyai-kyai yang terjun ke ‘arena’ politik sehingga luput dari tugasnya. Oleh karena itu, nyai pesantren hadir sebagai pengganti kyai untuk meneruskan tugas-tugasnya.

Hasil yang dicapai oleh nyai pesantren Madura adalah bahwa eksistensinya sebagai representasi ulama perempuan menjadi spirit keteguhan dan kemandirian mereka dalam menjalankan peran-peran sosial keagamaan, sekaligus sebagai fenomena agama yang memberikan afirmasi signifikansi dengan kondisi sosial-kultural pada keulamaan perempuan Madura.

Kenyataan tersebut menghasilkan feminis Muslim yang memiliki semangat berkompromi terhadap tradisi lokal. Dalam perspektif feminis Muslim Indonesia, otoritas nyai pesantren Madura merupakan bentuk dari upaya membangun relasi gender dalam dominasi patriarki dengan melakukan langkah-langkah konkret di tingkat lokal, dengan menghindari persinggungan otoritas kyai.

Buku ini berhasil menyingkap fakta-fakta nyai pesantren Madura yang selama ini jarang diketahui. Membeberkan dengan fakta-fakta real, sehingga pembaca bisa mengetahui secara lengkap tentang pola gerakan nyai pesantren Madura.

———– *** ————

Tags: